Cerita • Teladan • Hikmah

Islamipedia.id

Nabi-nabi Lain Bagian 1 dari 5

Kisah Nabi Yunus AS Lengkap: Ditelan Ikan Besar dan Doa Mustajab

Kisah Nabi Yunus AS Lengkap Ditelan Ikan Besar dan Doa Mustajab

Nabi Yunus AS adalah salah satu rasul Allah yang kisahnya diabadikan dalam Al-Quran dengan sebutan Dzun-Nun dan Shahibul Hut (pemilik ikan). Beliau pernah ditelan ikan besar setelah meninggalkan kaumnya, lalu bertobat dengan doa yang sangat terkenal dan diselamatkan Allah. Kisah ini mengajarkan tentang kesabaran dalam berdakwah, kekuatan tobat, dan luasnya rahmat Allah. Mari kita pelajari kisahnya dari Al-Quran dan hadis sahih.

Profil Singkat Nabi Yunus AS

Berikut gambaran singkat tentang Nabi Yunus AS:

  • Nama: Yunus bin Matta AS, sebagaimana disebut dalam hadis sahih.
  • Gelar dalam Al-Quran: Dzun-Nun dan Shahibul Hut.
  • Kaum yang diutus: penduduk Ninawa, yang menurut para ahli sejarah dan tafsir berada di wilayah Irak sekarang (sekitar Mosul).
  • Jumlah kaumnya: seratus ribu orang atau lebih (QS. Ash-Shaffat: 147).
  • Disebut dalam Al-Quran: antara lain dalam Surah Yunus, Al-Anbiya, Ash-Shaffat, dan Al-Qalam. Surah ke-10 dinamai dengan namanya.

Allah menegaskan kedudukan beliau dalam QS. Ash-Shaffat: 139, “Dan sesungguhnya Yunus benar-benar termasuk para rasul.” Rasulullah ﷺ juga bersabda bahwa tidak pantas bagi seorang hamba mengatakan dirinya lebih baik daripada Yunus bin Matta (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Dakwah kepada Kaum Ninawa

Nabi Yunus AS diutus kepada penduduk Ninawa untuk mengajak mereka menyembah Allah semata dan meninggalkan penyembahan selain-Nya. Para ahli tafsir menyebutkan bahwa kaumnya adalah penyembah berhala. Dakwah dijalankan dalam waktu yang panjang, tetapi mereka tetap mendustakan dan berpaling.

Ketika dakwah tidak membuahkan hasil, beliau memperingatkan mereka tentang datangnya azab. Namun beliau kemudian pergi sebelum menerima izin dari Allah untuk meninggalkan mereka. Inilah awal dari ujian besar yang menimpa Nabi Yunus AS.

Meninggalkan Kaumnya dan Ditelan Ikan Besar

1. Pergi dalam Keadaan Marah

Al-Quran menggambarkan sikap Nabi Yunus AS sebagai berikut. Beliau pergi dalam keadaan marah, lalu menyangka bahwa Allah tidak akan menyempitkan (menyulitkan) keadaannya. Menurut para ulama tafsir, kemarahan beliau ditujukan kepada kaumnya yang keras kepala. Namun, beliau meninggalkan mereka sebelum ada perintah dari Allah, sehingga Allah mengujinya.

2. Undian di Atas Kapal dan Dilemparkan ke Laut

Beliau naik ke kapal yang penuh muatan. Al-Quran menyebutkan bahwa terjadi undian, dan beliau termasuk orang yang kalah (QS. Ash-Shaffat: 140-141). Sebagian riwayat dari ahli tafsir menyebut kapal itu diguncang badai hingga penumpangnya merasa harus mengurangi beban. Rincian riwayat, seperti berapa kali undian dilakukan, tidak disebut dalam Al-Quran maupun hadis sahih, sehingga sebaiknya tidak dijadikan pegangan pasti.

3. Ditelan Ikan Besar

Setelah dilemparkan ke laut, Allah mengirim seekor ikan besar untuk menelan Nabi Yunus AS. Beliau berada di dalam perut ikan itu dalam kegelapan berlapis, yaitu gelapnya malam, gelapnya lautan, dan gelapnya perut ikan, sebagaimana dijelaskan sebagian ulama tafsir. Al-Quran tidak menyebutkan berapa lama beliau berada di sana.

