Meskipun Al-Quran tidak menyebutkan mukjizat fisik yang spektakuler dari Nabi Ya’qub AS seperti halnya Nabi Musa atau Nabi Isa, beliau dianugerahi karunia spiritual yang luar biasa. Firasat, ilmu, dan keyakinan beliau menjadi bukti kemuliaan di sisi Allah. Artikel ini membahas karunia tersebut berdasarkan Al-Quran, sebagai bagian dari Kisah Para Nabi di Kisah Islamipedia.
Ilmu dari Allah
Allah menyebut Nabi Ya’qub AS sebagai pemilik ilmu karena pengajaran dari-Nya. Dalam QS. Yusuf ayat 68, Allah berfirman bahwa Ya’qub memiliki ilmu yang Kami ajarkan kepadanya. Nabi Ya’qub juga berkata kepada anak-anaknya bahwa ia mengetahui dari Allah apa yang tidak mereka ketahui. Ini menunjukkan kedalaman ilmu dan kedekatannya dengan Allah.
Firasat yang Tajam
Sejak awal, Nabi Ya’qub telah memahami bahwa mimpi Yusuf melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan bersujud adalah tanda kemuliaan. Karena itu, beliau berpesan agar Yusuf tidak menceritakan mimpinya kepada saudara-saudaranya (QS. Yusuf: 5). Firasat beliau terbukti: saudara-saudara Yusuf memang dilanda kecemburuan.
Mencium Aroma Yusuf dari Jauh
Salah satu karunia paling menakjubkan adalah ketika kafilah dari Mesir telah keluar, Nabi Ya’qub berkata bahwa dirinya mencium bau Yusuf. Allah berfirman dalam QS. Yusuf ayat 94:
وَلَمَّا فَصَلَتِ الْعِيرُ قَالَ أَبُوهُمْ إِنِّي لَأَجِدُ رِيحَ يُوسُفَ ۖ لَوْلَا أَن تُفَنِّدُونِ
Wa lammâ fashalatil-‘îru qâla abûhum innî la’ajidu rîha Yûsufa lau lâ an tufannidûn.
Dan ketika kafilah itu telah keluar (dari Mesir), ayah mereka berkata, “Sesungguhnya aku mencium bau Yusuf, sekiranya kamu tidak menganggap aku lemah akal (tentu kamu membenarkan aku).”
Orang-orang di sekitarnya menganggap beliau sedang melamun atau pikun karena terlalu merindukan Yusuf, namun apa yang beliau rasakan adalah karunia dari Allah.
Sembuhnya Penglihatan
Puncak dari karunia tersebut adalah ketika baju gamis Yusuf tiba dan diletakkan di wajah Nabi Ya’qub, penglihatannya yang sempat memutih karena kesedihan pulih kembali. Allah berfirman dalam QS. Yusuf ayat 96:
فَلَمَّا أَن جَاءَ الْبَشِيرُ أَلْقَاهُ عَلَىٰ وَجْهِهِ فَارْتَدَّ بَصِيرًا ۖ قَالَ أَلَمْ أَقُل لَّكُمْ إِنِّي أَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
Falammâ an jâ’al-basyîru alqâhu ‘alâ wajhihî fartadda bashîrâ, qâla alam aqul lakum innî a’lamu minallâhi mâ lâ ta’lamûn.
Maka ketika pembawa kabar gembira itu tiba, dia meletakkan baju gamis itu ke wajah Ya’qub, lalu kembalilah dia dapat melihat. Dia (Ya’qub) berkata, “Bukankah telah aku katakan kepadamu, bahwa aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui?”
Karamah atau Mukjizat?
Para ulama menjelaskan bahwa peristiwa-peristiwa tersebut terjadi atas izin Allah sebagai karunia bagi hamba-Nya yang sabar. Karena Nabi Ya’qub adalah seorang nabi, karunia ini bisa disebut sebagai mukjizat atau karamah. Intinya, semua itu adalah bukti kekuasaan Allah, bukan kekuatan manusia.
Kesimpulan
Karunia dan firasat Nabi Ya’qub AS mengajarkan bahwa kedekatan dengan Allah melahirkan kepekaan spiritual dan ketenangan jiwa. Semoga kita dapat meningkatkan ketakwaan agar mendapat karunia dan perlindungan dari Allah SWT.
Wallâhu a’lam bish-shawâb.





