Cerita • Teladan • Hikmah

Islamipedia.id

Setelah Hijrah Bagian 3 dari 3

Perang Mu’tah: Pertempuran Pertama Melawan Kekaisaran

Perang Mu’tah: Pertempuran Pertama Melawan Kekaisaran

Perang Mu’tah merupakan salah satu peristiwa paling penting dan monumental dalam catatan sirah Nabawiyah. Pertempuran ini menandai benturan militer pertama kalinya antara kaum Muslimin dari Madinah dengan kekuatan adidaya dunia pada masa itu, yaitu Kekaisaran Romawi Timur atau Bizantium. Meskipun tidak dipimpin langsung oleh Nabi Muhammad ﷺ, ekspedisi militer ini melibatkan ribuan pasukan kaum Muslimin yang diutus ke wilayah perbatasan Syam. Peristiwa ini menguji mental, keteguhan iman, serta strategi militer kaum Muslimin dalam menghadapi musuh yang jauh lebih besar dalam hal jumlah maupun kelengkapan persenjataan.

Latar Belakang Perang Mu’tah

Latar belakang pertempuran ini bermula ketika Nabi Muhammad ﷺ mengirimkan seorang utusan bernama Al-Harits bin Umair Al-Azdi untuk menyampaikan surat dakwah kepada penguasa Busra di wilayah Syam. Namun, di tengah perjalanan, utusan Nabi ﷺ tersebut dicegat dan dibunuh secara kejam oleh Syurahbil bin Amr Al-Ghassani, seorang pembesar lokal yang beraliansi dengan Kekaisaran Bizantium. Pembunuhan terhadap seorang utusan diplomatik dalam tradisi bangsa Arab maupun hukum internasional saat itu merupakan pelanggaran berat dan tindakan perang yang tidak dapat diampuni begitu saja oleh kaum Muslimin.

Mendengar berita duka tersebut, Nabi Muhammad ﷺ sangat bersedih dan segera memerintahkan pengumpulan pasukan untuk menghukum para pelaku dan memberikan efek jera kepada pihak-pihak yang berani melecehkan utusan Islam. Pasukan besar yang terdiri dari tiga ribu prajurit disiapkan untuk berangkat menuju Mu’tah di wilayah Balqa, tanah Syam. Ini adalah jumlah pasukan terbesar yang pernah dikumpulkan kaum Muslimin dalam sebuah ekspedisi militer hingga saat itu, melampaui skala Perang Badar maupun Perang Uhud yang terjadi di masa-masa awal pembentukan masyarakat Madinah setelah peristiwa Hijrah Nabi Muhammad ﷺ ke Madinah.

Sebelum pasukan diberangkatkan, Nabi Muhammad ﷺ menetapkan tiga panglima perang secara berurutan untuk memimpin pasukan. Pemimpin pertama adalah Zaid bin Haritsah, kesayangan Rasulullah ﷺ. Jika Zaid gugur, kepemimpinan diserahkan kepada Ja’far bin Abi Thalib. Jika Ja’far gugur, maka pimpinan beralih kepada Abdullah bin Rawahah. Pesan ini menunjukkan pentingnya kesinambungan komando di medan perang yang berat, jauh sebelum pasukan penunjang lainnya seperti dalam Perang Tabuk terbentuk di kemudian hari.

Kronologi Peristiwa

Pasukan kaum Muslimin bergerak menuju utara hingga mendekati wilayah Ma’an di tanah Syam. Di sana, mereka mendapatkan informasi intelijen bahwa Heraklius, Kaisar Bizantium, telah mengerahkan pasukan besar yang diperkirakan mencapai seratus ribu prajurit, ditambah sekutu dari kabilah Arab Ghassaniah dalam jumlah yang sama. Menghadapi kekuatan raksasa yang berjumlah sekitar dua ratus ribu orang ini, sebagian sahabat sempat mengusulkan agar mereka mengirim surat kepada Nabi ﷺ untuk meminta tambahan pasukan atau menunggu instruksi selanjutnya. Namun, Abdullah bin Rawahah membakar semangat para prajurit dengan pidatonya yang mengingatkan bahwa kaum Muslimin tidak pernah berperang berdasarkan jumlah yang banyak, melainkan karena pertolongan Allah SWT dan tekad meraih syahid.

