Cerita • Teladan • Hikmah

Islamipedia.id

Sebelum Hijrah Bagian 11 dari 11

Perjalanan Dakwah Nabi ke Thaif: Ujian Berat dan Kesabaran

Perjalanan Dakwah Nabi ke Thaif: Ujian Berat dan Kesabaran

Perjalanan dakwah Nabi Muhammad ﷺ ke Thaif merupakan salah satu fase paling mengharukan dan penuh ujian dalam sejarah awal Islam. Di tengah tekanan kaum musyrikin Makkah yang semakin menjadi-jadi setelah wafatnya Abu Thalib dan Sayyidah Khadijah, beliau memutuskan untuk keluar kota guna mencari suaka dan dukungan dakwah. Thaif dipilih karena merupakan kota besar kedua setelah Makkah yang dihuni oleh suku Tsaqif yang terkemuka. Namun, alih-alih mendapatkan sambutan hangat dan perlindungan, Nabi Muhammad ﷺ justru menghadapi penolakan yang sangat kasar dan menyakitkan fisik maupun mental dari para pemimpin dan penduduk kota tersebut.

Latar Belakang Perjalanan ke Thaif

Sebelum melakukan perjalanan berat ini, Nabi Muhammad ﷺ mengalami masa-masa paling sulit yang dikenal dalam sejarah sebagai Tahun Kesedihan (Amul Huzni). Pelindung utama beliau di kalangan keluarga, yaitu pamannya Abu Thalib, telah meninggal dunia. Tidak lama berselang, istri tercinta yang selalu mendampingi dan menguatkan beliau, Khadijah binti Khuwailid, juga wafat. Kehilangan dua tokoh penting ini membuat kaum Quraisy Makkah semakin berani melancarkan gangguan dan intimidasi secara terbuka kepada Rasulullah ﷺ, yang sebelumnya sempat diredam oleh wibawa Abu Thalib.

Tekanan sosial, boikot yang membekas, serta tertutupnya ruang dialog di Makkah mendorong Nabi Muhammad ﷺ untuk mencari ladang dakwah baru di luar kota. Beliau berharap penduduk Thaif, khususnya dari Bani Tsaqif, dapat menerima risalah Islam atau setidaknya memberikan suaka politik agar dakwah dapat terus berjalan. Dengan ditemani oleh anak angkat sekaligus pelayan setia beliau, Zaid bin Haritsah, Nabi berjalan kaki sejauh puluhan kilometer melewati jalur terjal menuju kota Thaif dengan penuh harapan akan pertolongan Allah Taala.

Setibanya di Thaif, Nabi Muhammad ﷺ langsung menemui para pembesar dan pemimpin Bani Tsaqif untuk mengajak mereka beriman kepada Allah Taala dan menolong agama-Nya. Namun, respons yang diberikan sangat jauh dari harapan. Mereka tidak hanya menolak ajakan tersebut dengan cara yang kasar, tetapi juga menghina dan merendahkan martabat beliau. Bahkan, mereka mengerahkan orang-orang bodoh, budak, dan anak-anak muda untuk berbaris di sepanjang jalan dan meneriaki serta melempari Nabi ﷺ dengan batu hingga darah mengalir dari tubuh beliau.

Kronologi Peristiwa di Thaif

Setibanya di Thaif, Nabi Muhammad ﷺ mendatangi tiga orang bersaudara yang merupakan pemimpin Bani Tsaqif. Beliau menyampaikan dakwah Islam dengan santun dan penuh kelembutan, mengajak mereka untuk mengesakan Allah Taala. Alih-alih mendengarkan dengan bijak, salah satu dari mereka berkata dengan sombong bahwa Allah tidak mungkin mengutus Nabi dan merobek kain Kabah. Yang lain mengatakan bahwa dia tidak akan pernah mau berbicara dengan beliau, sementara yang ketiga bersikap sinis dan menuduh Nabi sebagai orang yang tidak berakhlak jika benar-benar seorang utusan.

