Puncak kesabaran Nabi Yusuf AS bukanlah saat keluar dari penjara atau menjadi bendahara, melainkan ketika beliau memaafkan saudara-saudaranya yang pernah membuangnya ke sumur. Artikel ini membahas kisah tersebut berdasarkan ayat-ayat Al-Quran dan hadis sahih, sebagai bagian dari Kisah Para Nabi di Kisah Islamipedia.
Saudara-saudara Datang ke Mesir
Saudara-saudara Nabi Yusuf datang untuk membeli makanan. Yusuf mengenali mereka, tetapi mereka tidak mengenali Yusuf (QS. Yusuf: 58). Yusuf menyuruh mereka membawa saudara mereka, Bunyamin, pada kunjungan berikutnya. Ketika mereka kembali bersama Bunyamin, Yusuf mengungkapkan jati dirinya kepada Bunyamin secara rahasia (QS. Yusuf: 69). Atas kehendak Allah, Bunyamin tetap tinggal bersama Yusuf melalui peristiwa piala raja yang disiasatkan, sebagaimana disebut Allah, “Demikianlah Kami atur untuk (mencapai maksud) Yusuf” (QS. Yusuf: 70-76).
Duka Nabi Ya’qub AS
Peristiwa ini membuat Nabi Ya’qub kembali dirundung duka. Matanya memutih karena kesedihan, tetapi beliau tetap bersabar dan berharap kepada Allah (QS. Yusuf: 84-87).
Yusuf Mengungkap Jati Diri
Ketika saudara-saudara Yusuf kembali dengan keadaan susah, Nabi Yusuf akhirnya mengungkapkan jati dirinya. Allah berfirman dalam QS. Yusuf ayat 90:
قَالُوْٓا ءَاِنَّكَ لَاَنْتَ يُوْسُفُۗ قَالَ اَنَا۠ يُوْسُفُ وَهٰذَآ اَخِيْۗ قَدْ مَنَّ اللّٰهُ عَلَيْنَاۗ اِنَّهٗ مَنْ يَّتَّقِ وَيَصْبِرْ فَاِنَّ اللّٰهَ لَا يُضِيْعُ اَجْرَ الْمُحْسِنِيْنَ
Qâlû a-innaka la-anta Yûsuf, qâla ana Yûsufu wa hâdzâ akhî, qad mannallâhu ‘alainâ, innahû may yattaqi wa yashbir fa innallâha lâ yudhî’u ajral-muhsinîn.
Mereka berkata, “Apakah engkau benar-benar Yusuf?” Yusuf menjawab, “Akulah Yusuf dan ini saudaraku. Sungguh, Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada kami. Sesungguhnya barang siapa bertakwa dan bersabar, maka sungguh, Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat kebaikan.”
Memaafkan Tanpa Cercaan
Saudara-saudaranya mengakui kesalahan mereka. Nabi Yusuf tidak membalas, melainkan memaafkan. Allah berfirman dalam QS. Yusuf ayat 92:
قَالَ لَا تَثْرِيْبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَۗ يَغْفِرُ اللّٰهُ لَكُمْۖ وَهُوَ اَرْحَمُ الرّٰحِمِيْنَ
Qâla lâ tatsrîba ‘alaikumul-yaum, yaghfirullâhu lakum, wa huwa arhamur-râhimîn.
Dia (Yusuf) berkata, “Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni kamu. Dan Dia Maha Penyayang dari segala penyayang.”
Berkumpul Kembali dan Mimpi Terwujud
Nabi Yusuf mengutus saudara-saudaranya membawa bajunya kepada sang ayah. Baju itu diusapkan ke wajah Nabi Ya’qub, dan penglihatan beliau pulih kembali (QS. Yusuf: 93-96). Seluruh keluarga kemudian datang ke Mesir. Di sanalah mimpi masa kecil Nabi Yusuf terwujud (QS. Yusuf: 100).
Pelajaran & Hikmah
- Memaafkan adalah puncak akhlak mulia.
- Kesabaran dan takwa tidak disia-siakan Allah.
- Memaafkan bukan berarti melupakan, tetapi melepaskan dendam.
- Pertemuan kembali adalah karunia Allah bagi orang sabar.
- Akhlak mulia lebih kuat daripada balas dendam.
Kesimpulan
Kisah Nabi Yusuf memaafkan saudara-saudaranya mengajarkan akhlak mulia, kesabaran, dan takwa. Semoga kita dapat mengambil pelajaran dari kisah beliau dan menjalani hidup sesuai petunjuk Allah SWT.
Wallâhu a’lam bish-shawâb.





