Cerita • Teladan • Hikmah

Islamipedia.id

Sebelum Hijrah Bagian 10 dari 10

Baiat Aqbah Pertama dan Konsekuensinya bagi Dakwah Islam

Baiat Aqbah Pertama dan Konsekuensinya bagi Dakwah Islam

Peristiwa Baiat Aqbah Pertama merupakan salah satu tonggak sejarah yang sangat menentukan dalam perjalanan dakwah Nabi Muhammad ﷺ. Di tengah gelombang penolakan yang begitu kuat dari kaum kafir Quraisy di Makkah, secercah harapan justru muncul dari kota Yathrib, yang kemudian dikenal sebagai Madinah. Peristiwa ini tidak hanya menandai masuk Islamnya beberapa penduduk Yathrib, tetapi juga menjadi fondasi awal bagi terbukanya jalan hijrah kaum Muslimin keluar dari Makkah. Sebagaimana dijelaskan dalam Dakwah Awal Nabi Muhammad ﷺ di Makkah: Sembunyi hingga Terang-terangan, fase dakwah di Makkah dipenuhi dengan rintangan fisik maupun psikologis yang sangat melelahkan bagi para sahabat.

Latar Belakang Peristiwa

Sebelum terjadinya Baiat Aqbah Pertama, kondisi umat Islam di Makkah berada dalam situasi yang sangat memprihatinkan dan penuh dengan tekanan. Tekanan dan penyiksaan dari kaum Quraisy semakin menjadi-jadi, terutama setelah wafatnya pelindung utama Nabi Muhammad ﷺ yaitu Abu Thalib dan istri tercinta Khadijah binti Khuwailid, sebuah masa yang dikenal sebagai tahun kesedihan. Berbagai bentuk pemboikotan juga pernah dirasakan, seperti yang diulas dalam Pemboikotan Bani Hasyim dan Peran Abu Thalib dalam Sirah, yang semakin mempersempit ruang gerak ekonomi dan sosial kaum Muslimin. Dalam situasi yang seakan menemui jalan buntu di Makkah, Rasulullah ﷺ mulai memperluas jangkauan dakwahnya kepada kabilah-kabilah yang datang ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji di musim haji. Beliau mendatangi tenda-tenda suku Arab untuk menawarkan Islam dan mencari suaka serta perlindungan agar dakwah ini dapat disiarkan secara aman. Di sinilah takdir mempertemukan beliau dengan beberapa orang dari suku Khazraj asal Yathrib yang datang ke Makkah untuk berhaji. Penduduk Yathrib ini sudah sering mendengar tentang kenabian dari kaum Yahudi setempat, sehingga ketika mereka mendengarkan bacaan Al-Quran dan dakwah dari Nabi Muhammad ﷺ, hati mereka langsung terbuka untuk menerima kebenaran tersebut.

Kronologi Peristiwa

Pertemuan awal yang penuh berkah ini terjadi pada musim haji, setahun sebelum peristiwa Baiat Aqbah Pertama secara resmi dilangsungkan. Sekelompok kecil dari suku Khazraj yang berjumlah sekitar enam orang mendengarkan dakwah Rasulullah ﷺ di bukit Aqbah di Mina, lalu mereka masuk Islam dan berjanji akan menyebarkan ajaran tersebut sekembalinya mereka ke Yathrib. Setahun berikutnya, tepatnya pada tahun ke-13 kenabian, datanglah delegasi yang lebih besar dari Yathrib ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Delegasi ini terdiri dari dua belas orang laki-laki, yang sebagian besar berasal dari suku Khazraj dan beberapa orang dari suku Aus. Mereka menemui Nabi Muhammad ﷺ secara diam-diam di tempat yang sama, yaitu Aqbah di Mina, pada malam hari demi menghindari pengintaian dari kaum musyrik Quraisy. Dalam pertemuan tersebut, mereka membaiat Rasulullah ﷺ dengan baiat yang kemudian dikenal sebagai Baiat Aqbah Pertama atau Baiat An-Nisa dalam sebagian riwayat.

