Perjalanan dakwah Islam di masa Nabi Muhammad ﷺ dipenuhi dengan berbagai tantangan, baik berupa dakwah damai maupun ekspedisi militer untuk menjaga keamanan kaum Muslimin. Salah satu peristiwa penting dalam catatan sirah Nabawiyah adalah Perang Dzatur Riqa. Ekspedisi ini terjadi di kawasan Najed sebagai respons atas laporan intelijen mengenai pergerakan sejumlah kabilah Arab yang dikabarkan hendak menyerang Madinah. Meskipun tidak terjadi pertempuran fisik secara besar-besaran, peristiwa ini menyimpan banyak sekali pelajaran berharga, termasuk turunnya hukum mengenai tata cara pelaksanaan ibadah dalam kondisi darurat atau peperangan.
Latar Belakang Perang Dzatur Riqa
Setelah stabilitas di sekitar Madinah mulai terjaga melalui berbagai perjanjian dan ekspedisi sebelumnya seperti Perang Dumatul Jandal, Nabi Muhammad ﷺ tetap harus memantau situasi politik Jazirah Arab yang dinamis. Berita intelijen sampai ke Madinah bahwa beberapa kabilah dari Ghathfan, khususnya dari Bani Muharib dan Bani Tsa’labah, tengah berkumpul di wilayah Najed dengan kekuatan besar. Mereka diduga merencanakan serangan mendadak ke kota Madinah untuk melemahkan kekuatan kaum Muslimin yang terus berkembang pesat sejak peristiwa Hijrah Nabi Muhammad ﷺ ke Madinah: Kisah Lengkap dan Pelajarannya.
Mendengar ancaman tersebut, Nabi Muhammad ﷺ tidak tinggal diam menunggu musuh datang menyerang wilayah kaum Muslimin. Beliau segera mempersiapkan pasukan yang terdiri dari ratusan kaum Muslimin untuk bergerak cepat menuju sarang musuh di Najed. Langkah preventif ini diambil guna mematahkan moril musuh sebelum mereka sempat menyatukan kekuatan yang lebih besar untuk mengancam keamanan negara Madinah yang fondasinya telah diletakkan sejak masa Pembangunan Madinah: Masjid, Persaudaraan, dan Piagam. Dengan mengerahkan pasukan secara terukur, Rasulullah ﷺ memimpin langsung ekspedisi ini untuk menunjukkan kesiapan kaum Muslimin dalam membela diri.
Kronologi Peristiwa
Pasukan kaum Muslimin bergerak keluar dari Madinah menuju Najed dengan penuh kesiagaan dan kedisiplinan tinggi di bawah komando langsung Nabi Muhammad ﷺ. Setibanya di lokasi yang dituju, pasukan Islam mendapati bahwa kabilah-kabilah musuh telah melarikan diri ke puncak-puncak bukit karena merasa gentar melihat kedatangan pasukan Muslim. Tidak terjadi pertempuran berdarah karena musuh kocar-kacir menghindari konfrontasi langsung, namun pasukan Islam tetap siaga mengawasi situasi di sekitar perkemahan mereka selama beberapa hari.
Selama dalam perjalanan dan penantian di medan ekspedisi inilah Allah SWT menurunkan panduan syariat mengenai tata cara pelaksanaan ibadah sholat dalam keadaan perang atau ketakutan yang dikenal sebagai sholat khauf. Hal ini ditegaskan dalam Al-Quran agar kaum Muslimin tetap dapat menunaikan kewajiban agama mereka tanpa harus meninggalkan kewaspadaan terhadap musuh yang mungkin datang menyerang sewaktu-waktu.
وَإِذَا كُنتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلَوٰةَ فَلْتَقُمْ طَائِفَةٌ مِّنْهُم مَّعَكَ وَلْيَأْخذُوٰ أَسْلِحَتَهُمْ فَإِذَا سَجَدُوا فَلْيَكُونُوا مِنْ وَرَائِكُمْ وَلْتَأْتِ طَائِفَةٌ أُخْرَىٰ لَمْ يُصَلُّوا فَلْيُصَلُّوا مَعَكَ وَلْيَأْخذُوا حِذْرَهُمْ وَأَسْلِحَتَهُمْ
Wa idza kunta fihim fa aqamta lahumus-shalata faltaqum tha’ifatun minhum ma’aka walyakhudzu aslihatahum fa idza sajadu falyakunu miw wara’ikum waltati tha’ifatun ukhra lam yusallu falyusallu ma’aka walyakhudzu hidrahum wa aslihatahum
Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan sholat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (sholat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang sholat) sujud (telah menyempurnakan satu rakaat), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum bersembahyang, lalu bersembahyanglah mereka denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata.
Nama Dzatur Riqa sendiri, yang berarti “pemilik kain-kain tambalan”, disematkan pada ekspedisi ini karena sebagian riwayat menyebutkan bahwa para sahabat terpaksa membalut kaki mereka dengan kain-kain dan serpihan pakaian akibat aus dan terluka dalam perjalanan panjang yang terik di atas bebatuan tajam tanah Najed.
Tokoh-tokoh yang Terlibat
- Nabi Muhammad ﷺ: Pemimpin tertinggi pasukan Islam yang mengatur strategi militer sekaligus membimbing para sahabat dalam urusan agama di tengah perjalanan.
- Para Sahabat RA: Kaum Muhajirin dan Anshar yang dengan penuh ketaatan mengikuti ekspedisi ini, menunjukkan kesabaran luar biasa menghadapi medan yang terjal dan terik matahari Najed.
Pelajaran dari Peristiwa
- Pentingnya langkah preventif dalam militer untuk meredam potensi ancaman musuh sebelum mereka sempat menyerang wilayah kaum Muslimin.
- Kemudahan dalam ajaran Islam, di mana kewajiban sholat tetap harus ditegakkan betapa pun sulit dan gentingnya situasi di medan perang melalui tata cara sholat khauf.
- Ketabahan para sahabat RA dalam menghadapi ujian fisik berupa kelelahan dan keterbatasan logistik demi menegakkan kalimat Allah SWT.
Kesimpulan
Perang Dzatur Riqa merupakan salah satu ekspedisi penting dalam lembaran sirah Nabawiyah yang memperlihatkan ketegasan, kecerdasan taktis, serta keluwesan hukum Islam dalam menghadapi situasi darurat. Meskipun tidak berujung pada pertempuran fisik yang besar, keberhasilan ekspedisi ini dalam menggentarkan musuh dan menetapkan hukum sholat khauf memberikan warisan ruhani yang amat berharga bagi generasi umat Islam selanjutnya. Peristiwa ini terus menjadi teladan tentang bagaimana mengintegrasikan ikhtiar lahiriah dengan ketaatan mutlak kepada Sang Pencipta dalam setiap keadaan.
Wallâhu a’lam bish-shawâb.