Melihat tidak ada secercah pun harapan dari para pemuka kaum tersebut, Nabi Muhammad ﷺ meminta agar mereka setidaknya merahasiakan kedatangan beliau dari kaum Quraisy Makkah agar tidak memicu konflik baru. Namun, permintaan tersebut juga ditolak mentah-mentah. Mereka justru menghasut penduduk kota untuk mengusir Nabi dan Zaid bin Haritsah. Penduduk Thaif bereaksi bervariasi namun sebagian besar mematuhi hasutan para pemimpinnya dengan melakukan tindakan kekerasan fisik secara terang-terangan di jalanan kota.

Zaid bin Haritsah RA berusaha keras melindungi Rasulullah ﷺ dengan menempatkan tubuhnya di hadapan lemparan batu-batu yang datang bertubi-tubi dari berbagai arah. Akibatnya, Zaid mengalami luka-luka di kepala dan sekujur tubuhnya. Nabi Muhammad ﷺ sendiri mengalami luka yang cukup parah hingga sandal beliau basah oleh darah yang mengalir dari kaki mulia beliau. Dalam kondisi kelelahan, kesakitan, dan berdarah-darah, keduanya terpaksa meninggalkan kota Thaif dan berlindung di sebuah kebun milik Rabi’ah dan Uthaibah, dua orang bangsawan Quraisy yang kebetulan sedang berada di kebun anggur mereka.

Melihat kondisi Nabi yang sangat memprihatinkan, kedua bersaudara tersebut merasa iba dan mengutus seorang pelayan bernama Addas untuk membawakan sepiring anggur kepada Nabi. Ketika Nabi hendak memakannya, beliau mengucapkan kalimat bismillah. Addas tertegun mendengarnya dan berkata bahwa penduduk negeri tersebut tidak pernah mengucapkan kalimat itu. Percakapan singkat terjadi, dan terungkaplah bahwa Addas berasal dari Ninawa dan beragama Nasrani. Ketika Nabi menyebut nama saudaranya, Nabi Yunus AS, Addas langsung mencium kepala, tangan, and kaki Nabi Muhammad ﷺ karena takjub dan mengakui kenabian beliau.

Tokoh-tokoh yang Terlibat

  • Nabi Muhammad ﷺ: Memimpin perjalanan dakwah dengan penuh kesabaran, ketabahan, dan ketulusan meskipun menghadapi penolakan dan kekerasan fisik yang luar biasa dari penduduk Thaif.
  • Zaid bin Haritsah RA: Setia mendampingi Rasulullah ﷺ dan melindungi beliau dengan mengorbankan diri dari lemparan batu penduduk Thaif hingga terluka parah.
  • Addas: Pelayan beragama Nasrani asal Ninawa yang menunjukkan simpati mendalam dan akhirnya masuk Islam setelah mengenali tanda-tanda kenabian pada diri Nabi.

Pelajaran dari Perjalanan ke Thaif

  • Kesabaran dan keteguhan hati para nabi dalam menyampaikan risalah Allah Taala meskipun harus menghadapi rintangan dan penderitaan fisik yang sangat berat di jalan-Nya.
  • Kemuliaan akhlak Rasulullah ﷺ yang tetap mendoakan kebaikan bagi kaumnya meskipun mereka telah berbuat zalim dan melukai fisik beliau.
  • Pertolongan Allah Taala seringkali datang dari arah yang tidak disangka-sangka, seperti melalui perantara Addas di kebun anggur saat kondisi paling kritis.

Kesimpulan

Perjalanan dakwah ke Thaif merupakan bukti nyata betapa beratnya pengorbanan yang harus ditanggung oleh Nabi Muhammad ﷺ dalam menegakkan kalimat tauhid di muka bumi. Meskipun secara lahiriah perjalanan ini tampak sebagai sebuah kegagalan karena penolakan penduduk Thaif, di sisi lain peristiwa ini menunjukkan keagungan akhlak, keteguhan mental, dan keimanan yang kokoh dari sang Rasul tercinta. Dari peristiwa penuh derita ini pula, kita dapat memetik hikmah besar bahwa setiap ujian dan penolakan di jalan dakwah pasti memiliki hikmah tersembunyi yang agung dari Allah Taala.

Wallâhu a’lam bish-shawâb.

Rujukan

QS. Al-Ahqaf: 29-31

Sirah Ibnu Hisyam

Al-Bidayah wan Nihayah

Tafsir Ibnu Katsir

Baca juga

Baca Al-Quran & Hadits

Kunjungi Islamipedia