Nabi Ibrahim AS dikenal sebagai bapak para nabi (Abul Anbiya) dan Khalilullah, kekasih Allah. Kisah beliau penuh dengan ujian, pengorbanan, dan keberanian membela kebenaran, mulai dari menghancurkan berhala, dibakar api, hingga membangun Ka’bah bersama putranya. Artikel ini merangkum kisah beliau berdasarkan Al-Quran dan hadis sahih, sebagai bagian dari Kisah Para Nabi di Kisah Islamipedia.
Profil Singkat Nabi Ibrahim AS
- Nama: Ibrahim ‘alaihissalam, disebut puluhan kali dalam Al-Quran dan menjadi nama Surah Ibrahim (surah ke-14).
- Julukan: Khalilullah (kekasih Allah) dan Abul Anbiya (bapak para nabi).
- Kedudukan: Nabi dan rasul, termasuk Ulul ‘Azmi (QS. Al-Ahzab: 7 dan QS. Asy-Syura: 13).
- Diutus kepada: Kaumnya yang menyembah berhala dan benda langit. Menurut riwayat sejarah, beliau hidup di wilayah Mesopotamia (Irak sekarang) pada masa raja yang zalim, yang dalam riwayat disebut Namrud.
- Istri: Sarah dan Hajar. Nama keduanya dikenal melalui hadis, bukan disebut langsung dalam Al-Quran.
- Putra: Ismail AS (dari Hajar) dan Ishaq AS (dari Sarah). Keduanya adalah nabi.
- Masa hidup: Al-Quran tidak menyebutkan tahun lahir, tahun wafat, maupun usia beliau.
Allah memuliakan Nabi Ibrahim dengan kedudukan yang sangat tinggi. Allah berfirman dalam QS. An-Nisa ayat 125 (potongan ayat):
وَاتَّخَذَ اللّٰهُ اِبْرٰهِيْمَ خَلِيْلًا
Wattakhadzallâhu Ibrâhîma khalîlâ.
Dan Allah telah mengambil Ibrahim sebagai kesayangan-(Nya).
Keistimewaan Nabi Ibrahim AS
- Dijadikan Allah sebagai imam bagi seluruh manusia setelah lulus berbagai ujian (QS. Al-Baqarah: 124).
- Disebut sebagai “ummah”, yakni teladan yang mengumpulkan banyak kebaikan, patuh kepada Allah, dan lurus (QS. An-Nahl: 120).
- Dari keturunannya, Allah menjadikan kenabian dan kitab (QS. Al-Ankabut: 27), sehingga beliau digelari bapak para nabi.
- Menerima shuhuf (lembaran-lembaran wahyu) yang disebut dalam QS. Al-A’la: 19.
- Disebut Allah sebagai bagian dari golongan Nabi Nuh AS dalam hal tauhid dan dakwah (QS. Ash-Shaffat: 83).
Dakwah Nabi Ibrahim AS
Mencari Tuhan yang Sejati
Sejak muda, Nabi Ibrahim AS merenungkan kebenaran dan menolak penyembahan berhala maupun benda langit. Al-Quran menceritakan bagaimana beliau memperlihatkan kepada kaumnya bahwa bintang, bulan, dan matahari bukanlah Tuhan, karena semuanya tenggelam dan hilang. Banyak ulama menjelaskan bahwa ucapan “Inilah Tuhanku” adalah cara beliau berdebat dan membuka kekeliruan kaumnya, bukan tanda keraguan. Allah berfirman dalam QS. Al-An’am ayat 76 tentang bintang:
فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ رَاٰ كَوْكَبًاۚ قَالَ هٰذَا رَبِّيْۚ فَلَمَّآ اَفَلَ قَالَ لَآ اُحِبُّ الْاٰفِلِيْنَ
Fa lammâ janna ‘alaihil-lailu ra’â kaukabâ, qâla hâdzâ rabbî, fa lammâ afala qâla lâ uhibbul-âfilîn.
Maka ketika malam telah gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata, “Inilah Tuhanku.” Tetapi ketika bintang itu tenggelam, dia berkata, “Aku tidak suka kepada yang tenggelam.”
