Cerita • Teladan • Hikmah

Islamipedia.id

Nabi Muhammad ﷺ Bagian 17 dari 17

Perjanjian Aqbah Pertama dan Kedua: Tonggak Sejarah Islam

Perjanjian Aqbah Pertama dan Kedua: Tonggak Sejarah Islam

Perjanjian Aqbah Pertama dan Kedua merupakan dua peristiwa monumental dalam sejarah awal Islam yang menjadi jembatan penting bagi kelangsungan dakwah Nabi Muhammad ﷺ. Setelah bertahun-tahun menghadapi penolakan keras dan tekanan berat dari kaum musyrikin Makkah, pertolongan Allah SWT datang melalui penduduk Yathrib yang kemudian dikenal sebagai kota Madinah. Peristiwa ini tidak hanya sekadar pertemuan politik biasa, tetapi sebuah ikrar suci keimanan dan perlindungan bagi Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya. Melalui perjanjian ini, angin segar mulai berhembus membawa harapan baru bagi masa depan umat Islam yang selama ini terisolasi di tanah kelahiran mereka sendiri.

Latar Belakang Perjanjian Aqbah

Kondisi dakwah Nabi Muhammad ﷺ di Makkah pada tahun-tahun menjelang hijrah semakin berada dalam tekanan yang luar biasa. Setelah wafatnya Abu Thalib sang paman dan Khadijah ra sang istri tercinta yang senantiasa mendampingi, perlindungan sosial bagi Nabi ﷺ semakin melemah. Penindasan dari kaum Quraisy semakin menjadi-jadi, membuat Rasulullah ﷺ berinisiatif mencari suaka dan tempat dakwah baru di luar kota Makkah. Beliau mulai mendatangi kabilah-kabilah yang datang untuk berhaji guna menawarkan risalah Islam dan meminta perlindungan agar dakwah dapat disiarkan dengan aman.

Dalam pencarian tersebut, takdir Allah SWT mempertemukan Nabi Muhammad ﷺ dengan beberapa orang dari kabilah Khazraj asal Yathrib di daerah Aqbah Mina. Penduduk Yathrib ini sudah sering mendengar tentang kenabian dari kaum Yahudi setempat yang kerap mengancam akan kedatangan seorang nabi akhir zaman. Ketika mendengar dakwah Rasulullah ﷺ dan mendengarkan bacaan Al-Quran, hati mereka terketuk dan langsung menyadari kebenaran risalah tersebut. Pertemuan awal yang penuh berkah inilah yang kemudian membuka jalan bagi terselenggaranya Perjanjian Aqbah Pertama pada tahun berikutnya.

Masyarakat Yathrib sendiri pada saat itu sangat membutuhkan figur pemimpin pemersatu yang disegani. Kota mereka telah lama dilanda perang saudara berkepanjangan antara dua suku besar, yakni Aus dan Khazraj, yang menguras energi dan korban jiwa yang tidak sedikit. Kehadiran Islam dan pribadi mulia Nabi Muhammad ﷺ dianggap sebagai solusi agung untuk meredam konflik internal tersebut. Dengan latar belakang kerinduan akan perdamaian dan cahaya hidayah, delegasi dari Yathrib datang kembali ke Makkah dengan jumlah yang lebih besar untuk mengikat janji kesetiaan kepada Rasulullah ﷺ.

Kronologi Peristiwa

Perjanjian Aqbah Pertama terjadi pada musim haji tahun ke-13 kenabian, di mana sejumlah dua belas orang dari penduduk Yathrib, terdiri dari suku Aus dan Khazraj, diam-diam menemui Nabi Muhammad ﷺ di Aqbah. Dalam pertemuan ini, mereka menyatakan keislaman dan berjanji setia kepada Rasulullah ﷺ dalam ikrar yang kemudian dikenal sebagai Baiat Wanita karena belum mencakup kewajiban perang. Mereka berbaiat untuk tidak menyekutukan Allah, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak, tidak berbuat curang, dan tidak mendurhakai Nabi ﷺ dalam urusan yang makruf. Setelah selesai, Nabi ﷺ mengutus Mush’ab bin Umair ra ke Madinah untuk mengajarkan Al-Quran kepada penduduk setempat.

