Cerita • Teladan • Hikmah

Islamipedia.id

Nabi Adam

Kisah Nabi Adam AS Lengkap: Penciptaan, Kehidupan di Surga, dan Turun ke Bumi

Kisah Nabi Adam AS Lengkap Penciptaan, Kehidupan di Surga, dan Turun ke Bumi

Nabi Adam AS adalah manusia pertama yang diciptakan Allah SWT sekaligus bapak seluruh umat manusia. Kisah beliau adalah awal perjalanan manusia di muka bumi: dari penciptaan dari tanah, kehidupan di surga, godaan Iblis, hingga turun ke bumi sebagai khalifah. Artikel ini merangkum kisah tersebut berdasarkan ayat-ayat Al-Quran dan hadis yang sahih, sebagai bagian dari Kisah Para Nabi di Kisah Islamipedia.

Profil Singkat Nabi Adam AS

  • Nama: Adam ‘alaihissalam, disebut sekitar 25 kali dalam Al-Quran.
  • Julukan: Abul Basyar (bapak manusia) dan Shafiyyullah (pilihan Allah).
  • Pasangan: Hawa. Al-Quran menyebutnya sebagai “zauj” (pasangan); nama Hawa dikenal melalui riwayat.
  • Asal penciptaan: Tanah, lalu ditiupkan ruh dari Allah.
  • Keturunan: Seluruh umat manusia.
  • Masa hidup: Al-Quran tidak menyebutkan tahun maupun usia beliau secara pasti.

Allah SWT memuliakan Nabi Adam dan menyebutnya sebagai salah satu hamba pilihan-Nya. Allah berfirman dalam QS. Ali ‘Imran ayat 33:

اِنَّ اللّٰهَ اصْطَفٰىٓ اٰدَمَ وَنُوْحًا وَّاٰلَ اِبْرٰهِيْمَ وَاٰلَ عِمْرٰنَ عَلَى الْعٰلَمِيْنَۙ

Innallâhash-thafâ Âdama wa Nûhan wa âla Ibrâhîma wa âla ‘Imrâna ‘alal-‘âlamîn.

Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim, dan keluarga Imran melebihi segala umat (pada masanya).

Keistimewaan Nabi Adam AS

  • Diciptakan langsung oleh Allah, sebagaimana disebut dalam QS. Shad ayat 75.
  • Allah meniupkan ruh ke dalam tubuhnya.
  • Para malaikat diperintahkan bersujud kepadanya sebagai penghormatan.
  • Diajarkan nama-nama segala sesuatu oleh Allah.
  • Dipilih sebagai khalifah di bumi.
  • Tobatnya diterima oleh Allah Yang Maha Penerima tobat.

Penciptaan Nabi Adam AS

Allah SWT menciptakan Nabi Adam AS dari tanah. Sebelum penciptaan itu, Allah memberitahukan rencana-Nya kepada para malaikat, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al-Hijr ayat 28:

وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اِنِّيْ خَالِقٌۢ بَشَرًا مِّنْ طِيْنٍ

Wa idz qâla rabbuka lil-malâ’ikati innî khâliqum basyaram min thîn.

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menciptakan manusia dari tanah.”

Tahapan Penciptaan

Al-Quran menggambarkan bahan penciptaan Nabi Adam dengan beberapa istilah yang menunjukkan tahapan, yaitu:

  • Turab (tanah): bahan dasar penciptaan manusia (QS. Ali ‘Imran: 59).
  • Thin (tanah liat): tanah yang telah bercampur air (QS. Al-An’am: 2).
  • Hama’in masnun (lumpur hitam yang dibentuk): QS. Al-Hijr: 26.
  • Shalshal ka al-fakhkhar (tanah kering seperti tembikar): QS. Ar-Rahman: 14.

Dalam sebuah hadis riwayat Abu Dawud dan At-Tirmidzi, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda bahwa Allah menciptakan Adam dari segenggam tanah yang diambil dari seluruh bumi. Karena itu keturunannya datang dengan beragam warna kulit, watak, dan sifat.

Ruh dan Sujud Para Malaikat

Setelah tubuh Nabi Adam sempurna, Allah meniupkan ruh ke dalamnya dan memerintahkan para malaikat bersujud. Allah berfirman dalam QS. Al-Hijr ayat 29:

فَاِذَا سَوَّيْتُهٗ وَنَفَخْتُ فِيْهِ مِنْ رُّوْحِيْ فَقَعُوْا لَهٗ سٰجِدِيْنَ

Fa idzâ sawwaituhû wa nafakhtu fîhi min rûhî fa qa’û lahû sâjidîn.

Maka apabila Aku telah menyempurnakannya dan Aku telah meniupkan roh (ciptaan)-Ku ke dalamnya, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.

Sujud ini adalah bentuk penghormatan dan ketaatan kepada perintah Allah, bukan penyembahan kepada Adam. Semua malaikat bersujud, kecuali Iblis yang sombong dan menolak.

