Cerita • Teladan • Hikmah

Islamipedia.id

Nabi-nabi Lain Bagian 6 dari 6

Kisah Nabi Ya’qub AS Lengkap: Kesabaran Ayah Nabi Yusuf

Kisah Nabi Ya'qub AS Lengkap Kesabaran Ayah Nabi Yusuf

Nabi Ya’qub AS adalah salah satu nabi pilihan Allah yang kisahnya paling lekat dengan kesabaran seorang ayah. Beliau adalah putra Nabi Ishaq AS, cucu Nabi Ibrahim AS, sekaligus ayah dari Nabi Yusuf AS. Kisahnya menunjukkan bagaimana iman, tawakal, dan harapan kepada Allah tetap hidup meski diuji kehilangan bertahun-tahun. Mari kita pelajari kisahnya dari Al-Quran dan keterangan para ulama.

Profil Singkat Nabi Ya’qub AS

Berikut gambaran singkat tentang Nabi Ya’qub AS:

  • Nama: Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim AS.
  • Gelar: Israil, yang menurut keterangan ulama bermakna “hamba Allah”. Dari nama ini muncul sebutan Bani Israil bagi keturunannya.
  • Ayah dan kakek: Nabi Ishaq AS dan Nabi Ibrahim AS.
  • Anak yang terkenal: Nabi Yusuf AS, dengan 12 putra yang disebut sebagai asbath (cikal bakal suku-suku Bani Israil).
  • Wilayah dakwah: Negeri Kan’an (wilayah Palestina sekarang), dan wafat di Mesir menurut riwayat para ahli tafsir.
  • Disebut dalam Al-Quran: berkali-kali, terutama dalam Surah Yusuf.

Al-Quran menyebut Ya’qub sebagai anugerah bagi keluarga Ibrahim. Dalam QS. Hud: 71, Allah memberi kabar gembira kepada istri Ibrahim tentang kelahiran Ishaq, dan setelah Ishaq akan lahir Ya’qub. Dalam QS. Al-Anbiya: 72, Allah juga menegaskan bahwa Ishaq dan Ya’qub adalah karunia tambahan bagi Ibrahim.

Silsilah mulia ini juga disebut oleh Rasulullah ﷺ dalam hadis sahih riwayat Al-Bukhari, yang menyebut Yusuf sebagai “orang mulia, putra orang mulia, putra orang mulia, putra orang mulia”, yaitu Yusuf bin Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim.

Kelahiran dan Masa Kecil

Ya’qub lahir dari keluarga para nabi. Ayahnya, Nabi Ishaq AS, adalah putra Ibrahim yang lahir ketika Ibrahim dan Sarah telah lanjut usia, sebagai kabar gembira dari para malaikat. Dengan demikian Ya’qub tumbuh dalam rumah yang penuh tauhid, ibadah, dan keteladanan.

Para ahli tafsir dan sejarawan, seperti Ibnu Katsir dalam Qashashul Anbiya, menyebutkan beberapa riwayat yang bersumber dari kalangan Ahli Kitab (Israiliyat). Riwayat ini boleh dijadikan pelengkap sejarah selama tidak bertentangan dengan Al-Quran dan hadis sahih, tetapi tidak boleh dijadikan pegangan akidah:

  • Ya’qub memiliki saudara kembar bernama Ish (dalam sebutan Ahli Kitab: Esau).
  • Nama “Ya’qub” dikaitkan dengan kata yang berarti “mengikuti dari belakang”, karena riwayat menyebut ia lahir mengikuti saudara kembarnya.
  • Ya’qub kemudian berangkat ke tempat pamannya di negeri Haran (Padan Aram), menikah, dan memiliki keluarga besar di sana sebelum kembali ke Kan’an.
  • Riwayat menyebut anak-anaknya lahir dari beberapa istri, dan Yusuf serta Bunyamin adalah dua putra yang paling dikasihi karena keduanya ditinggal ibunya sejak kecil.

Yang pasti dari Al-Quran, Ya’qub tumbuh sebagai hamba yang saleh dan terpilih. Allah memujinya dalam QS. Shad: 45-47 sebagai salah satu hamba pilihan yang memiliki kekuatan dalam beribadah dan penglihatan hati yang tajam.