Beliau melakukan hal yang sama pada bulan (ayat 77) dan matahari (ayat 78). Allah berfirman dalam QS. Al-An’am ayat 78 tentang matahari:
فَلَمَّا رَاَا الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هٰذَا رَبِّيْ هٰذَآ اَكْبَرُۚ فَلَمَّآ اَفَلَتْ قَالَ يٰقَوْمِ اِنِّيْ بَرِيْۤءٌ مِّمَّا تُشْرِكُوْنَ
Fa lammâ ra’asy-syamsa bâzighatan qâla hâdzâ rabbî hâdzâ akbar, fa lammâ afalat qâla yâ qaumi innî barî’um mimmâ tusyrikûn.
Kemudian ketika dia melihat matahari terbit, dia berkata, “Inilah Tuhanku, ini lebih besar.” Tetapi ketika matahari terbenam, dia berkata, “Wahai kaumku! Sungguh, aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.”
Hingga akhirnya beliau menyatakan sikapnya dalam QS. Al-An’am ayat 79:
اِنِّيْ وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ حَنِيْفًا وَّمَآ اَنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ
Innî wajjahtu wajhiya lil-ladzî fatharas-samâwâti wal-ardha hanîfaw wa mâ ana minal-musyrikîn.
Sesungguhnya aku hadapkan wajahku kepada Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepasrahan (mengikuti) agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik.
Dakwah kepada Ayah dan Kaumnya
Dakwah pertama beliau ditujukan kepada orang terdekat, yaitu ayahnya. Dengan penuh kelembutan, beliau bertanya dalam QS. Maryam ayat 42:
اِذْ قَالَ لِاَبِيْهِ يٰٓاَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِيْ عَنْكَ شَيْـًٔا
Idz qâla li’abîhi yâ abati lima ta’budu mâ lâ yasma’u wa lâ yubshiru wa lâ yughnî ‘anka syai’â.
(Ingatlah) ketika dia (Ibrahim) berkata kepada ayahnya, “Wahai ayahku! Mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolongmu sedikit pun?”
Sang ayah menolak dan mengancam akan merajam beliau serta mengusirnya (QS. Maryam: 46). Nabi Ibrahim tetap membalas dengan santun dan berjanji memohonkan ampunan bagi ayahnya (QS. Maryam: 47). Kepada kaumnya, beliau mengajukan pertanyaan yang sama, tetapi mereka hanya menjawab bahwa mereka mendapati nenek moyang mereka menyembah berhala itu (QS. Al-Anbiya: 52-53).
Menghancurkan Berhala
Ketika kaumnya pergi meninggalkan tempat ibadah mereka, Nabi Ibrahim AS menghancurkan berhala-berhala itu berkeping-keping, kecuali yang paling besar, agar mereka kembali kepadanya untuk bertanya (QS. Al-Anbiya: 57-58). Ketika kaumnya mendapati berhala mereka hancur, mereka menuduh Nabi Ibrahim sebagai pelakunya. Allah berfirman dalam QS. Al-Anbiya ayat 62-63:
قَالُوْٓا ءَاَنْتَ فَعَلْتَ هٰذَا بِاٰلِهَتِنَا يٰٓاِبْرٰهِيْمُۗ قَالَ بَلْ فَعَلَهٗ كَبِيْرُهُمْ هٰذَا فَسْـَٔلُوْهُمْ اِنْ كَانُوْا يَنْطِقُوْنَ
Qâlû a-anta fa’alta hâdzâ bi’âlihatinâ yâ Ibrâhîm. Qâla bal fa’alahû kabîruhum hâdzâ fas’alûhum in kânû yanthiqûn.
Mereka bertanya, “Apakah engkau yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, wahai Ibrahim?” Dia (Ibrahim) menjawab, “Sebenarnya yang melakukannya ialah yang besar di antara mereka (berhala) ini, maka tanyakanlah kepada mereka, jika mereka dapat berbicara.”
Kaumnya terdiam dan menundukkan kepala, lalu mengakui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara (QS. Al-Anbiya: 64-65). Nabi Ibrahim mengecam mereka karena menyembah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat maupun mencelakakan (QS. Al-Anbiya: 66-67).
Dibakar Api dan Mukjizat Nabi Ibrahim AS
Dilemparkan ke dalam Api
Kaum Nabi Ibrahim marah dan memutuskan untuk membakar beliau hidup-hidup demi membela tuhan-tuhan mereka (QS. Al-Anbiya: 68). Dalam hadis riwayat Al-Bukhari dari Ibnu Abbas, ketika dilemparkan ke dalam api, Nabi Ibrahim mengucapkan:
حَسْبُنَا اللّٰهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ
Hasbunallâhu wa ni’mal-wakîl.
Cukuplah Allah bagi kami, dan Dia sebaik-baik pelindung.
