Nabi Nuh AS adalah salah satu nabi yang kisahnya diabadikan dalam Al-Quran. Beliau berdakwah selama 950 tahun, namun hanya sedikit yang beriman. Kisah beliau mengajarkan tentang kesabaran, ketaatan, dan azab Allah bagi yang ingkar.
Profil Singkat Nabi Nuh AS
Nabi Nuh AS adalah keturunan kesembilan dari Nabi Adam AS. Beliau diutus kepada kaum yang menyembah berhala bernama Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr. Kaum ini sudah jauh dari ajaran tauhid yang dibawa Nabi Adam dan Syits.
Perjalanan Dakwah Nabi Nuh AS
Allah mengutus Nabi Nuh AS untuk mengajak kaumnya kembali menyembah Allah. Beliau berdakwah siang dan malam, sembunyi-sembunyi dan terang-terangan. Namun, kaumnya menolak dengan keras.
Allah berfirman dalam QS. Nuh ayat 5-7:
قَالَ رَبِّ اِنِّيْ دَعَوْتُ قَوْمِيْ لَيْلًا وَّنَهَارًا ۙ فَلَمْ يَزِدْهُمْ دُعَاۤءِيْ اِلَّا فِرَارًا ۚ وَاِنِّيْ كُلَّمَا دَعَوْتُهُمْ لِتَغْفِرَ لَهُمْ جَعَلُوْٓا اَصَابِعَهُمْ فِيْٓ اٰذَانِهِمْ وَاسْتَغْشَوْا ثِيَابَهُمْ وَاَصَرُّوْا وَاسْتَكْبَرُوا اسْتِكْبَارًا
Qâla rabbi innî da’autu qaumî lailaw wa nahârâ, falam yazid-hum du’â’î illâ firârâ, wa innî kullamâ da’autuhum litaghfira lahum ja’alû ashâbi’ahum fî âdzânihim wastaghsyau tsiyâbahum wa asharrû wastakbarû istikbârâ.
Dia (Nuh) berkata, “Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku siang dan malam, tetapi seruanku itu hanya menambah mereka menjauh. Dan setiap kali aku menyeru mereka agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jarinya ke telinga, menutupi wajahnya dengan pakaian, tetap (dalam kekafiran), dan menyombongkan diri dengan sangat.”
Membangun Bahtera
Setelah 950 tahun berdakwah, hanya sedikit yang beriman. Allah memerintahkan Nabi Nuh AS untuk membuat bahtera besar. Kaumnya semakin mengejek karena beliau membuat kapal di daratan yang jauh dari air.
Allah berfirman dalam QS. Hud ayat 37:
وَاصْنَعِ الْفُلْكَ بِاَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا وَلَا تُخَاطِبْنِيْ فِى الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا ۚ اِنَّهُمْ مُّغْرَقُوْنَ
Washna’il-fulka bi-a’yuninâ wa wahyinâ wa lâ tukhâthibnî fil-ladzîna zhalamû, innahum mughraqûn.
Dan buatlah kapal itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah engkau bicarakan dengan-Ku tentang orang-orang yang zalim itu. Sesungguhnya mereka akan ditenggelamkan.
Banjir Besar Datang
Setelah bahtera selesai, Allah memerintahkan Nabi Nuh AS untuk membawa keluarga dan orang-orang beriman masuk ke kapal. Kemudian, air bah datang dari langit dan bumi. Seluruh kaum yang ingkar ditenggelamkan, termasuk anak Nabi Nuh sendiri yang memilih kafir.
Allah berfirman dalam QS. Hud ayat 42-43:
وَهِيَ تَجْرِيْ بِهِمْ فِيْ مَوْجٍ كَالْجِبَالِ وَنَادٰى نُوْحٌ ِۨابْنَهٗ وَكَانَ فِيْ مَعْزِلٍ يّٰبُنَيَّ ارْكَبْ مَّعَنَا وَلَا تَكُنْ مَّعَ الْكٰفِرِيْنَ
Wa hiya tajrî bihim fî maujin kal-jibâl, wa nâdâ Nûhunibnahû wa kâna fî ma’ziliny yâ bunayya irkam ma’anâ wa lâ takum ma’al-kâfirîn.
Dan kapal itu berlayar membawa mereka ke dalam gelombang laksana gunung-gunung. Dan Nuh memanggil anaknya, ketika dia (anak itu) berada di tempat yang jauh terpencil, “Wahai anakku! Naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah engkau berada bersama orang-orang yang kafir.”
Kesimpulan
Kisah Nabi Nuh AS mengajarkan kita tentang pentingnya kesabaran dalam berdakwah, ketaatan kepada Allah, dan azab bagi yang ingkar. Meski berdakwah 950 tahun, Nabi Nuh AS tidak pernah menyerah. Semoga kita bisa meneladani kesabaran beliau.
Wallâhu a’lam bish-shawâb.




