Cerita • Teladan • Hikmah

Islamipedia.id

Nabi Nuh

Kisah Nabi Nuh AS Lengkap: Dakwah 950 Tahun dan Banjir Besar

Kisah Nabi Nuh AS Lengkap Dakwah 950 Tahun dan Banjir Besar

Nabi Nuh AS adalah salah satu rasul pilihan yang kisahnya paling panjang disebut dalam Al-Quran. Beliau berdakwah di tengah kaumnya selama 950 tahun, namun hanya sedikit yang beriman. Kisah beliau mengajarkan kesabaran, keteguhan tauhid, dan akibat dari keingkaran. Artikel ini merangkum kisah beliau berdasarkan Al-Quran dan hadis sahih, sebagai bagian dari Kisah Para Nabi di Kisah Islamipedia.

Profil Singkat Nabi Nuh AS

  • Nama: Nuh ‘alaihissalam, disebut puluhan kali dalam Al-Quran dan menjadi nama Surah Nuh (surah ke-71).
  • Julukan: ‘Abdan Syakura (hamba yang banyak bersyukur, QS. Al-Isra’: 3).
  • Kedudukan: Rasul pertama yang diutus kepada penduduk bumi, sebagaimana disebut dalam hadis syafaat (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Beliau juga termasuk Ulul ‘Azmi menurut pendapat yang masyhur.
  • Diutus kepada: Kaumnya yang menyembah berhala.
  • Lama berdakwah: 950 tahun (QS. Al-Ankabut: 14).
  • Keluarga: Istri dan salah satu putranya tidak beriman.
  • Masa hidup: Al-Quran tidak menyebutkan tahun lahir, tahun wafat, maupun usia total beliau.

Nabi Nuh hidup beberapa generasi setelah Nabi Adam AS. Allah menyebut beliau sebagai salah satu hamba pilihan-Nya dan menetapkan kesejahteraan bagi beliau, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Ash-Shaffat ayat 79:

سَلٰمٌ عَلٰى نُوْحٍ فِى الْعٰلَمِيْنَ

Salâmun ‘alâ Nûhin fil-‘âlamîn.

Kesejahteraan bagi Nuh di seluruh alam.

Keistimewaan Nabi Nuh AS

  • Dipilih Allah di antara manusia pilihan-Nya (QS. Ali ‘Imran: 33).
  • Rasul pertama yang diutus kepada penduduk bumi.
  • Termasuk Ulul ‘Azmi, para rasul yang paling teguh dan sabar (QS. Asy-Syura: 13).
  • Diperintahkan membuat bahtera, yang dijadikan Allah sebagai tanda kebesaran-Nya bagi seluruh alam (QS. Al-Ankabut: 15).
  • Keturunannya menjadi penerus kehidupan manusia setelah banjir (QS. Ash-Shaffat: 77).

Kaum Nabi Nuh dan Asal Mula Berhala

Kaum Nabi Nuh menyembah berhala yang diberi nama Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr. Mereka bersikeras mempertahankan berhala itu. Allah berfirman dalam QS. Nuh ayat 23:

وَقَالُوْا لَا تَذَرُنَّ اٰلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَّلَا سُوَاعًا وَّلَا يَغُوْثَ وَيَعُوْقَ وَنَسْرًاۚ

Wa qâlû lâ tadzarunna âlihatakum wa lâ tadzarunna waddaw wa lâ suwâ’aw wa lâ yaghûtsa wa ya’ûqa wa nasrâ.

Dan mereka berkata, “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhanmu dan jangan pula kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr.”

Menurut riwayat Ibnu Abbas dalam Shahih Al-Bukhari, nama-nama itu semula adalah orang-orang saleh dari kaum Nuh. Setelah mereka wafat, setan membisikkan agar dibuat patung untuk mengenang mereka. Seiring berlalunya generasi dan hilangnya ilmu, patung-patung itu akhirnya disembah. Kisah ini menjadi peringatan bahwa penyimpangan tauhid sering bermula dari hal yang tampak baik.

Perjalanan Dakwah Nabi Nuh AS

Seruan Tauhid

Allah mengutus Nabi Nuh AS untuk mengajak kaumnya kembali menyembah Allah semata. Allah berfirman dalam QS. Al-A’raf ayat 59:

لَقَدْ اَرْسَلْنَا نُوْحًا اِلٰى قَوْمِهٖ فَقَالَ يٰقَوْمِ اعْبُدُوا اللّٰهَ مَا لَكُمْ مِّنْ اِلٰهٍ غَيْرُهٗۗ اِنِّيْٓ اَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيْمٍ

Laqad arsalnâ Nûhan ilâ qaumihî fa qâla yâ qaumi’budullâha mâ lakum min ilâhin ghairuh, innî akhâfu ‘alaikum ‘adzâba yaumin ‘azhîm.

