Kisah Nabi Adam AS sering disertai rincian yang beredar di buku atau media, mulai dari lokasi surga hingga usia beliau. Agar kisah ini tetap bersandar pada sumber yang kuat, penting memilah mana yang disebut Al-Quran dan hadis sahih, serta mana yang berasal dari riwayat Isrā’īliyyāt. Artikel ini membahasnya sebagai bagian dari Kisah Nabi Adam di Kisah Islamipedia.
Apa Itu Isrā’īliyyāt?
Isrā’īliyyāt adalah riwayat yang bersumber dari tradisi Yahudi dan Nasrani, atau cerita rakyat yang beredar tanpa sanad sahih. Sebagian riwayat ini masuk ke kitab-kitab tafsir dan kisah, tetapi tidak dapat dipastikan kebenarannya. Para ulama mengajarkan sikap selektif: mengambil yang sesuai Al-Quran dan hadis sahih, serta meninggalkan yang bertentangan atau tidak berdasar.
Hal yang Tidak Dirinci Al-Quran dan Hadis Sahih
- Lokasi surga tempat Nabi Adam tinggal, apakah di langit atau di bumi.
- Jenis pohon terlarang. Al-Quran hanya menyebutnya “syajarah” atau pohon khuldi.
- Tempat turunnya Nabi Adam dan Hawa di bumi.
- Usia, wafat, dan lokasi makam Nabi Adam.
Rincian yang beredar di buku atau media tentang hal-hal tersebut umumnya berasal dari riwayat Isrā’īliyyāt yang tidak bisa dipastikan kebenarannya.
Contoh Mitos yang Sering Beredar
- Nabi Adam turun di tempat tertentu (misalnya India atau Jeddah) dengan dalil yang lemah.
- Usia Nabi Adam mencapai ribuan tahun dengan angka yang tidak berdasar.
- Pohon terlarang disebut sebagai pohon tertentu (anggur, gandum, atau lainnya).
- Hawa diciptakan dari tulang rusuk dengan narasi yang dilebih-lebihkan.
Sikap Seorang Muslim
- Bersandar pada Al-Quran dan hadis sahih.
- Tidak memastikan kebenaran riwayat yang tidak berdasar.
- Mengambil pelajaran dari kisah tanpa memaksakan rincian.
- Menghindari penyebaran cerita yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Pelajaran & Hikmah
- Kisah yang benar bersumber dari Al-Quran dan hadis sahih.
- Isrā’īliyyāt tidak dapat dijadikan dasar keyakinan.
- Sikap selektif menjaga kemurnian ajaran Islam.
- Rincian yang tidak pasti tidak mengurangi inti pelajaran kisah.
- Menyebarkan cerita tanpa dasar dapat menyesatkan.
Kesimpulan
Kisah Nabi Adam AS tetap bermakna meski beberapa rinciannya tidak disebutkan Al-Quran dan hadis sahih. Sikap selektif terhadap riwayat Isrā’īliyyāt menjaga kita dari keyakinan yang keliru. Semoga kita dapat mengambil pelajaran dari kisah beliau dan menjalani hidup sesuai petunjuk Allah SWT.
Wallâhu a’lam bish-shawâb.