Allah menyelamatkan beliau dengan perintah-Nya kepada api. Allah berfirman dalam QS. Al-Anbiya ayat 69:
قُلْنَا يٰنَارُ كُوْنِيْ بَرْدًا وَّسَلٰمًا عَلٰٓى اِبْرٰهِيْمَۙ
Qulnâ yâ nâru kûnî bardaw wa salâman ‘alâ Ibrâhîm.
Kami berfirman, “Wahai api! Jadilah kamu dingin, dan penyelamat bagi Ibrahim!”
Mereka bermaksud mencelakakan beliau, tetapi Allah menjadikan mereka orang-orang yang paling rugi (QS. Al-Anbiya: 70).
Debat Nabi Ibrahim dengan Raja
Al-Quran juga mengabadikan perdebatan Nabi Ibrahim dengan seorang raja yang sombong karena kekuasaannya (QS. Al-Baqarah: 258). Ketika beliau berkata bahwa Tuhannya menghidupkan dan mematikan, raja itu mengaku bisa melakukan hal yang sama. Nabi Ibrahim lalu mengajukan hujjah yang tidak bisa dibantah. Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 258 (potongan ayat):
قَالَ اِبْرٰهٖمُ فَاِنَّ اللّٰهَ يَأْتِيْ بِالشَّمْسِ مِنَ الْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ الْمَغْرِبِ فَبُهِتَ الَّذِيْ كَفَرَۗ
Qâla Ibrâhîmu fa innallâha ya’tî bisy-syamsi minal-masyriqi fa’ti bihâ minal-maghribi fa buhitalladzî kafar.
Ibrahim berkata, “Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah ia dari barat.” Maka bingunglah orang yang kafir itu.
Mukjizat Nabi Ibrahim AS
Allah memperlihatkan tanda-tanda kebesaran-Nya melalui Nabi Ibrahim, di antaranya:
- Api yang menjadi dingin: api yang menyala tidak membakar beliau atas perintah Allah (QS. Al-Anbiya: 69).
- Burung yang dihidupkan kembali: Allah memperlihatkan kepada beliau bagaimana Dia menghidupkan yang telah mati, dengan empat ekor burung (QS. Al-Baqarah: 260).
- Kabar kelahiran Ishaq di usia tua: beliau dan istrinya dikaruniai putra pada usia lanjut, sebagai kabar gembira dari para malaikat (QS. Hud: 71-73).
Tentang peristiwa burung, Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 260 (potongan ayat):
وَاِذْ قَالَ اِبْرٰهٖمُ رَبِّ اَرِنِيْ كَيْفَ تُحْيِ الْمَوْتٰىۗ قَالَ اَوَلَمْ تُؤْمِنْۗ قَالَ بَلٰى وَلٰكِنْ لِّيَطْمَىِٕنَّ قَلْبِيْۗ
Wa idz qâla Ibrâhîmu rabbi arinî kaifa tuhyil-mautâ, qâla awalam tu’min, qâla balâ wa lâkil liyathma’inna qalbî.
Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata, “Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati.” Dia (Allah) berfirman, “Belum yakinkah engkau?” Dia (Ibrahim) menjawab, “Aku telah meyakininya, tetapi agar hatiku tenang (mantap).”
Hijrah, Ujian Kurban, dan Membangun Ka’bah
Hijrah dan Keluarga Nabi Ibrahim
Dari seluruh kaumnya, hanya sedikit yang beriman, di antaranya Nabi Luth AS yang dalam riwayat adalah keponakan beliau. Nabi Ibrahim kemudian berhijrah menuju tempat yang diperintahkan Allah. Allah berfirman dalam QS. Al-Ankabut ayat 26:
فَاٰمَنَ لَهٗ لُوْطٌۘ وَقَالَ اِنِّيْ مُهَاجِرٌ اِلٰى رَبِّيْۗ اِنَّهٗ هُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Fa âmana lahû Lûth, wa qâla innî muhâjirun ilâ rabbî, innahû huwal-‘azîzul-hakîm.
Maka Luth membenarkan (kenabian)nya. Dan dia (Ibrahim) berkata, “Sesungguhnya aku harus berpindah ke (tempat yang diperintahkan) Tuhanku; sungguh, Dialah Yang Maha Perkasa, Mahabijaksana.”