Sungguh, Kami benar-benar telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu dia berkata, “Wahai kaumku! Sembahlah Allah, tidak ada tuhan (sembahan) bagimu selain Dia. Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab pada hari yang dahsyat (kiamat).”

Dakwah Siang dan Malam

Nabi Nuh berdakwah tanpa lelah, siang dan malam, secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan (QS. Nuh: 8-9). Namun kaumnya menolak dengan keras. Allah berfirman dalam QS. Nuh ayat 5-7:

قَالَ رَبِّ اِنِّيْ دَعَوْتُ قَوْمِيْ لَيْلًا وَّنَهَارًاۙ فَلَمْ يَزِدْهُمْ دُعَاۤءِيْٓ اِلَّا فِرَارًا وَاِنِّيْ كُلَّمَا دَعَوْتُهُمْ لِتَغْفِرَ لَهُمْ جَعَلُوْٓا اَصَابِعَهُمْ فِيْٓ اٰذَانِهِمْ وَاسْتَغْشَوْا ثِيَابَهُمْ وَاَصَرُّوْا وَاسْتَكْبَرُوا اسْتِكْبَارًاۚ

Qâla rabbi innî da’autu qaumî lailaw wa nahârâ, falam yazid-hum du’â’î illâ firârâ, wa innî kullamâ da’autuhum litaghfira lahum ja’alû ashâbi’ahum fî âdzânihim wastaghsyau tsiyâbahum wa asharrû wastakbarû istikbârâ.

Dia (Nuh) berkata, “Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku siang dan malam, tetapi seruanku itu hanya menambah mereka lari (dari kebenaran). Dan setiap kali aku menyeru mereka agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jarinya ke telinga, menutupkan bajunya (ke wajah), tetap (mengingkari), dan menyombongkan diri dengan sangat.”

Penolakan Kaum dan Ujian Keluarga

Para pemuka kaum menuduh Nabi Nuh berada dalam kesesatan yang nyata (QS. Al-A’raf: 60). Mereka juga meremehkan para pengikut beliau yang sebagian besar berasal dari kalangan lemah (QS. Hud: 27). Ujian terberat datang dari lingkungan terdekat: istri Nabi Nuh berkhianat dalam urusan agama dan tidak beriman (QS. At-Tahrim: 10). Para ulama menjelaskan bahwa khianat tersebut berkaitan dengan akidah, bukan perbuatan keji.

Meski demikian, Nabi Nuh tidak berputus asa. Allah menyebutkan lamanya perjuangan beliau dalam QS. Al-Ankabut ayat 14:

وَلَقَدْ اَرْسَلْنَا نُوْحًا اِلٰى قَوْمِهٖ فَلَبِثَ فِيْهِمْ اَلْفَ سَنَةٍ اِلَّا خَمْسِيْنَ عَامًاۗ فَاَخَذَهُمُ الطُّوْفَانُ وَهُمْ ظٰلِمُوْنَ

Wa laqad arsalnâ Nûhan ilâ qaumihî fa labitsa fîhim alfa sanatin illâ khamsîna ‘âmâ, fa akhadzahumuth-thûfânu wa hum zhâlimûn.

Dan sungguh, Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka dia tinggal bersama mereka selama seribu tahun kurang lima puluh tahun. Kemudian mereka dilanda banjir besar, sedangkan mereka adalah orang-orang yang zalim.

Membangun Bahtera

Perintah Membuat Kapal

Setelah sekian lama berdakwah dan kaumnya tetap ingkar, Allah mewahyukan bahwa tidak akan ada lagi yang beriman selain yang telah beriman (QS. Hud: 36). Allah lalu memerintahkan Nabi Nuh AS membuat bahtera besar. Allah berfirman dalam QS. Hud ayat 37:

وَاصْنَعِ الْفُلْكَ بِاَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا وَلَا تُخَاطِبْنِيْ فِى الَّذِيْنَ ظَلَمُوْاۚ اِنَّهُمْ مُّغْرَقُوْنَ

Washna’il-fulka bi’a’yuninâ wa wahyinâ wa lâ tukhâthibnî fil-ladzîna zhalamû, innahum mughraqûn.

