Cerita • Teladan • Hikmah

Islamipedia.id

Doa & Mukjizat Nabi

Kisah Isra’ Mi’raj: Perjalanan Malam Nabi Muhammad ﷺ

Kisah Isra' Mi'raj Perjalanan Malam Nabi Muhammad ﷺ

Isra’ Mi’raj adalah perjalanan malam Nabi Muhammad ﷺ dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsha di Yerusalem, lalu naik ke Sidratul Muntaha. Peristiwa ini adalah salah satu mukjizat terbesar Nabi Muhammad ﷺ.

Pengertian Isra’ Mi’raj

  • Isra’ — perjalanan malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha.
  • Mi’raj — perjalanan naik dari Masjidil Aqsha ke Sidratul Muntaha (langit ke-7).

Latar Belakang Isra’ Mi’raj

Isra’ Mi’raj terjadi pada tahun 621 M, sekitar 1 tahun sebelum hijrah. Saat itu, Nabi Muhammad ﷺ sedang menghadapi masa sulit: pamannya Abu Thalib wafat, istrinya Khadijah wafat, dan dakwah di Thaif ditolak. Allah memberikan mukjizat ini untuk menghibur dan menguatkan Nabi.

Perjalanan Isra’

Pada malam itu, Nabi Muhammad ﷺ sedang tidur di rumah Ummu Hani. Malaikat Jibril datang dan membangunkan beliau. Jibril membawa Buraq — seekor hewan tunggangan berwarna putih, lebih besar dari keledai dan lebih kecil dari bagal.

Nabi Muhammad ﷺ menunggangi Buraq dan berangkat dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha. Dalam perjalanan, beliau singgah di beberapa tempat dan shalat 2 rakaat di sana. Di Masjidil Aqsha, beliau menjadi imam shalat bagi para nabi sebelumnya.

Allah berfirman dalam QS. Al-Isra ayat 1:

سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَا ۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

Subhânal-ladzî asrâ bi’abdihî lailam minal-masjidil-harâmi ilal-masjidil-aqshal-ladzî bâraknâ haulahû linuriyahû min âyâtinâ, innahû huwas-samî’ul-bashîr.

Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.

Perjalanan Mi’raj

Dari Masjidil Aqsha, Nabi Muhammad ﷺ naik ke langit bersama Jibril. Beliau melewati 7 langit:

  • Langit 1: Bertemu Nabi Adam AS.
  • Langit 2: Bertemu Nabi Isa AS dan Nabi Yahya AS.
  • Langit 3: Bertemu Nabi Yusuf AS.
  • Langit 4: Bertemu Nabi Idris AS.
  • Langit 5: Bertemu Nabi Harun AS.
  • Langit 6: Bertemu Nabi Musa AS.
  • Langit 7: Bertemu Nabi Ibrahim AS.

Setelah melewati 7 langit, Nabi Muhammad ﷺ sampai di Sidratul Muntaha — batas tertinggi yang tidak bisa dilampaui makhluk. Di sana, beliau menerima perintah shalat 5 waktu langsung dari Allah.

Perintah Shalat 5 Waktu

Allah memerintahkan shalat 50 waktu kepada Nabi Muhammad ﷺ. Namun, setelah berkonsultasi dengan Nabi Musa AS, jumlahnya dikurangi menjadi 5 waktu. Meski hanya 5 waktu, pahalanya sama dengan 50 waktu.

Kembali ke Makkah

Setelah menerima perintah shalat, Nabi Muhammad ﷺ kembali ke Makkah. Beliau menceritakan peristiwa ini kepada kaum Quraisy. Sebagian besar menolak dan menganggapnya tidak masuk akal. Namun, Abu Bakar Ash-Shiddiq langsung mempercayai dan membenarkan peristiwa ini tanpa ragu. Sejak itu, beliau dijuluki Ash-Shiddiq (yang membenarkan).

Pelajaran dari Isra’ Mi’raj

  • Isra’ Mi’raj adalah mukjizat terbesar.
  • Perintah shalat 5 waktu diterima langsung.
  • Allah memperlihatkan tanda-tanda kebesaran-Nya.
  • Kesabaran Nabi menghadapi penolakan.
  • Iman kepada Isra’ Mi’raj adalah bagian iman.

Kesimpulan

Isra’ Mi’raj adalah peristiwa luar biasa yang menunjukkan kekuasaan Allah dan kemuliaan Nabi Muhammad ﷺ. Peristiwa ini mengajarkan kita tentang pentingnya shalat, kesabaran, dan keimanan. Semoga kita bisa meneladani keteguhan iman Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Wallâhu a’lam bish-shawâb.

Rujukan

QS. Al-Isra: 1

QS. An-Najm: 1-18

Sirah Ibnu Hisyam

Baca juga