يٰٓاَيُّهَا النَّبِيُّ اِذَا جَاۤءَكَ الْمُؤْمِنٰتُ يُبَايِعْنَكَ عَلٰٓى اَنْ لَّا يُشْرِكْنَ بِاللّٰهِ شَيْـًٔا وَّلَا يَسْرِقْنَ وَلَا يَزْنِيْنَ وَلَا يَقْتُلْنَ اَوْلَادَهُنَّ وَلَا يَأْتِيْنَ بِبُهْتَانٍ يَّفْتَرِيْنَهٗ بَيْنَ اَيْدِيْهِنَّ وَاَرْجُلِهِنَّ وَلَا يَعْصِيْنَكَ فِيْ مَعْرُوْفٍ فَبَايِعْهُنَّ وَاسْتَغْفِرْ لَهُنَّ اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Yā ayyuhan-nabiyyu iżā jā'akal-mu'minātu yubāyi‘naka ‘alā allā yusyrikna billāhi syai'aw wa lā yasriqna wa lā yaznīna wa lā yaqtulna aulādahunna wa lā ya'tīna bibuhtāniy yaftarīnahū baina aidīhinna wa arjulihinna wa lā ya‘ṣīnaka fī ma‘rūfin fabāyi‘hunna wastagfir lahunnallāh(a), innallāha gafūrur raḥīm(un).

Wahai Nabi, apabila perempuan-perempuan mukmin datang kepadamu untuk mengadakan baiat (janji setia) bahwa mereka tidak akan mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, terimalah baiat mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Mumtahanah: 12)

Isi baiat pada saat itu meliputi janji untuk tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak, tidak berbuat dusta dan fitnah, serta tidak mendurhakai Nabi Muhammad ﷺ dalam perkara yang baik. Setelah baiat tersebut selesai dilaksanakan, Rasulullah ﷺ mengutus Mush’ab bin Umair RA membersamai mereka kembali ke Yathrib untuk mengajarkan Al-Quran, islamisasi penduduk setempat, dan mempersiapkan kota tersebut sebagai pusat baru bagi peradaban Islam.

Tokoh-tokoh yang Terlibat

  • Nabi Muhammad ﷺ: Pemimpin dakwah yang membimbing para delegasi Yathrib dan menerima ikrar kesetiaan serta sumpah baiat mereka di Mina.
  • Mush’ab bin Umair RA: Sahabat mulia yang diutus oleh Rasulullah ﷺ ke Yathrib sebagai duta Islam pertama untuk mengajarkan agama kepada penduduk setempat atas permintaan mereka.
  • As’ad bin Zurarah RA: Salah satu tokoh penting dari suku Khazraj yang memimpin delegasi Yathrib dan berperan besar dalam menyebarkan Islam di kota asalnya.

Pelajaran dari Peristiwa

  • Kesabaran dan keteguhan Rasulullah ﷺ dalam mencari jalan keluar bagi umatnya membuahkan hasil dengan terbukanya peluang dakwah di luar Makkah.
  • Pentingnya persiapan kaderisasi dan pendidikan agama sebelum sebuah masyarakat dijadikan pusat atau basis utama kekuasaan Islam.
  • Peran strategis generasi muda dan tokoh lokal dalam menerima serta memperjuangkan kebenaran Islam di tengah kaum mereka sendiri.

Kesimpulan

Peristiwa Baiat Aqbah Pertama merupakan titik balik yang sangat krusial dalam sejarah peradaban Islam sebelum masa hijrah. Peristiwa ini membuktikan bahwa pertolongan Allah SWT selalu datang tepat pada waktunya bagi hamba-hamba-Nya yang sabar dan gigih memperjuangkan agama-Nya. Dengan masuk Islamnya para penduduk Yathrib dan dikirimnya duta Islam ke sana, jalan menuju hijrah dan pendirian masyarakat madani yang berdaulat mulai terbuka lebar. Pesan moral dari peristiwa ini adalah pentingnya menjaga komitmen terhadap nilai-nilai keimanan serta kesiapan berkorban demi tegaknya kalimat Allah di muka bumi.

Wallâhu a’lam bish-shawâb.

Rujukan

Sirah Ibnu Hisyam

Al-Bidayah wan Nihayah

Tafsir Ibnu Katsir

QS. Al-Mumtahanah: 12

Baca juga

Baca Al-Quran & Hadits

Kunjungi Islamipedia