Dan buatlah kapal itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah engkau bicarakan dengan-Ku tentang orang-orang yang zalim itu. Sesungguhnya mereka akan ditenggelamkan.

Ejekan Kaum Nabi Nuh

Setiap kali pemuka kaum melewati tempat Nabi Nuh membuat kapal, mereka mengejek beliau karena membangun kapal di daratan yang jauh dari air (QS. Hud: 38). Nabi Nuh menjawab dengan tenang bahwa kelak merekalah yang akan tertimpa azab yang menghinakan. Beliau tetap bekerja atas petunjuk wahyu, tanpa terpengaruh cemoohan.

Banjir Besar Datang

Tanda Dimulainya Banjir

Ketika waktu yang dijanjikan tiba, Allah memberi tanda berupa memancarnya air dari tanur dan memerintahkan Nabi Nuh membawa orang-orang beriman. Allah berfirman dalam QS. Hud ayat 40:

حَتّٰىٓ اِذَا جَاۤءَ اَمْرُنَا وَفَارَ التَّنُّوْرُۙ قُلْنَا احْمِلْ فِيْهَا مِنْ كُلٍّ زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ وَاَهْلَكَ اِلَّا مَنْ سَبَقَ عَلَيْهِ الْقَوْلُ وَمَنْ اٰمَنَۗ وَمَآ اٰمَنَ مَعَهٗٓ اِلَّا قَلِيْلٌ

Hattâ idzâ jâ’a amrunâ wa fâra at-tannûr, qulnahmil fîhâ min kullin zaujainitsnaini wa ahlaka illâ man sabaqa ‘alaihil-qaulu wa man âman, wa mâ âmana ma’ahû illâ qalîl.

Hingga apabila perintah Kami datang dan tanur telah memancarkan air, Kami berfirman, “Muatkanlah ke dalamnya (kapal itu) dari masing-masing (hewan) sepasang (jantan dan betina), dan (juga) keluargamu, kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan (azab) atasnya, dan (muatkan pula) orang yang beriman.” Ternyata orang yang beriman bersama dia (Nuh) hanya sedikit.

Lalu air bah datang dari langit dan bumi sekaligus. Allah berfirman dalam QS. Al-Qamar ayat 11-12:

فَفَتَحْنَآ اَبْوَابَ السَّمَاۤءِ بِمَاۤءٍ مُّنْهَمِرٍۖ وَّفَجَّرْنَا الْاَرْضَ عُيُوْنًا فَالْتَقَى الْمَاۤءُ عَلٰٓى اَمْرٍ قَدْ قُدِرَ

Fa fatahnâ abwâbas-samâ’i bi mâ’im munhamir, wa fajjarnal-ardha ‘uyûnan faltaqal-mâ’u ‘alâ amrin qad qudir.

Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah, dan Kami jadikan bumi menyemburkan mata air-mata air, maka bertemulah air-air itu untuk suatu urusan yang sungguh telah ditetapkan.

Saat menaiki kapal, Nabi Nuh mengajak orang-orang beriman memulai pelayaran dengan menyebut nama Allah. Allah berfirman dalam QS. Hud ayat 41:

وَقَالَ ارْكَبُوْا فِيْهَا بِسْمِ اللّٰهِ مَجْرٰىهَا وَمُرْسٰىهَاۗ اِنَّ رَبِّيْ لَغَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Wa qâlarkabû fîhâ bismillâhi majrâhâ wa mursâhâ, inna rabbî laghafûrur-rahîm.

Dan dia (Nuh) berkata, “Naiklah kamu semua ke dalamnya (kapal) dengan (menyebut) nama Allah pada waktu berlayar dan berlabuhnya. Sungguh, Tuhanku Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

Putra Nabi Nuh yang Durhaka

Di tengah gelombang yang menggunung, Nabi Nuh memanggil putranya yang tidak beriman agar naik ke kapal. Allah berfirman dalam QS. Hud ayat 42:

وَهِيَ تَجْرِيْ بِهِمْ فِيْ مَوْجٍ كَالْجِبَالِۗ وَنَادٰى نُوْحٌ ابْنَهٗ وَكَانَ فِيْ مَعْزِلٍ يّٰبُنَيَّ ارْكَبْ مَّعَنَا وَلَا تَكُنْ مَّعَ الْكٰفِرِيْنَ

Wa hiya tajrî bihim fî maujin kal-jibâl, wa nâdâ Nûhun-ibnahû wa kâna fî ma’zilin yâ bunayyarkab ma’anâ wa lâ takum ma’al-kâfirîn.

