Peristiwa Isra Mi’raj merupakan salah satu mukjizat terbesar yang diberikan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad ﷺ di tengah-tengah masa-masa sulit dalam dakwah beliau. Perjalanan malam yang luar biasa ini tidak hanya menjadi hiburan ruhani bagi Rasulullah ﷺ setelah wafatnya orang-orang tercinta, tetapi juga menjadi tonggak disyariatkannya ibadah sholat lima waktu bagi seluruh umat Islam. Memahami detik-detik peristiwa agung ini akan mempertebal keimanan kita kepada kekuasaan Allah SWT dan meneladani kesabaran sang Nabi Muhammad ﷺ dalam mengemban amanah risalah.
Profil Singkat Nabi Muhammad ﷺ
Nabi Muhammad ﷺ adalah nabi akhir zaman yang diutus untuk seluruh umat manusia sebagai rahmat bagi semesta alam. Beliau lahir di Makkah pada tahun Gajah dari pasangan Abdullah bin Abdul Muthalib dan Aminah binti Wahab. Sejak kecil, beliau dikenal memiliki akhlak yang mulia, jujur, dan terpercaya sehingga mendapat gelar Al-Amin dari kaumnya sebelum masa kenabian diangkat pada usia empat puluh tahun melalui wahyu pertama di Gua Hira.
Sebagai penutup para nabi, beliau menghadapi berbagai rintangan berat dalam menyebarkan ajaran Islam di tengah masyarakat jahiliyah Makkah. Meskipun demikian, beliau tetap teguh menyampaikan risalah tauhid dengan penuh kesabaran, kelembutan, dan ketabahan. Perjuangan beliau bersama para sahabat tercinta menjadi fondasi kokoh tegaknya agama Islam yang terus berkembang hingga masa-masa sulit seperti tahun kesedihan, di mana paman beliau Abu Thalib dan istri tercinta Khadijah wafat berurutan.
Kelahiran dan Masa Kecil
Kisah hidup Nabi Muhammad ﷺ dipenuhi dengan tanda-tanda kebesaran Allah SWT sejak beliau dilahirkan dalam keadaan yatim. Ayahnya, Abdullah, wafat sebelum beliau lahir, meninggalkan kesan mendalam bagi ibunya, Aminah. Sesuai tradisi masyarakat Arab bangsawan saat itu, beliau kemudian disusui dan dirawat oleh Halimah sa’diyyah dari Bani Sa’ad di perkampungan pedesaan yang tenang dan subur.
Masa kecil beliau di perkampungan Bani Sa’ad diwarnai dengan berkah yang melimpah bagi keluarga ibu susunya. Peristiwa pembelahan dada oleh malaikat Jibril AS terjadi pada masa kanak-kanak beliau untuk membersihkan hatinya dari segala sifat buruk dan godaan setan. Setelah itu, beliau kembali kepada ibundanya, namun tak lama kemudian sang ibu tercinta wafat di Abwa, meninggalkan beliau dalam asuhan kakeknya Abdul Muthalib, dan kemudian pamannya Abu Thalib.
Perjalanan Dakwah dan Latar Belakang Isra Mi’raj
Dakwah Islam pada periode Makkah menghadapi tantangan, penolakan, dan penyiksaan yang berat dari kaum kafir Quraisy. Puncak kesedihan beliau terjadi pada “Amul Huzni” atau tahun kesedihan, ketika pendukung utamanya secara sosial dan politik, yaitu Abu Thalib dan Khadijah, wafat dalam waktu berdekatan. Dalam kondisi kelelahan fisik dan kesedihan mendalam setelah perjalanan dakwah yang melelahkan ke Thaif, Allah SWT menghendaki untuk menghibur hati kekasih-Nya dengan perjalanan yang melampaui batas ruang dan waktu.
Peristiwa Isra Mi’raj diabadikan dalam Al-Quran sebagai perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, dilanjutkan naik ke Sidratul Muntaha. Sebagaimana firman Allah SWT:
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Subḥānal-lażī asrā bi‘abdihī lailam minal-masjidil ḥarāmi ilal-masjidil-aqṣal-lażī bāraknā ḥaulahū linuriyahū min āyātinā, innahū huwas-samī‘ul-baṣīr(u).
Maha Suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS. Al-Isra': 1)
Mukjizat Isra Mi’raj Nabi Muhammad ﷺ
Mukjizat Isra Mi’raj adalah perjalanan luar biasa yang ditempuh Nabi Muhammad ﷺ hanya dalam waktu satu malam menggunakan kendaraan Buraq, didampingi oleh Malaikat Jibril AS. Peristiwa ini menguji keimanan umat manusia kala itu, di mana sebagian orang kafir langsung mendustakannya, sementara Abu Bakar RA langsung membenarkannya tanpa ragu sedikit pun sehingga mendapat gelar Ash-Shiddiq.
- Perjalanan malam dari Makkah ke Baitul Maqdis di Palestina dalam waktu sangat singkat.
- Menjadi imam sholat bagi para nabi terdahulu di Masjidil Aqsa.
- Naik menembus tujuh lapis langit hingga Sidratul Muntaha dan menerima langsung perintah kewajiban sholat lima waktu.
Doa-doa dalam Peristiwa Agung
1. Doa Perlindungan dan Penyerahan Diri
لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَا ۗ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَآ اِنْ نَّسِيْنَآ اَوْ اَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَآ اِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهٗ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهٖۚ وَاعْفُ عَنَّاۗ وَاغْفِرْ لَنَاۗ وَارْحَمْنَا ۗ اَنْتَ مَوْلٰىنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكٰفِرِيْنَ ࣖ
Lā yukallifullāhu nafsan illā wus‘ahā, lahā mā kasabat wa ‘alaihā maktasabat, rabbanā lā tu'ākhiżnā in nasīnā au akhṭa'nā, rabbanā wa lā taḥmil ‘alainā iṣran kamā ḥamaltahū ‘alal-lażīna min qablinā, rabbanā wa lā tuḥammilnā mā lā ṭāqata lanā bih(ī), wa‘fu ‘annā, wagfir lanā, warḥamnā, anta maulānā fanṣurnā ‘alal qaumil-kāfirīn(a).
Allah tidak membebani seseorang, kecuali menurut kesanggupannya. Baginya ada sesuatu (pahala) dari (kebajikan) yang diusahakannya dan terhadapnya ada (pula) sesuatu (siksa) atas (kejahatan) yang diperbuatnya. (Mereka berdoa,) “Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami salah. Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami. Maka, tolonglah kami dalam menghadapi kaum kafir.” (QS. Al-Baqarah: 286)
Kesimpulan
Peristiwa Isra Mi’raj memberikan pelajaran mendalam bahwa di balik setiap kesulitan yang dihadapi seorang hamba, selalu ada pertolongan dan kemuliaan dari Allah SWT. Perintah sholat lima waktu yang diterima langsung dalam peristiwa ini menegaskan kedudukan sholat sebagai tiang agama dan sarana komunikasi utama antara hamba dengan Sang Pencipta. Mari kita jadikan momentum ini untuk terus memperbaiki kualitas ibadah sholat kita sehari-hari dan meneladani keteguhan iman Rasulullah ﷺ dalam menghadapi berbagai dinamika kehidupan.
Wallâhu a’lam bish-shawâb.