Kehidupan Nabi Adam di Surga

Diajarkan Nama-nama Segala Sesuatu

Allah memuliakan Nabi Adam dengan ilmu. Ketika para malaikat bertanya tentang hikmah penciptaan manusia, Allah menunjukkan keutamaan Adam melalui ilmu yang diajarkan kepadanya. Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 31:

وَعَلَّمَ اٰدَمَ الْاَسْمَاۤءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلٰۤىِٕكَةِۙ فَقَالَ اَنْۢبِـُٔوْنِيْ بِاَسْمَاۤءِ هٰٓؤُلَاۤءِ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ

Wa ‘allama Âdamal-asmâ’a kullahâ tsumma ‘aradhahum ‘alal-malâ’ikati fa qâla anbi’ûnî bi’asmâ’i hâ’ulâ’i in kuntum shâdiqîn.

Dan Dia ajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya, kemudian Dia perlihatkan kepada para malaikat, seraya berfirman, “Sebutkan kepada-Ku nama semua (benda) ini, jika kamu yang benar!”

Bersama Hawa di Surga

Nabi Adam AS ditempatkan di surga bersama istrinya, Hawa. Menurut hadis riwayat Muslim, Adam diciptakan pada hari Jumat dan dimasukkan ke surga pada hari itu juga. Allah memberi mereka kebebasan menikmati segala nikmat surga, kecuali satu pohon yang dilarang. Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 35:

وَقُلْنَا يٰٓاٰدَمُ اسْكُنْ اَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ فَكُلَا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَا وَلَا تَقْرَبَا هٰذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُوْنَا مِنَ الظّٰلِمِيْنَ

Wa qulnâ yâ Âdamus-kun anta wa zaujukal-jannata fa kulâ minhâ raghadan haitsu syi’tumâ wa lâ taqrabâ hâdzihisy-syajarata fa takûnâ minazh-zhâlimîn.

Dan Kami berfirman, “Wahai Adam! Tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga, dan makanlah dengan leluasa (makanan) di sana dari mana pun yang kamu berdua sukai. (Tetapi) janganlah kamu dekati pohon ini, nanti kamu termasuk orang-orang yang zalim.”

Tipu Daya Iblis dan Tobat Nabi Adam

Kesombongan Iblis

Iblis menolak bersujud karena merasa lebih mulia. Kesombongan inilah yang menyebabkannya diusir dari surga. Allah berfirman dalam QS. Al-A’raf ayat 12:

قَالَ مَا مَنَعَكَ اَلَّا تَسْجُدَ اِذْ اَمَرْتُكَۗ قَالَ اَنَا۠ خَيْرٌ مِّنْهُۚ خَلَقْتَنِيْ مِنْ نَّارٍ وَّخَلَقْتَهٗ مِنْ طِيْنٍ

Qâla mâ mana’aka allâ tasjuda idz amartuka, qâla anâ khairum minhu, khalaqtanî min nârin wa khalaqtahû min thîn.

(Allah) berfirman, “Apakah yang menghalangimu (sehingga) kamu tidak bersujud (kepada Adam) ketika Aku menyuruhmu?” (Iblis) menjawab, “Aku lebih baik daripada dia. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.”

Bisikan Iblis kepada Nabi Adam dan Hawa

Iblis yang dendam berusaha menyesatkan Nabi Adam dan Hawa. Ia membisikkan bahwa larangan Allah hanyalah agar mereka tidak menjadi malaikat atau hidup kekal di surga (QS. Al-A’raf: 20). Allah berfirman dalam QS. Thaha ayat 120:

فَوَسْوَسَ اِلَيْهِ الشَّيْطٰنُ قَالَ يٰٓاٰدَمُ هَلْ اَدُلُّكَ عَلٰى شَجَرَةِ الْخُلْدِ وَمُلْكٍ لَّا يَبْلٰى

Fa waswasa ilaihisy-syaithânu qâla yâ Âdamu hal adulluka ‘alâ syajaratil-khuldi wa mulkil lâ yablâ.

Kemudian setan membisikkan (pikiran jahat) kepadanya, dia berkata, “Wahai Adam! Maukah aku tunjukkan kepadamu pohon khuldi (pohon kekekalan) dan kerajaan yang tidak akan binasa?”

Nabi Adam dan Hawa akhirnya memakan buah pohon tersebut. Al-Quran menyebut Adam lupa dan tidak memiliki kesungguhan untuk melanggar (QS. Thaha: 115). Setelah itu mereka menyadari kesalahannya.

Doa Tobat Nabi Adam dan Hawa

Dengan penuh penyesalan, keduanya memohon ampun kepada Allah dengan doa yang diabadikan dalam QS. Al-A’raf ayat 23:

رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاِنْ لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ

Rabbanâ zhalamnâ anfusanâ wa il lam taghfir lanâ wa tarhamnâ lanakûnanna minal-khâsirîn.