Dalam perjalanan hidupnya, para malaikat datang kepada beliau membawa kabar gembira tentang kelahiran Ishaq, sekaligus menyampaikan bahwa kaum Nabi Luth akan dibinasakan (QS. Hud: 69-76). Allah berfirman dalam QS. Ash-Shaffat ayat 112:
وَبَشَّرْنٰهُ بِاِسْحٰقَ نَبِيًّا مِّنَ الصّٰلِحِيْنَ
Wa basysyarnâhu bi-Ishâqa nabiyyam minash-shâlihîn.
Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq, seorang nabi di antara orang-orang yang saleh.
Menurut hadis riwayat Al-Bukhari dari Ibnu Abbas, atas perintah Allah Nabi Ibrahim membawa Hajar dan bayi Ismail ke lembah Makkah yang tandus, lalu meninggalkan keduanya dengan penuh tawakal. Hajar berlari di antara Shafa dan Marwa mencari air, hingga Allah memancarkan air Zamzam. Peristiwa inilah yang menjadi asal sa’i dalam ibadah haji dan umrah.
Ujian Penyembelihan Putra Nabi Ibrahim
Setelah putranya tumbuh besar dan bisa membantu beliau, Nabi Ibrahim diuji dengan ujian paling berat: bermimpi menyembelih putranya. Para ulama menjelaskan bahwa mimpi para nabi adalah wahyu. Allah berfirman dalam QS. Ash-Shaffat ayat 102:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ
Fa lammâ balagha ma’ahus-sa’ya qâla yâ bunayya innî arâ fil-manâmi annî adzbahuka fanzhur mâdzâ tarâ, qâla yâ abatif’al mâ tu’mar, satajidunî in syâ’allâhu minash-shâbirîn.
Maka ketika anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dia (anaknya) menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.”
Ketika keduanya telah berserah diri dan Nabi Ibrahim membaringkan putranya, Allah memanggil beliau dan menyatakan bahwa beliau telah membenarkan mimpi itu (QS. Ash-Shaffat: 103-105). Ujian ini adalah ujian yang nyata (QS. Ash-Shaffat: 106). Lalu Allah menggantinya dengan hewan sembelihan. Allah berfirman dalam QS. Ash-Shaffat ayat 107:
وَفَدَيْنٰهُ بِذِبْحٍ عَظِيْمٍ
Wa fadaynâhu bidzibhin ‘azhîm.
Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.
Peristiwa ini diperingati umat Islam setiap Iduladha melalui ibadah kurban. Mayoritas ulama, di antaranya Ibnu Katsir, berpendapat bahwa putra yang dimaksud adalah Ismail AS, meskipun Al-Quran tidak menyebut namanya.
Membangun Ka’bah dan Seruan Haji
Nabi Ibrahim AS bersama putranya, Nabi Ismail AS, membangun Ka’bah di Makkah. Dalam hadis riwayat Al-Bukhari, Nabi Ismail membawakan batu dan Nabi Ibrahim menyusunnya, hingga beliau berdiri di atas sebuah batu, yang kini dikenal sebagai Maqam Ibrahim. Sambil bekerja, keduanya berdoa. Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 127:
وَاِذْ يَرْفَعُ اِبْرٰهٖمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَاِسْمٰعِيْلُۗ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّاۗ اِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
Wa idz yarfa’u Ibrâhîmul-qawâ’ida minal-baiti wa Ismâ’îl, rabbanâ taqabbal minnâ, innaka antas-samî’ul-‘alîm.
Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan fondasi Baitullah bersama Ismail, (seraya berdoa), “Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”
Allah juga memerintahkan beliau menyeru manusia untuk berhaji. Allah berfirman dalam QS. Al-Hajj ayat 27:
وَاَذِّنْ فِى النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوْكَ رِجَالًا وَّعَلٰى كُلِّ ضَامِرٍ يَّأْتِيْنَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيْقٍۙ
Wa adzdzin fin-nâsi bil-hajji ya’tûka rijâlaw wa ‘alâ kulli dhâmiriy ya’tîna min kulli fajjin ‘amîq.
Dan serukanlah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan dengan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh.
Seruan itu terus bergema hingga kini, ketika jutaan umat Islam datang ke Makkah setiap tahun. Kelak, Nabi Muhammad ﷺ diperintahkan mengikuti agama Ibrahim yang lurus (QS. An-Nahl: 123).