Pertempuran pun tak terhindarkan di dekat sebuah desa bernama Mu’tah. Pasukan Islam yang hanya berjumlah tiga ribu orang dikeroyok oleh gelombang pasukan Bizantium yang sangat masif. Pertempuran berjalan sangat tidak seimbang secara kuantitas, namun kaum Muslimin bertempur dengan keberanian yang luar biasa. Zaid bin Haritsah maju memegang panji Islam hingga ia gugur sebagai syahid di tengah terjangan musuh. Panji tersebut segera diambil oleh Ja’far bin Abi Thalib yang bertempur dengan gagah berani hingga kedua tangannya terpotong, lalu ia pun menyusul sahabatnya meraih syahid.

Estafet kepemimpinan kemudian beralih kepada Abdullah bin Rawahah yang juga bertempur dengan penuh kepahlawanan hingga akhirnya gugur di medan laga. Setelah ketiga panglima utama syahid, para sahabat segera bersepakat menunjuk Khalid bin Walid untuk memegang komando pasukan. Dengan kecerdasan taktisnya, Khalid segera mengatur ulang formasi pasukan dan melakukan taktik mundur teratur untuk menyelamatkan sisa tentara Muslim dari kehancuran total, sekaligus mengelabui musuh agar mengira pasukan Islam mendapat bala bantuan besar.

Tokoh-tokoh yang Terlibat

  • Nabi Muhammad ﷺ: Pemimpin tertinggi umat Islam yang merencanakan ekspedisi, menetapkan garis komando, dan memantau perkembangan berita dari Madinah secara spiritual.
  • Zaid bin Haritsah RA: Panglima perang pertama pilihan Rasulullah ﷺ yang memimpin pasukan dengan gagah berani hingga gugur di medan pertempuran.
  • Ja’far bin Abi Thalib RA: Panglima kedua yang menunjukkan kepahlawanan luar biasa dengan mempertahankan panji Islam hingga kedua tangannya terpotong.
  • Abdullah bin Rawahah RA: Panglima ketiga yang memberikan pidato penyemangat iman dan gugur sebagai syahid di Mu’tah.
  • Khalid bin Walid RA: Ahli strategi brilian yang mengambil alih komando di saat krisis dan berhasil menyelamatkan pasukan Islam kembali ke Madinah dengan selamat.

Pelajaran dari Perang Mu’tah

  • Keberanian sejati lahir dari kekuatan iman dan keyakinan penuh kepada pertolongan Allah SWT, bukan dari perbandingan jumlah pasukan yang banyak.
  • Pentingnya sistem kepemimpinan berjenjang dalam organisasi atau militer agar roda kepemimpinan tetap berjalan lancar meskipun pemimpin utama mengalami musibah.
  • Keutamaan para sahabat besar seperti Zaid, Ja’far, dan Abdullah bin Rawahah yang mengorbankan jiwa raga demi tegaknya kalimat Allah.
  • Kecerdasan taktis dalam kepemimpinan militer terbukti mampu menyelamatkan nyawa banyak prajurit dari kehancuran melalui strategi yang matang.

Kesimpulan

Perang Mu’tah bukan sekadar catatan benturan fisik antara kaum Muslimin dan Kekaisaran Bizantium, melainkan sebuah lembaran sejarah yang memuat teladan agung tentang pengorbanan, kepemimpinan, dan keluhuran akhlak para sahabat. Meskipun secara kuantitas pasukan Islam jauh tertinggal, keteguhan iman dan kecerdasan strategi yang diterapkan berhasil mengubah situasi genting menjadi sebuah kemenangan moral yang diakui dunia. Peristiwa ini semakin membuka jalan bagi pengaruh Islam di wilayah utara Jazirah Arab dan membuktikan bahwa pertolongan Allah selalu menyertai hamba-hamba-Nya yang ikhlas.

Wallâhu a’lam bish-shawâb.

Rujukan

Sirah Ibnu Hisyam

Al-Bidayah wan Nihayah

Tafsir Ibnu Katsir

QS. Al-Ahzab: 15

Baca juga

Baca Al-Quran & Hadits

Kunjungi Islamipedia