Banjir besar pada zaman Nabi Nuh AS adalah salah satu azab terbesar yang disebutkan dalam Al-Quran. Peristiwa ini memisahkan antara kaum beriman yang selamat dan kaum kafir yang binasa. Artikel ini membahas kisah banjir besar Nabi Nuh berdasarkan ayat-ayat Al-Quran dan hadis sahih, sebagai bagian dari Kisah Nabi Nuh di Kisah Islamipedia.
Kedatangan Azab
Setelah Nabi Nuh menyelesaikan kapal dan memuat siapa yang diperintahkan, datanglah perintah Allah. Air memancar dari bumi dan langit menurunkan hujan lebat. Allah berfirman dalam QS. Al-Qamar ayat 11-12:
فَفَتَحْنَا اَبْوَابَ السَّمَاۤءِ بِمَاۤءٍ مُّنْهَمِرٍۖ وَّفَجَّرْنَا الْاَرْضَ عُيُوْنًا فَالْتَقَى الْمَاۤءُ عَلٰٓى اَمْرٍ قَدْ قُدِرَ
Fa fatahnâ abwâbas-samâ’i bimâ’im munhamir, wa fajjarnal-ardha ‘uyûnan faltaqal-mâ’u ‘alâ amrin qad qudir.
Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah, dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air, maka bertemulah air-air itu untuk suatu urusan yang sungguh telah ditetapkan.
Kapal Berlayar dan Anak Nabi Nuh Tenggelam
Kapal Nabi Nuh berlayar di tengah gelombang setinggi gunung. Nabi Nuh memanggil anaknya agar ikut naik, tetapi anaknya menolak dan memilih berlindung di gunung. Allah berfirman dalam QS. Hud ayat 42-43 bahwa gelombang menjadi penghalang antara keduanya, dan anak itu termasuk yang ditenggelamkan.
Air Surut dan Kapal Berlabuh
Setelah waktu yang ditetapkan, Allah memerintahkan bumi menelan airnya dan langit berhenti menurunkan hujan. Kapal Nabi Nuh berlabuh di bukit Judi. Allah berfirman dalam QS. Hud ayat 44:
وَقِيْلَ يٰٓاَرْضُ ابْلَعِيْ مَاۤءَكِ وَيَا سَمَاۤءُ اَقْلِعِيْ وَغِيْضَ الْمَاۤءُ وَقُضِيَ الْاَمْرُ وَاسْتَوَتْ عَلَى الْجُوْدِيِّ وَقِيْلَ بُعْدًا لِّلْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَ
Wa qîla yâ ardhu’bla’î mâ’aki wa yâ samâ’u aqli’î wa ghîdhal-mâ’u wa qudhiyal-amru wastawat ‘alal-jûdiyyi wa qîla bu’dal lil-qaumizh-zhâlimîn.
Dan difirmankan, “Wahai bumi! Telanlah airmu dan wahai langit (hujan!) berhentilah.” Dan air pun disurutkan, dan perintah pun diselesaikan dan kapal itu pun berlabuh di atas bukit Judi, dan dikatakan, “Binasalah orang-orang yang zalim.”
Pelajaran & Hikmah
- Azab Allah datang tepat pada waktunya, tanpa bisa ditolak.
- Keselamatan hanya bagi mereka yang taat dan beriman.
- Hubungan keluarga tidak menyelamatkan tanpa iman dan ketaatan.
- Allah Maha Kuasa atas alam: air, langit, dan bumi tunduk pada perintah-Nya.
- Kisah ini menegaskan akibat buruk dari kezaliman dan pendustaan.
Kesimpulan
Banjir besar Nabi Nuh AS adalah peringatan tentang azab Allah dan keselamatan bagi kaum beriman. Kisah ini mengajak kita untuk taat, beriman, dan tidak meremehkan peringatan para nabi. Semoga kita dapat mengambil pelajaran dari kisah beliau dan menjalani hidup sesuai petunjuk Allah SWT.
Wallâhu a’lam bish-shawâb.