Allah berfirman dalam QS. Ash-Shaffat ayat 142-144:

فَالْتَقَمَهُ الْحُوْتُ وَهُوَ مُلِيْمٌ ۚ فَلَوْلَآ اَنَّهٗ كَانَ مِنَ الْمُسَبِّحِيْنَ ۙ لَلَبِثَ فِيْ بَطْنِهٖٓ اِلٰى يَوْمِ يُبْعَثُوْنَ

Faltaqamahul-hûtu wa huwa mulîm, fa lau lâ annahû kâna minal-musabbihîn, lalabitsa fî bathnihî ilâ yaumi yub’atsûn.

Maka ia ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela. Maka sekiranya dia tidak termasuk orang yang banyak berzikir (bertasbih) kepada Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit.

Ayat ini menunjukkan bahwa kebiasaan Nabi Yunus AS bertasbih sebelum ujian datang menjadi sebab Allah menyelamatkannya.

Doa Mustajab Nabi Yunus AS

1. Doa di dalam Kegelapan

Di dalam kegelapan itu Nabi Yunus AS berdoa dengan penuh pengakuan dan penyesalan. Allah berfirman dalam QS. Al-Anbiya ayat 87:

وَذَا النُّونِ إِذ ذَّهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَن لَّن نَّقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَىٰ فِي الظُّلُمَاتِ أَن لَّا إِلَٰهَ إِلَّا أَنتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

Wa dzan-nûni idz dzahaba mughâdhiban fazhanna al lan naqdira ‘alaihi fanâdâ fîzh-zhulumâti an lâ ilâha illâ anta subhânaka innî kuntu minazh-zhâlimîn.

Dan (ingatlah kisah) Dzun-Nun (Yunus), ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya, maka dia berdoa dalam keadaan yang sangat gelap, “Tidak ada tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.”

Doa pendek yang dibaca dalam perut ikan itu berisi tiga unsur penting: pengakuan tauhid, penyucian Allah dari segala kekurangan, dan pengakuan dosa.

لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

Lâ ilâha illâ anta subhânaka innî kuntu minazh-zhâlimîn.

Tidak ada Tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.

2. Doa Dikabulkan oleh Allah

Allah mengabulkan doa Nabi Yunus AS dan menyelamatkannya dari kesusahan. Allah berfirman dalam QS. Al-Anbiya ayat 88:

فَاسْتَجَبْنَا لَهٗ وَنَجَّيْنٰهُ مِنَ الْغَمِّ ۗ وَكَذٰلِكَ نُنْجِى الْمُؤْمِنِيْنَ

Fastajabnâ lahû wa najjainâhu minal-ghamm, wa kadzâlika nunjil-mu’minîn.

Maka Kami kabulkan (doa)nya dan Kami selamatkan dia dari kedukaan. Dan demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang mukmin.

3. Keutamaan Doa Dzun-Nun

Dalam hadis riwayat At-Tirmidzi, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa doa Dzun-Nun ketika berdoa dalam perut ikan tidak dibaca oleh seorang muslim untuk suatu keperluan kecuali Allah akan mengabulkannya. Hadis ini dinilai sahih oleh sebagian ulama hadis. Karena itu, doa ini sering diamalkan ketika seseorang menghadapi kesulitan. Doa ini juga dikenal sebagai salah satu doa yang mustajab, dan Anda dapat membaca doa-doa lain di kumpulan doa Islamipedia.

Karunia dan Mukjizat Nabi Yunus AS

Al-Quran menyebut beberapa peristiwa luar biasa dalam kisah Nabi Yunus AS yang terjadi atas kehendak Allah:

  • Bertahan hidup di dalam perut ikan besar dalam kegelapan yang pekat.
  • Dikeluarkan dari perut ikan dan dilemparkan ke daratan yang tandus dalam keadaan sakit (QS. Ash-Shaffat: 145).
  • Ditumbuhkannya pohon yaqthin (sejenis tanaman labu) yang menaunginya (QS. Ash-Shaffat: 146).
  • Diselamatkannya seluruh kaumnya dari azab setelah mereka beriman.

