Setelah penandatanganan Perjanjian Hudaibiyah, kaum Muslimin mendapatkan sedikit ketenangan dari ancaman kaum musyrik Quraisy di Makkah. Dalam suasana damai yang relatif ini, Nabi Muhammad ﷺ memanfaatkan kesempatan emas tersebut untuk memperluas cakrawala dakwah melampaui batas Semenanjung Arab. Beliau mengutus para sahabat pilihan untuk menyampaikan surat kepada para penguasa imperium besar dunia pada masa itu, mengajak mereka untuk memeluk agama Islam dan menyembah Allah Yang Maha Esa.
Latar Belakang Pengiriman Utusan Dakwah
Sebelum peristiwa ini, dakwah Islam lebih banyak terpusat di wilayah Semenanjung Arab, menghadapi berbagai tantangan dari kabilah-kabilah lokal, termasuk konflik seperti yang terjadi dalam Perang Badar dan Perang Uhud. Namun, dengan ditandatanganinya gencatan senjata dengan Quraisy, situasi politik menjadi lebih stabil. Nabi Muhammad ﷺ menyadari bahwa risalah Islam bersifat universal dan rahmat bagi seluruh alam, sehingga pesan tauhid ini harus disampaikan kepada para pemimpin dunia.
Para sahabat pun berkumpul untuk mendengarkan arahan dari Nabi ﷺ. Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Nabi ﷺ membuat cincin dari perak yang akan digunakan sebagai cap resmi untuk mengesahkan surat-surat yang akan dikirimkan kepada para raja. Tanpa cap tersebut, para raja biasanya tidak akan membaca surat dari orang yang belum mereka kenal. Langkah strategis ini menunjukkan kecerdasan dan ketelitian Nabi Muhammad ﷺ dalam menjalankan misi diplomasi kenegaraan yang agung.
Kronologi Peristiwa Pengiriman Surat
Nabi Muhammad ﷺ memilih beberapa sahabat yang memiliki kecerdasan, fasih berbicara, dan berani untuk membawa surat-surat tersebut kepada para penguasa. Di antara para utusan tersebut adalah Dihyah bin Khalifah Al-Kalbi yang diutus kepada kaisar Romawi, Abdullah bin Hudzaifah Al-Sahmi kepada raja Persia, dan Amru bin Al-Ash kepada penguasa Mesir. Perjalanan ini penuh dengan tantangan geografis dan risiko politik yang sangat besar karena mereka harus memasuki wilayah kekuasaan asing yang memiliki kekuatan militer tangguh.
Setibanya di istana para raja, para utusan menyampaikan surat Nabi Muhammad ﷺ dengan penuh percaya diri dan kesopanan. Isi surat tersebut umumnya seruan kepada tauhid, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Quran.
Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah.” Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).”
Qul ya ahlal-kitabi ta’ala ila kalimatin sawa’in bainana wa bainakum alla na’budu illallaha wa la nusyrika bihi syai’an wa la yattakhidza ba’duna ba’dan arbaban min dunillahi fa in tawallau fa qulusyhadu bi anna muslimun.
Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah.” Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).”
Respons dari para penguasa sangat beragam. Ada yang menyambutnya dengan baik seperti Najasyi penguasa Habasyah dan Muqauqis penguasa Mesir yang membalas dengan hadiah sopan. Namun, ada pula yang merobek surat Nabi Muhammad ﷺ seperti Kisra raja Persia, sementara kaisar Romawi Heraklius merespons dengan penuh pertimbangan meskipun pada akhirnya tidak masuk Islam karena takut kehilangan tahtanya.
Tokoh-tokoh yang Terlibat
- Nabi Muhammad ﷺ: Memprakarsai pengiriman surat dakwah dan merancang strategi diplomasi internasional Islam.
- Dihyah bin Khalifah Al-Kalbi: Sahabat yang diutus membawa surat kepada Kaisar Romawi Heraklius.
- Abdullah bin Hudzaifah Al-Sahmi: Sahabat pemberani yang menyampaikan surat kepada Kisra raja Persia.
- Amru bin Al-Ash: Utusan cerdas yang dikirimkan kepada penguasa Mesir, Muqauqis.
Pelajaran dari Peristiwa
- Islam adalah agama untuk seluruh umat manusia, melampaui batas suku, bangsa, dan batas teritorial negara.
- Keberanian para sahabat dalam menyampaikan kebenaran di hadapan para penguasa dunia patut menjadi teladan utama.
- Strategi dakwah harus dilakukan dengan hikmah, persiapan yang matang, serta diplomasi yang santun namun tetap tegas.
Kesimpulan
Pengiriman utusan dakwah kepada para raja dunia merupakan tonggak penting dalam sejarah risalah Nabi Muhammad ﷺ yang menunjukkan bahwa Islam bersifat universal. Meskipun respons yang diterima bermacam-macam, langkah ini membuktikan ketulusan dan kesungguhan kaum Muslimin dalam menyampaikan ajaran tauhid kepada umat manusia. Pesan moral dari peristiwa ini adalah pentingnya keberanian dan hikmah dalam menyebarkan kebaikan kepada siapapun.
Wallâhu a’lam bish-shawâb.