Setahun berselang, tepatnya pada musim haji tahun ke-14 kenabian, Mush’ab bin Umair ra kembali ke Makkah bersama lebih dari tujuh puluh orang Muslim dari Yathrib, termasuk dua orang wanita. Mereka datang untuk melaksanakan ibadah haji sekaligus secara rahasia mengatur pertemuan lanjutan dengan Nabi Muhammad ﷺ di tempat yang sama pada malam hari tasyrik. Pertemuan inilah yang kemudian dicatat dalam sejarah sebagai Perjanjian Aqbah Kedua atau Baiat al-Harb. Dalam pertemuan tersebut, Abbas bin Abdul Muthalib yang saat itu belum masuk Islam turut hadir untuk memastikan keamanan keponakannya sebelum mereka membuat komitmen perlindungan total.

Rasulullah ﷺ kemudian membacakan beberapa ayat Al-Quran dan mengajak mereka untuk berbaiat dengan syarat utama melindungi beliau sebagaimana mereka melindungi anak istri mereka sendiri. Perjanjian ini menegaskan kesiapan penduduk Yathrib untuk menanggung risiko besar berupa permusuhan dengan seluruh bangsa Arab demi membela Islam. Salah seorang pemimpin mereka, Al-Bara’ bin Ma’rur ra, memegang tangan Nabi ﷺ dan menyatakan kesiapan penuh mereka untuk berperang demi membela agama Allah. Perjanjian agung ini diabadikan dalam sejarah sebagai fondasi utama yang memungkinkan terjadinya Pelajaran dari Sirah Nabawiyah: Teladan Nabi Muhammad ﷺ bagi umat Islam dalam membangun peradaban.

Tokoh-tokoh yang Terlibat

  • Nabi Muhammad ﷺ: Pemimpin dakwah Islam yang menerima baiat dan tawaran perlindungan dari penduduk Yathrib untuk menyelamatkan masa depan Islam.
  • Mush’ab bin Umair ra: Duta Islam pertama yang dikirim ke Madinah dan sukses mengislamkan banyak pemuka suku Aus dan Khazraj sebelum peristiwa Aqbah kedua.
  • Abbas bin Abdul Muthalib ra: Paman Nabi ﷺ yang turut hadir dalam Aqbah kedua untuk meyakinkan penduduk Yathrib mengenai konsekuensi berat melindungi Rasulullah ﷺ.
  • As’ad bin Zurarah ra: Salah satu tokoh penting dari suku Khazraj yang menjadi pelopor dalam menyambut dakwah Nabi ﷺ di Yathrib.
  • Al-Bara’ bin Ma’rur ra: Tokoh Anshar yang pertama kali membaiat Nabi ﷺ dalam perjanjian Aqbah kedua dengan penuh keyakinan dan keberanian.

Pelajaran dari Perjanjian Aqbah

  • Pertolongan Allah SWT selalu datang tepat pada waktunya melalui jalan yang tidak pernah disangka-sangka oleh manusia.
  • Pentingnya persiapan matang dan kaderisasi yang baik sebelum menegakkan sebuah masyarakat yang berlandaskan nilai-nilai Islam.
  • Loyalitas dan pengorbanan kaum Anshar dalam membela dakwah patut menjadi teladan agung bagi setiap generasi Muslim.

Kesimpulan

Perjanjian Aqbah Pertama dan Kedua merupakan titik balik yang sangat krusial dalam perjalanan dakwah Islam di muka bumi. Peristiwa ini membuktikan bahwa kesulitan dan penindasan di suatu tempat tidak akan mematikan kebenaran, melainkan Allah akan membukakan pintu rahmat di tempat lain. Berkat keteguhan iman para sahabat Anshar dan kebijaksanaan Nabi Muhammad ﷺ, jalan menuju hijrah terbuka lebar dan melahirkan masyarakat Islam yang mandiri di Madinah. Semangat persaudaraan dan pengorbanan yang ditunjukkan dalam peristiwa ini selamanya akan menjadi inspirasi abadi bagi umat Islam dalam menegakkan nilai-nilai keadilan dan tauhid.

Wallâhu a’lam bish-shawâb.

Rujukan

Sirah Ibnu Hisyam

Al-Bidayah wan Nihayah

QS. Al-Anfal: 72-74

Baca juga

Baca Al-Quran & Hadits

Kunjungi Islamipedia