Perjalanan Dakwah

Dakwah Nabi Ya’qub AS terutama berpusat pada keluarganya. Ia mewarisi dakwah tauhid dari kakeknya, Ibrahim, dan ayahnya, Ishaq. Al-Quran memperlihatkan bagaimana ia mendidik anak-anaknya dan menjaga iman mereka sampai akhir hayat.

1. Mendidik Anak dalam Tauhid

Salah satu pesan terbesar Ya’qub adalah wasiat tauhid kepada anak-anaknya, yang diabadikan dalam QS. Al-Baqarah: 132-133. Pada saat menjelang wafat, ia bertanya kepada anak-anaknya tentang apa yang akan mereka sembah sepeninggalnya.

أَمْ كُنتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِن بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَٰهَكَ وَإِلَٰهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَٰهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

Am kuntum syuhadâ’a idz hadhara Ya’qûbal-mautu idz qâla libanîhi mâ ta’budûna min ba’dî, qâlû na’budu ilâhaka wa ilâha âbâ’ika Ibrâhîma wa Ismâ’îla wa Ishâqa ilâhan wâhidan wa nahnu lahû muslimûn.

Apakah kamu menyaksikan saat maut datang kepada Ya’qub, ketika dia berkata kepada anak-anaknya, “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab, “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail, dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami (hanya) berserah diri kepada-Nya.”

2. Peringatan tentang Mimpi Yusuf dan Ujian Kehilangan

Ujian besar dimulai ketika Yusuf kecil menceritakan mimpinya melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan bersujud kepadanya. Ya’qub memahami bahwa mimpi itu adalah tanda kemuliaan bagi Yusuf, dan ia khawatir saudara-saudara Yusuf akan iri.

قَالَ يَا بُنَيَّ لَا تَقْصُصْ رُؤْيَاكَ عَلَىٰ إِخْوَتِكَ فَيَكِيدُوا لَكَ كَيْدًا ۖ إِنَّ الشَّيْطَانَ لِلْإِنسَانِ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Qâla yâ bunayya lâ taqshush ru’yâka ‘alâ ikhwatika fayakîdû laka kaidâ, innasy-syaithâna lil-insâni ‘aduwwum mubîn.

Dia (Ya’qub) berkata, “Wahai anakku! Janganlah engkau ceritakan mimpimu kepada saudara-saudaramu, mereka akan membuat tipu daya (untuk membinasakan)mu. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagi manusia.”

Kekhawatiran Ya’qub terbukti. Kakak-kakak Yusuf, didorong rasa iri, membuang Yusuf ke dalam sumur lalu membawa baju gamisnya yang dilumuri darah palsu. Mereka mengaku Yusuf dimakan serigala. Ya’qub tidak mudah tertipu oleh cerita itu, tetapi ia memilih tidak meledak dalam amarah.

فَصَبْرٌ جَمِيلٌ ۖ وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَىٰ مَا تَصِفُونَ

Fa shabrun jamîl, wallâhul-musta’ânu ‘alâ mâ tashifûn.

Maka sabar itulah yang terbaik (bagiku). Dan kepada Allah saja memohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.

Kisah selengkapnya tentang bagaimana Yusuf bertahan hingga menjadi pembesar Mesir dapat dibaca di Kisah Nabi Yusuf AS Lengkap.

3. Ujian Bunyamin, Duka Mendalam, dan Harapan yang Tidak Padam

Bertahun-tahun kemudian, musim paceklik datang. Putra-putra Ya’qub pergi ke Mesir untuk membeli bahan makanan dan bertemu dengan Yusuf tanpa mengenalinya. Yusuf meminta mereka membawa adik mereka, Bunyamin, pada kedatangan berikutnya. Ya’qub awalnya enggan karena trauma kehilangan Yusuf, namun akhirnya mengizinkan dengan janji yang kuat dari anak-anaknya. Ia menasihati mereka agar masuk dari pintu-pintu yang berbeda, lalu menegaskan bahwa ikhtiar tidak menggantikan tawakal kepada Allah.

Ketika Bunyamin tertahan di Mesir, duka Ya’qub kembali memuncak hingga matanya memutih karena kesedihan yang ia pendam. Namun, ia tetap tidak mengeluh kepada manusia.

