Nabi Ismail AS adalah putra Nabi Ibrahim AS dari istri keduanya, Hajar. Beliau dikenal sebagai nabi yang sabar, berbakti kepada orang tua, dan menjadi salah satu peletak dasar Ka’bah. Kisah beliau penuh dengan pelajaran tentang ketaatan dan pengorbanan.
Profil Singkat Nabi Ismail AS
Nabi Ismail AS lahir di Palestina, lalu dibawa oleh ayahnya, Nabi Ibrahim AS, ke Makkah bersama ibunya, Hajar. Di sana, mereka tinggal di lembah yang tandus dan kering.
Air Zamzam
Saat kehausan di lembah yang tandus, Hajar berlari-lari antara bukit Shafa dan Marwah untuk mencari air. Allah kemudian memancarkan air dari bawah kaki Nabi Ismail AS. Air itu adalah air zamzam yang masih mengalir hingga kini.
Peristiwa ini menjadi asal-muasal ibadah sa’i dalam haji dan umrah.
Perintah Kurban
Setelah Nabi Ismail AS beranjak dewasa, Allah menguji Nabi Ibrahim AS dengan perintah menyembelih putranya. Nabi Ibrahim AS menyampaikan perintah itu kepada Nabi Ismail AS, dan beliau dengan sabar menerimanya.
Allah berfirman dalam QS. Ash-Shaffat ayat 102:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰى ۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ
Fa lammâ balagha ma’ahus-sa’ya qâla yâ bunayya innî arâ fil-manâmi annî adzbahuka fanzhur mâdzâ tarâ, qâla yâ abati if’al mâ tu’mar, sa tajidunî in syâ’allâhu minash-shâbirîn.
Maka ketika dia (Ibrahim) sudah cukup umur untuk bekerja bersamanya, dia (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu, insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.”
Ketika Nabi Ibrahim AS hampir menyembelih Nabi Ismail AS, Allah menggantinya dengan seekor kambing besar. Peristiwa ini menjadi dasar ibadah kurban dalam Islam.
Membangun Ka’bah
Nabi Ismail AS bersama ayahnya, Nabi Ibrahim AS, membangun Ka’bah di Makkah. Mereka berdoa agar Allah menerima amal mereka dan menjadikan keturunan mereka sebagai umat yang berserah diri.
Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 127:
وَاِذْ يَرْفَعُ اِبْرٰهٖمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَاِسْمٰعِيْلُ ۗ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۗ اِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
Wa idz yarfa’u Ibrâhîmul-qawâ’ida minal-baiti wa Ismâ’îl, rabbanâ taqabbal minnâ, innaka antas-samî’ul-‘alîm.
Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan fondasi Baitullah bersama Ismail, (seraya berdoa), “Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”
Kesimpulan
Kisah Nabi Ismail AS mengajarkan kita tentang ketaatan kepada Allah, berbakti kepada orang tua, dan kesabaran menghadapi ujian. Beliau adalah teladan bagi seluruh umat Islam. Semoga kita bisa meneladani ketakwaan dan kesabaran beliau.
Wallâhu a’lam bish-shawâb.