Wahai Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.

Allah menerima tobat mereka, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al-Baqarah ayat 37:

فَتَلَقّٰىٓ اٰدَمُ مِنْ رَّبِّهٖ كَلِمٰتٍ فَتَابَ عَلَيْهِۗ اِنَّهٗ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ

Fa talaqqâ Âdamu mir rabbihî kalimâtin fa tâba ‘alaih, innahû huwat-tawwâbur-rahîm.

Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Dia pun menerima tobatnya. Sungguh, Dialah Yang Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.

Turun ke Bumi dan Menjadi Khalifah

Perintah Turun ke Bumi

Allah menerima tobat Nabi Adam dan Hawa, tetapi mereka tetap diperintahkan turun ke bumi. Turunnya mereka bukan semata hukuman, melainkan bagian dari rencana Allah sejak awal, yaitu menjadikan manusia khalifah di bumi. Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 30:

وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اِنِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةً

Wa idz qâla rabbuka lil-malâ’ikati innî jâ’ilun fil-ardhi khalîfah.

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.”

Bersamaan dengan perintah turun, Allah menjanjikan petunjuk bagi keturunan Adam. Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 38:

قُلْنَا اهْبِطُوْا مِنْهَا جَمِيْعًاۚ فَاِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِّنِّيْ هُدًى فَمَنْ تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ

Qulnah-bithû minhâ jamî’â, fa immâ ya’tiyannakum minnî hudan fa man tabi’a hudâya fa lâ khaufun ‘alaihim wa lâ hum yahzanûn.

Kami berfirman, “Turunlah kamu semua dari surga! Kemudian jika benar-benar datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak (pula) bersedih hati.”

Di bumi, Nabi Adam AS menjadi khalifah pertama. Beliau mengajarkan tauhid kepada keluarganya dan menjalankan perintah Allah. Para ulama menyebut beliau sebagai nabi pertama, dan garis kenabian ini berlanjut hingga Nabi Nuh AS dan nabi-nabi sesudahnya.

Kisah Dua Putra Adam

Al-Quran juga mengabadikan kisah dua putra Adam, yang dalam riwayat dikenal bernama Habil dan Qabil (QS. Al-Ma’idah: 27-31). Keduanya mempersembahkan kurban, tetapi hanya kurban salah satunya yang diterima. Yang tidak diterima merasa iri dan mengancam saudaranya. Saudaranya menjawab dengan prinsip yang menjadi pelajaran bagi semua orang, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Ma’idah ayat 27 (bagian akhir):

اِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللّٰهُ مِنَ الْمُتَّقِيْنَ

Innamâ yataqabbalullâhu minal-muttaqîn.

Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa.

Peristiwa ini tercatat sebagai pembunuhan pertama dalam sejarah manusia. Ia menunjukkan bahwa iri hati yang dibiarkan dapat berujung pada kehancuran.

Hal yang Tidak Dirinci dalam Al-Quran

Agar kisah ini tetap bersandar pada sumber yang kuat, perlu dipahami bahwa Al-Quran dan hadis sahih tidak merinci beberapa hal berikut:

  • Lokasi surga tempat Nabi Adam tinggal, apakah di langit atau di bumi.
  • Jenis pohon terlarang. Al-Quran hanya menyebutnya “syajarah” atau pohon khuldi.
  • Tempat turunnya Nabi Adam dan Hawa di bumi.
  • Usia, wafat, dan lokasi makam Nabi Adam.

Rincian yang beredar di buku atau media tentang hal-hal tersebut umumnya berasal dari riwayat Israiliyat yang tidak bisa dipastikan kebenarannya. Karena itu, Kisah Islamipedia hanya menegaskan apa yang disebut Al-Quran dan hadis yang sahih.

Kesimpulan

Kisah Nabi Adam AS mengajarkan kita tentang asal-usul manusia, kemuliaan ilmu, pentingnya tobat, dan bahaya tipu daya Iblis. Sebagai manusia pertama, Nabi Adam adalah bapak seluruh umat manusia. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

Kullu ibni Âdama khaththâ’un wa khairul-khaththâ’îna at-tawwâbûn.

Setiap anak Adam banyak berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah mereka yang banyak bertobat. (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Semoga kita dapat mengambil pelajaran dari kisah beliau dan menjalani hidup sesuai petunjuk Allah SWT. Baca juga Al-Quran Online untuk menelaah ayat-ayat yang dikutip dalam artikel ini.

Wallâhu a’lam bish-shawâb.

Rujukan

QS. Al-Baqarah: 30-39

QS. Al-A'raf: 11-25

QS. Thaha: 115-123

QS. Al-Hijr: 26-33

Qishashul Anbiya, Ibnu Katsir

Baca juga

2 komentar