قَالَ إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Qâla innamâ asykû batstsî wa huznî ilallâhi wa a’lamu minallâhi mâ lâ ta’lamûn.

Dia (Ya’qub) menjawab, “Hanya kepada Allah aku mengadukan susah dan sedihku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui.”

Setelah itu, ia memerintahkan anak-anaknya untuk kembali mencari kabar tentang Yusuf dan saudaranya, dan menegaskan agar mereka tidak berputus asa dari rahmat Allah.

Karunia dan Keistimewaan Nabi Ya’qub AS

Al-Quran tidak menyebutkan mukjizat tersendiri bagi Nabi Ya’qub AS sebagaimana mukjizat Nabi Musa atau Nabi Isa. Namun, kisah Ya’qub memperlihatkan beberapa karunia dan keistimewaan yang Allah berikan kepadanya:

  • Ilmu dari Allah: Allah menyebut Ya’qub sebagai pemilik ilmu karena pengajaran-Nya (QS. Yusuf: 68). Ya’qub berkata bahwa ia mengetahui dari Allah apa yang tidak diketahui anak-anaknya.
  • Firasat yang tajam: ia memahami tanda kemuliaan dalam mimpi Yusuf dan merasakan bahwa Yusuf masih hidup, meski kabar dari anak-anaknya sebaliknya.
  • Mencium aroma Yusuf dari jauh: ketika kafilah keluar dari Mesir, Ya’qub berkata ia mencium bau Yusuf (QS. Yusuf: 94).
  • Sembuhnya penglihatan: setelah baju gamis Yusuf diletakkan di wajahnya, Ya’qub dapat melihat kembali (QS. Yusuf: 96).

وَلَمَّا فَصَلَتِ الْعِيرُ قَالَ أَبُوهُمْ إِنِّي لَأَجِدُ رِيحَ يُوسُفَ ۖ لَوْلَا أَن تُفَنِّدُونِ

Wa lammâ fashalatil-‘îru qâla abûhum innî la’ajidu rîha Yûsufa lau lâ an tufannidûn.

Dan ketika kafilah itu telah keluar (dari Mesir), ayah mereka berkata, “Sesungguhnya aku mencium bau Yusuf, sekiranya kamu tidak menganggap aku lemah akal (tentu kamu membenarkan aku).”

Para ulama menjelaskan bahwa kejadian-kejadian ini terjadi atas izin dan kehendak Allah, sebagai karunia bagi hamba-Nya yang sabar. Karena itu, sebagian ulama menyebutnya sebagai karamah atau tanda kemuliaan.

Doa-doa dan Ucapan Tawakal Nabi Ya’qub dalam Al-Quran

Al-Quran tidak menyebutkan doa permohonan yang panjang dari Nabi Ya’qub AS. Namun, ucapan-ucapan beliau dalam Surah Yusuf menjadi teladan doa, pengaduan, dan tawakal bagi orang beriman. Berikut ucapan-ucapan yang paling dikenal:

1. Sabar yang Indah dan Memohon Pertolongan Allah

فَصَبْرٌ جَمِيلٌ ۖ وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَىٰ مَا تَصِفُونَ

Fa shabrun jamîl, wallâhul-musta’ânu ‘alâ mâ tashifûn.

Maka sabar itulah yang terbaik (bagiku). Dan kepada Allah saja memohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan. (QS. Yusuf: 18)

2. Mengadukan Kesedihan Hanya kepada Allah

إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Innamâ asykû batstsî wa huznî ilallâhi wa a’lamu minallâhi mâ lâ ta’lamûn.

Hanya kepada Allah aku mengadukan susah dan sedihku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui. (QS. Yusuf: 86)

3. Bertawakal Setelah Berikhtiar

عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ ۖ وَعَلَيْهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُتَوَكِّلُونَ

‘Alaihi tawakkaltu wa ‘alaihi falyatawakkalil-mutawakkilûn.

Hanya kepada-Nya aku bertawakal dan hendaklah orang-orang yang bertawakal berserah diri kepada-Nya saja. (QS. Yusuf: 67)

Selain itu, Ya’qub memberi pesan abadi tentang harapan:

يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِن يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَيْأَسُوا مِن رَّوْحِ اللَّهِ ۖ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِن رَّوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

Yâ baniyyadz-habû fatahassasû min Yûsufa wa akhîhi wa lâ tai’asû min raukhillâh, innahû lâ yai’asu min raukhillâhi illal-qaumul-kâfirûn.