Doa-doa Nabi Ibrahim AS dalam Al-Quran
1. Doa Memohon Keturunan yang Saleh
Setelah berhijrah, Nabi Ibrahim memohon kepada Allah seorang anak yang saleh. Doa ini tercantum dalam QS. Ash-Shaffat ayat 100:
رَبِّ هَبْ لِيْ مِنَ الصّٰلِحِيْنَ
Rabbi hab lî minash-shâlihîn.
Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang saleh.
2. Doa untuk Keluarga dan Makkah
Ketika meninggalkan keluarganya di lembah Makkah, Nabi Ibrahim berdoa agar mereka mendirikan salat dan dikaruniai rezeki. Doa ini tercantum dalam QS. Ibrahim ayat 37:
رَبَّنَآ اِنِّيْٓ اَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِيْ بِوَادٍ غَيْرِ ذِيْ زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِۙ رَبَّنَا لِيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ فَاجْعَلْ اَفْـِٕدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِيْٓ اِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِّنَ الثَّمَرٰتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُوْنَ
Rabbanâ innî askantu min dzurriyyatî biwâdin ghairi dzî zar’in ‘inda baitikal-muharrami, rabbanâ liyuqîmush-shalâta faj’al af’idatam minan-nâsi tahwî ilaihim warzuqhum minats-tsamarâti la’allahum yasykurûn.
Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak ada tanam-tanaman di dekat Rumah Suci-Mu (Baitullah), ya Tuhan kami, (yang demikian itu) agar mereka melaksanakan salat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.
3. Doa Memohon Menjadi Hamba yang Berserah Diri
Setelah membangun Ka’bah, Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail berdoa agar keturunan mereka menjadi umat yang berserah diri. Doa ini tercantum dalam QS. Al-Baqarah ayat 128:
رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَآ اُمَّةً مُّسْلِمَةً لَّكَۖ وَاَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَاۚ اِنَّكَ اَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ
Rabbanâ waj’alnâ muslimaini laka wa min dzurriyyatinâ ummatam muslimatal-laka wa arinâ manâsikanâ wa tub ‘alainâ, innaka antat-tawwâbur-rahîm.
Ya Tuhan kami, jadikanlah kami orang yang berserah diri kepada-Mu, dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang berserah diri kepada-Mu dan perlihatkanlah kepada kami cara-cara melakukan ibadah (haji) kami, dan terimalah tobat kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.
Hal yang Tidak Dirinci dalam Al-Quran
Agar kisah ini tetap bersandar pada sumber yang kuat, perlu dipahami bahwa Al-Quran dan hadis sahih tidak merinci beberapa hal berikut:
- Tempat dan tahun kelahiran, usia, serta tahun wafat Nabi Ibrahim.
- Nama raja yang berdebat dengan beliau. Nama Namrud berasal dari riwayat, bukan dari Al-Quran.
- Status “Azar” (QS. Al-An’am: 74). Para ulama berbeda pendapat apakah Azar adalah ayah kandung atau kerabat yang disebut ayah dalam arti luas.
- Bentuk pembakaran, seperti ukuran api atau cara beliau dilemparkan.
- Nama putra yang diperintahkan untuk disembelih. Pendapat yang paling kuat menyebut Ismail, tetapi sebagian ulama menyebut Ishaq.
- Jenis burung dan lokasi bukit pada peristiwa penghidupan burung.
Rincian lain yang beredar di buku atau media, seperti kisah nyamuk yang menyerang raja atau percakapan panjang di dalam api, umumnya berasal dari riwayat Israiliyat yang tidak bisa dipastikan kebenarannya. Karena itu, Kisah Islamipedia hanya menegaskan apa yang disebut Al-Quran dan hadis yang sahih.
Kesimpulan
Kisah Nabi Ibrahim AS mengajarkan kita tentang keberanian membela tauhid, tawakal kepada Allah, pengorbanan, dan kepasrahan total kepada perintah-Nya. Dari mencari Tuhan hingga membangun Ka’bah, seluruh hidup beliau adalah pelajaran. Allah berfirman dalam QS. Al-Mumtahanah ayat 4 (potongan ayat):
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِيْٓ اِبْرٰهِيْمَ وَالَّذِيْنَ مَعَهٗۚ
Qad kânat lakum uswatun hasanatun fî Ibrâhîma wal-ladzîna ma’ahû.
Sungguh, telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dia.
Nama beliau juga selalu disebut umat Islam dalam salawat pada tahiyat akhir setiap salat. Semoga kita dapat meneladani keberanian dan keteguhan hati beliau.
Wallâhu a’lam bish-shawâb.





1 komentar