Dan kapal itu berlayar membawa mereka ke dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya, ketika dia (anak itu) berada di tempat yang jauh terpencil, “Wahai anakku! Naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah engkau bersama orang-orang kafir.”

Putranya menolak dan merasa gunung akan menyelamatkannya. Allah berfirman dalam QS. Hud ayat 43:

قَالَ سَاٰوِيْٓ اِلٰى جَبَلٍ يَّعْصِمُنِيْ مِنَ الْمَاۤءِۗ قَالَ لَا عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ اَمْرِ اللّٰهِ اِلَّا مَنْ رَّحِمَۚ وَحَالَ بَيْنَهُمَا الْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ الْمُغْرَقِيْنَ

Qâla sa’âwî ilâ jabaliy ya’shimunî minal-mâ’, qâla lâ ‘âshimal-yauma min amrillâhi illâ man rahim, wa hâla bainahumal-mauju fa kâna minal-mughraqîn.

Dia (anaknya) menjawab, “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang akan menyelamatkanku dari air bah!” (Nuh) berkata, “Hari ini tidak ada yang melindungi dari azab Allah, kecuali Allah Yang Maha Penyayang.” Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah dia termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.

Nabi Nuh kemudian memohon kepada Allah karena putranya adalah bagian dari keluarganya (QS. Hud: 45). Allah menjawab bahwa putranya bukan termasuk keluarganya yang dijanjikan keselamatan, karena perbuatannya tidak saleh (QS. Hud: 46). Ikatan iman lebih menentukan keselamatan daripada ikatan darah.

Kapal Berlabuh dan Kehidupan Setelah Banjir

Setelah azab selesai, Allah memerintahkan bumi menelan airnya dan langit menghentikan hujannya. Allah berfirman dalam QS. Hud ayat 44:

وَقِيْلَ يٰٓاَرْضُ ابْلَعِيْ مَاۤءَكِ وَيٰسَمَاۤءُ اَقْلِعِيْ وَغِيْضَ الْمَاۤءُ وَقُضِيَ الْاَمْرُ وَاسْتَوَتْ عَلَى الْجُوْدِيِّ وَقِيْلَ بُعْدًا لِّلْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَ

Wa qîla yâ ardhubla’î mâ’aki wa yâ samâ’u aqli’î wa ghîdhal-mâ’u wa qudhiyal-amru wastawat ‘alal-jûdiyyi wa qîla bu’dal lil-qaumizh-zhâlimîn.

Dan difirmankan, “Wahai bumi! Telanlah airmu, dan wahai langit (hujan) berhentilah!” Dan air pun disurutkan, dan perintah pun diselesaikan, dan kapal itu berlabuh di atas gunung Judi, dan dikatakan, “Binasalah orang-orang yang zalim.”

Nabi Nuh dan orang-orang beriman turun dengan penuh keberkahan dari Allah (QS. Hud: 48). Allah menjadikan keturunan Nabi Nuh sebagai penerus kehidupan manusia, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Ash-Shaffat ayat 77:

وَجَعَلْنَا ذُرِّيَّتَهٗ هُمُ الْبَاقِيْنَۖ

Wa ja’alnâ dzurriyyatahû humul-bâqîn.

Dan Kami jadikan anak cucunya orang-orang yang melanjutkan keturunan.

Doa-doa Nabi Nuh AS dalam Al-Quran

1. Doa Memohon Ampun karena Meminta Sesuatu yang Tidak Diketahui

Setelah ditegur Allah tentang putranya, Nabi Nuh segera memohon perlindungan dan ampunan. Doa ini tercantum dalam QS. Hud ayat 47:

قَالَ رَبِّ اِنِّيْٓ اَعُوْذُ بِكَ اَنْ اَسْـَٔلَكَ مَا لَيْسَ لِيْ بِهٖ عِلْمٌۗ وَاِلَّا تَغْفِرْ لِيْ وَتَرْحَمْنِيْٓ اَكُنْ مِّنَ الْخٰسِرِيْنَ

Qâla rabbi innî a’ûdzu bika an as’alaka mâ laisa lî bihî ‘ilm, wa illâ taghfir lî wa tarhamnî akum minal-khâsirîn.