Wahai anak-anakku! Pergilah kamu, carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya, dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah hanyalah orang-orang yang kafir. (QS. Yusuf: 87)

Bertemu Kembali dengan Yusuf dan Pindah ke Mesir

Akhirnya Yusuf membuka jati dirinya kepada saudara-saudaranya, memaafkan mereka, lalu menyuruh mereka membawa baju gamisnya kepada ayah mereka. Ketika baju itu diletakkan di wajah Ya’qub, penglihatannya pulih.

فَلَمَّا أَن جَاءَ الْبَشِيرُ أَلْقَاهُ عَلَىٰ وَجْهِهِ فَارْتَدَّ بَصِيرًا ۖ قَالَ أَلَمْ أَقُل لَّكُمْ إِنِّي أَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Falammâ an jâ’al-basyîru alqâhu ‘alâ wajhihî fartadda bashîrâ, qâla alam aqul lakum innî a’lamu minallâhi mâ lâ ta’lamûn.

Maka ketika pembawa kabar gembira itu tiba, dia meletakkan baju gamis itu ke wajah Ya’qub, lalu kembalilah dia dapat melihat. Dia (Ya’qub) berkata, “Bukankah telah aku katakan kepadamu, bahwa aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui?” (QS. Yusuf: 96)

Setelah itu, Ya’qub bersama seluruh keluarganya pindah ke Mesir dan bertemu dengan Yusuf yang telah menjadi pejabat tinggi negeri itu. Mimpi masa kecil Yusuf pun terwujud, sebagaimana tercantum dalam QS. Yusuf: 99-100. Ya’qub juga menyaksikan anak-anaknya bertobat dan memohon ampunan kepadanya, dan ia berjanji akan memohonkan ampun bagi mereka kepada Allah.

Wafat dan Wasiat Nabi Ya’qub AS

Menurut para ahli tafsir dan sejarawan, Nabi Ya’qub AS wafat di Mesir setelah beberapa tahun hidup bersama keluarganya di sana. Wasiat terakhirnya adalah mengajak anak-anaknya tetap menyembah Allah Yang Maha Esa, sebagaimana yang telah dijelaskan di atas (QS. Al-Baqarah: 132-133).

Sebagian riwayat dari kalangan Ahli Kitab menyebutkan beliau berusia sekitar 147 tahun dan dimakamkan di Hebron (Al-Khalil) di Palestina, di dekat makam Ibrahim dan Ishaq. Perlu dicatat bahwa rincian usia dan tempat makam ini tidak dijelaskan secara pasti dalam Al-Quran maupun hadis sahih, sehingga disampaikan sebagai riwayat sejarah, bukan sebagai pokok akidah.

Kesimpulan

Kisah Nabi Ya’qub AS adalah pelajaran tentang seorang ayah yang menghadapi kehilangan dan duka panjang tanpa kehilangan iman. Ia mendidik anak-anaknya dalam tauhid, berhati-hati terhadap iri hati, bersabar dengan cara yang indah, mengadu hanya kepada Allah, dan tidak pernah putus asa dari rahmat-Nya. Pada akhirnya Allah mempertemukannya kembali dengan putra yang dicintainya dan mengembalikan penglihatannya.

Semoga kisah ini menguatkan kita dalam menghadapi ujian keluarga, kehilangan, dan penantian yang panjang. Kisah ini juga bisa dibaca bersama kisah Nabi Yusuf AS dan kisah Nabi Ibrahim AS agar gambaran tentang keluarga para nabi semakin utuh. Untuk bacaan lain, kunjungi kategori Kisah Para Nabi atau Al-Quran Online di Islamipedia.

Wallâhu a’lam bish-shawâb.

Rujukan

QS. Yusuf: 4-6, 18, 67-68, 83-87, 94-100

QS. Al-Baqarah: 132-133

QS. Hud: 71 dan QS. Al-Anbiya: 72

QS. Shad: 45-47

Shahih Al-Bukhari (hadis tentang silsilah Yusuf bin Ya'qub bin Ishaq bin Ibrahim)

Qashashul Anbiya, Ibnu Katsir

Baca juga

2 komentar