Di sebuah gua kecil di puncak Jabal Nur, seorang lelaki berusia empat puluh tahun sedang menyendiri. Malam itu menjadi titik balik sejarah manusia: wahyu pertama turun kepada Nabi Muhammad ﷺ. Peristiwa inilah yang dikenal sebagai Nuzulul Qur’an, dan kisahnya penuh pelajaran tentang ilmu, keteguhan hati, dan dukungan orang tercinta.
Latar Belakang Wahyu Pertama
Menjelang usia 40 tahun, Rasulullah ﷺ resah melihat kerusakan akidah dan akhlak masyarakat Makkah. Beliau mulai gemar menyendiri (tahannuts) di Gua Hira untuk beribadah dan merenung, membawa bekal secukupnya lalu kembali kepada Khadijah RA bila bekal habis.
Menurut riwayat Aisyah RA dalam Shahih Al-Bukhari, wahyu diawali dengan mimpi yang benar (ru’yah shadiqah), yang datang jelas seperti terbitnya cahaya subuh. Setelah itu, rasa cinta pada khalwat tumbuh dalam diri beliau.
Peristiwa ini terjadi di bulan Ramadhan. Di Indonesia, tanggalnya umumnya diperingati pada 17 Ramadhan, meski ulama berbeda pendapat tentang tanggal pastinya.
Kronologi Peristiwa
1. Jibril datang dan berkata “Iqra'”
Di Gua Hira, Malaikat Jibril AS datang dan berkata, “Bacalah!” Rasulullah ﷺ menjawab, “Aku tidak bisa membaca.” Jibril memeluk beliau dengan kuat hingga beliau kepayahan, lalu melepaskannya dan mengulang perintah yang sama. Hal ini terjadi tiga kali. Kemudian turunlah lima ayat pertama Surat Al-‘Alaq:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
Iqra’ bismi rabbikal-ladzî khalaq. Khalaqal-insâna min ‘alaq. Iqra’ wa rabbukal-akram. Alladzî ‘allama bil-qalam. ‘Allamal-insâna mâ lam ya’lam.
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu itulah Yang Maha Mulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. Al-‘Alaq: 1-5)
2. Pulang dengan gemetar
Rasulullah ﷺ pulang menemui Khadijah RA dengan hati bergetar dan berkata, “Selimuti aku, selimuti aku.” Beliau menceritakan apa yang terjadi dan mengungkapkan kekhawatiran atas dirinya.
3. Khadijah menenangkan, Waraqah membenarkan
Khadijah RA menenangkan beliau dengan kata-kata yang menyejukkan: Allah tidak akan menghinakanmu, sebab engkau menyambung silaturahmi, menanggung beban orang lain, menolong yang papa, memuliakan tamu, dan membantu orang yang tertimpa musibah.
Khadijah kemudian membawa beliau kepada sepupunya, Waraqah bin Naufal, yang memahami kitab-kitab terdahulu. Waraqah menyatakan bahwa yang datang adalah malaikat yang sama yang pernah turun kepada Nabi Musa AS. Ia juga berkata andai ia masih muda saat kaum beliau mengusirnya. Rasulullah ﷺ heran, “Apakah mereka akan mengusirku?” Waraqah menjawab bahwa belum pernah ada orang yang membawa risalah seperti ini kecuali dimusuhi.
4. Wahyu terhenti, lalu dakwah dimulai
Setelah wahyu pertama, wahyu sempat terhenti beberapa waktu (fatratul wahyi) dan Rasulullah ﷺ merasa sedih. Kemudian Jibril datang kembali dan turunlah awal Surat Al-Muddatstsir yang memerintahkan beliau bangkit memberi peringatan:
يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ قُمْ فَأَنذِرْ
Yâ ayyuhal-muddatstsir. Qum fa andzir.
Wahai orang yang berselimut! Bangunlah, lalu berilah peringatan! (QS. Al-Muddatstsir: 1-2)
Tokoh-tokoh yang Terlibat
- Nabi Muhammad ﷺ: penerima wahyu pertama dan penerus risalah para nabi.
- Malaikat Jibril AS: pembawa wahyu dari Allah.
- Khadijah binti Khuwailid RA: istri beliau yang menenangkan dan menjadi orang pertama yang beriman.
- Waraqah bin Naufal: sepupu Khadijah yang membenarkan kenabian beliau.
Pelajaran dari Wahyu Pertama
- Wahyu pertama dibuka dengan perintah membaca, tanda Islam sangat memuliakan ilmu.
- Ilmu harus berpijak pada keimanan: bacalah “dengan nama Tuhanmu”.
- Dukungan orang terdekat sangat berarti saat seseorang menghadapi ujian berat.
- Perubahan besar sering berawal dari perenungan dan persiapan diri.
Kesimpulan
Kisah wahyu pertama di Gua Hira mengajarkan bahwa risalah terbesar dalam sejarah diawali dari satu kata sederhana: “Bacalah”. Dari gua yang sunyi itu, cahaya Al-Qur’an memancar ke seluruh dunia. Untuk membahas tahapan turunnya Al-Qur’an, perbedaan pendapat tentang tanggalnya, dan amalan menyambutnya, baca juga Nuzulul Qur’an: Sejarah Turunnya Wahyu Pertama di Islamipedia.
Lanjutkan membaca perjalanan dakwah beliau di kategori Sirah Nabawiyah: Sebelum Hijrah dan Kisah Nabi Muhammad ﷺ.
Wallâhu a’lam bish-shawâb.