Dia (Nuh) berkata, “Ya Tuhanku, aku berlindung kepada-Mu dari memohon kepada-Mu sesuatu yang aku tidak mengetahui (hakikatnya). Kalau Engkau tidak mengampuniku dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku termasuk orang-orang yang rugi.”

2. Doa Memohon Tempat yang Diberkahi

Allah memerintahkan Nabi Nuh mengucapkan syukur ketika telah berada di atas kapal (QS. Al-Mu’minun: 28), lalu mengajarkan doa berikut dalam QS. Al-Mu’minun ayat 29:

وَقُلْ رَّبِّ اَنْزِلْنِيْ مُنْزَلًا مُّبٰرَكًا وَّاَنْتَ خَيْرُ الْمُنْزِلِيْنَ

Wa qur rabbi anzilnî munzalam mubârakaw wa anta khairul-munzilîn.

Dan berdoalah, “Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkahi, dan Engkaulah sebaik-baik pemberi tempat.”

3. Doa Memohon Ampun bagi Diri, Orang Tua, dan Kaum Mukminin

Di akhir dakwahnya, Nabi Nuh berdoa untuk dirinya, orang tuanya, dan seluruh orang beriman. Doa ini tercantum dalam QS. Nuh ayat 28:

رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَلِمَنْ دَخَلَ بَيْتِيَ مُؤْمِنًا وَّلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِۗ وَلَا تَزِدِ الظّٰلِمِيْنَ اِلَّا تَبَارًا

Rabbighfir lî wa li wâlidayya wa liman dakhala baitiya mu’minaw wa lil-mu’minîna wal-mu’minât, wa lâ tazidizh-zhâlimîna illâ tabârâ.

Ya Tuhanku, ampunilah aku, ibu bapakku, siapa pun yang masuk ke rumahku dengan beriman, dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang zalim itu selain kehancuran.

Hal yang Tidak Dirinci dalam Al-Quran

Agar kisah ini tetap bersandar pada sumber yang kuat, perlu dipahami bahwa Al-Quran dan hadis sahih tidak merinci beberapa hal berikut:

  • Ukuran, bahan, dan bentuk kapal. Al-Quran hanya menyebut kapal itu terbuat dari papan dan paku (QS. Al-Qamar: 13).
  • Jumlah orang yang beriman. Al-Quran hanya menyebut “sedikit” (QS. Hud: 40). Angka yang disebut dalam sebagian riwayat tidak dapat dipastikan.
  • Nama istri dan putra Nabi Nuh yang durhaka. Nama putranya yang beredar dalam sebagian kitab tafsir berasal dari riwayat.
  • Letak Gunung Judi dan lokasi pembuatan kapal.
  • Usia total Nabi Nuh. Angka 950 tahun adalah lamanya beliau tinggal di tengah kaumnya.
  • Cakupan banjir. Para ulama berbeda pendapat apakah banjir meliputi seluruh bumi atau wilayah kaum Nabi Nuh saja.

Rincian lain yang beredar, seperti hewan-hewan tertentu di dalam kapal atau kisah tokoh raksasa, umumnya berasal dari riwayat Israiliyat yang tidak bisa dipastikan kebenarannya. Karena itu, Kisah Islamipedia hanya menegaskan apa yang disebut Al-Quran dan hadis yang sahih.

Kesimpulan

Kisah Nabi Nuh AS mengajarkan kita tentang kesabaran dalam berdakwah, keteguhan tauhid, ketaatan kepada Allah, dan akibat bagi yang ingkar. Selama 950 tahun, Nabi Nuh tidak menyerah. Beliau juga mengajarkan bahwa iman, bukan hubungan darah, yang menentukan keselamatan. Allah menutup kisah beliau dengan pesan dalam QS. Hud ayat 49 (bagian akhir):

فَاصْبِرْۛ اِنَّ الْعَاقِبَةَ لِلْمُتَّقِيْنَ

Fashbir, innal-‘âqibata lil-muttaqîn.

Maka bersabarlah. Sesungguhnya kesudahan (yang baik) adalah bagi orang-orang yang bertakwa.

Semoga kita dapat meneladani kesabaran beliau. Dari keturunan Nabi Nuh, Allah melanjutkan rantai kenabian hingga Nabi Ibrahim AS, bapak para nabi.

Wallâhu a’lam bish-shawâb.

Rujukan

QS. Nuh: 1-28

QS. Hud: 25-49

QS. Al-A'raf: 59-64

QS. Al-Ankabut: 14-15

Qishashul Anbiya, Ibnu Katsir

Baca juga

2 komentar