Allah berfirman dalam QS. Ash-Shaffat ayat 145-148:

فَنَبَذْنَاهُ بِالْعَرَاءِ وَهُوَ سَقِيمٌ ۝ وَأَنبَتْنَا عَلَيْهِ شَجَرَةً مِّن يَقْطِينٍ ۝ وَأَرْسَلْنَاهُ إِلَىٰ مِائَةِ أَلْفٍ أَوْ يَزِيدُونَ ۝ فَآمَنُوا فَمَتَّعْنَاهُمْ إِلَىٰ حِينٍ

Fa nabadznâhu bil-‘arâ’i wa huwa saqîm. Wa ambatnâ ‘alaihi syajaratam miy yaqthîn. Wa arsalnâhu ilâ mi’ati alfin au yazîdûn. Fa âmanû fa matta’nâhum ilâ hîn.

Kemudian Kami lemparkan dia ke daerah yang tandus, sedang dia dalam keadaan sakit. Dan untuk dia Kami tumbuhkan sebatang pohon dari jenis labu. Dan Kami utus dia kepada seratus ribu (orang) atau lebih. Lalu mereka beriman, karena itu Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu tertentu.

Kaum Nabi Yunus Bertobat

Setelah Nabi Yunus AS meninggalkan mereka, kaumnya melihat tanda-tanda datangnya azab. Menurut keterangan para ahli tafsir, mereka lalu bertobat dengan sungguh-sungguh dan beriman kepada Allah. Allah menerima tobat mereka dan mengangkat azab dari mereka. Karena itu, kaum Yunus disebut dalam Al-Quran sebagai satu-satunya negeri yang imannya bermanfaat setelah azab terlihat.

Allah berfirman dalam QS. Yunus ayat 98:

فَلَوْلَا كَانَتْ قَرْيَةٌ اٰمَنَتْ فَنَفَعَهَآ اِيْمَانُهَا اِلَّا قَوْمَ يُوْنُسَ ۗ لَمَّآ اٰمَنُوْا كَشَفْنَا عَنْهُمْ عَذَابَ الْخِزْيِ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَمَتَّعْنٰهُمْ اِلٰى حِيْنٍ

Fa lau lâ kânat qaryatun âmanat fa nafa’ahâ îmânuhâ illâ qauma Yûnus, lammâ âmanû kasyafnâ ‘anhum ‘adzâbal-khizyi fil-hayâtid-dunyâ wa matta’nâhum ilâ hîn.

Maka mengapa tidak ada (penduduk) suatu negeri pun yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? Ketika mereka (kaum Yunus itu) beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai waktu tertentu.

Setelah sembuh, Nabi Yunus AS kembali kepada kaumnya yang telah beriman. Kisah kaum yang menolak para rasul dapat dibandingkan dengan kisah Nabi Nuh AS, yang kaumnya tetap ingkar sampai azab datang.

Kesimpulan

Kisah Nabi Yunus AS mengajarkan bahwa seorang hamba, bahkan seorang rasul, bisa diuji ketika terburu-buru. Namun pintu tobat selalu terbuka bagi yang kembali kepada Allah dengan tauhid, tasbih, dan penyesalan. Dalam QS. Al-Qalam: 48, Allah memerintahkan Nabi Muhammad ﷺ untuk bersabar dan tidak seperti Shahibul Hut, sebagai pengingat agar para penyeru kebenaran tidak meninggalkan tugasnya sebelum ada izin Allah.

Semoga kita dapat meneladani tasbih, tobat, dan kesabaran Nabi Yunus AS. Baca kisah nabi lainnya di kategori Kisah Para Nabi.

Wallâhu a’lam bish-shawâb.

Rujukan

QS. Al-Anbiya: 87-88

QS. Ash-Shaffat: 139-148

QS. Yunus: 98

QS. Al-Qalam: 48-50

HR. At-Tirmidzi (keutamaan doa Dzun-Nun) dan HR. Al-Bukhari dan Muslim (hadis Yunus bin Matta)

Baca juga