Nabi Ayyub AS adalah teladan kesabaran dalam menghadapi ujian yang sangat berat. Al-Quran memujinya sebagai hamba yang sabar, sebaik-baik hamba, dan sangat taat kepada Allah. Kisah beliau mengajarkan arti sabar yang sebenarnya: tidak berkeluh kesah kepada manusia, tidak putus asa, dan terus kembali kepada Allah dengan doa. Mari kita pelajari kisahnya berdasarkan Al-Quran, hadis sahih, dan keterangan para ulama.
Profil Singkat Nabi Ayyub AS
Berikut gambaran singkat tentang Nabi Ayyub AS:
- Nama: Ayyub AS, salah satu nabi yang disebutkan dalam Al-Quran.
- Keistimewaan: disebut Allah sebagai hamba yang sabar dan sangat taat (QS. Shad: 44).
- Disebut dalam Al-Quran: antara lain di Surah An-Nisa, Al-An’am, Al-Anbiya, dan Shad.
- Silsilah: Al-Quran menyebut Ayyub dalam rangkaian para nabi dari keturunan yang saleh (QS. Al-An’am: 84). Para ulama berbeda pendapat tentang rincian nasabnya.
Para ahli tafsir dan sejarawan, seperti Ibnu Katsir dalam Qashashul Anbiya, menyebutkan bahwa sebelum diuji, Nabi Ayyub AS adalah orang yang kaya raya, memiliki banyak ternak, lahan, dan keluarga besar, serta dikenal dermawan dan taat. Keterangan ini bersumber dari riwayat para ulama, bukan dari rincian ayat Al-Quran, sehingga disampaikan sebagai gambaran sejarah.
Ujian Berat dari Allah
Allah menguji Nabi Ayyub AS dengan ujian yang berat. Al-Quran secara jelas menyebut bahwa beliau ditimpa penyakit (dhurr) dan kehilangan keluarganya, lalu Allah mengembalikan keluarganya setelah doa beliau dikabulkan.
1. Penyakit yang Berkepanjangan
Para ulama menjelaskan bahwa beliau menderita sakit parah dalam waktu yang lama hingga banyak orang menjauhinya. Riwayat menyebut masa sakitnya bertahun-tahun, tetapi lamanya tidak dijelaskan secara pasti dalam Al-Quran maupun hadis sahih.
2. Kehilangan Harta dan Keluarga
Sebagian riwayat dari kalangan Ahli Kitab (Israiliyat) menyebut bahwa beliau juga kehilangan harta dan anak-anaknya. Riwayat seperti ini boleh dijadikan pelengkap sejarah selama tidak bertentangan dengan Al-Quran dan hadis sahih, tetapi tidak boleh dijadikan pegangan akidah. Yang pasti dari Al-Quran, Allah mengembalikan keluarga beliau dan melipatgandakan jumlah mereka.
3. Ujian yang Tidak Menggoyahkan Iman
Di tengah ujian itu, Nabi Ayyub AS tetap beribadah dan bersabar. Dalam QS. Shad: 41, beliau menyampaikan bahwa setan menimpakan kepadanya penderitaan dan azab. Hal ini menunjukkan bahwa beliau memohon perlindungan hanya kepada Allah, bukan kepada makhluk.
وَاذْكُرْ عَبْدَنَا أَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الشَّيْطَانُ بِنُصْبٍ وَعَذَابٍ
Wadzkur ‘abdanâ Ayyûba idz nâdâ rabbahû annî massaniyasy-syaithânu binushbiw wa ‘adzâb.
Dan ingatlah akan hamba Kami Ayyub ketika dia menyeru Tuhannya, “Sungguh, aku diganggu setan dengan penderitaan dan azab.” (QS. Shad: 41)
Doa Nabi Ayyub AS
Setelah bersabar dalam waktu yang panjang, Nabi Ayyub AS berdoa kepada Allah dengan doa yang sangat santun. Beliau tidak meminta kesembuhan secara langsung, hanya menyebut keadaannya dan menyanjung rahmat Allah. Allah berfirman dalam QS. Al-Anbiya ayat 83:
وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ
Wa Ayyûba idz nâdâ rabbahû annî massaniyadh-dhurru wa anta arhamur-râhimîn.
Dan (ingatlah kisah) Ayyub, ketika dia berdoa kepada Tuhannya, “(Ya Tuhanku), sungguh, aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang.”
Berikut doa yang dibaca beliau:
أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ
Annî massaniyadh-dhurru wa anta arhamur-râhimîn.
Sungguh, aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang.
Doa ini sering dibaca oleh kaum muslimin ketika sakit atau ditimpa kesulitan. Doa-doa lainnya dapat Anda baca di kumpulan doa Islamipedia.
Dikabulkannya Doa dan Pulihnya Nabi Ayyub AS
Allah mengabulkan doa Nabi Ayyub AS. Allah berfirman dalam QS. Al-Anbiya ayat 84:
فَاسْتَجَبْنَا لَهٗ فَكَشَفْنَا مَا بِهٖ مِنْ ضُرٍّ وَّاٰتَيْنٰهُ اَهْلَهٗ وَمِثْلَهُمْ مَّعَهُمْ رَحْمَةً مِّنْ عِنْدِنَا وَذِكْرٰى لِلْعٰبِدِيْنَ
Fastajabnâ lahû fa kasyafnâ mâ bihî min dhurriw wa âtainâhu ahlahû wa mitslahum ma’ahum rahmatam min ‘indinâ wa dzikrâ lil-‘âbidîn.
Maka Kami kabulkan (doa)nya, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan (Kami lipat gandakan) bilangan mereka bersama mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah.
Dalam QS. Shad: 42, Allah memerintahkan beliau menghentakkan kakinya ke tanah, lalu memancarlah air yang sejuk untuk mandi dan minum. Air ini menjadi sebab kesembuhan beliau. Karunia ini juga ditegaskan dalam hadis sahih riwayat Al-Bukhari. Dikisahkan bahwa ketika Nabi Ayyub AS sedang mandi, Allah menurunkan belalang emas, lalu beliau memungutnya ke dalam kainnya. Allah bertanya apakah Dia belum mencukupinya, dan beliau menjawab bahwa dirinya tidak pernah merasa cukup dari keberkahan Allah.
Kesabaran Nabi Ayyub AS
Kesabaran Nabi Ayyub AS bukan kesabaran yang pasif. Beliau tidak mengeluh kepada manusia, tidak menyalahkan takdir, tidak putus asa, tetapi mengadukan keadaannya hanya kepada Allah dengan doa yang santun. Mengadu kepada Allah bukan tanda kurang sabar, karena inilah yang Allah pujikan kepada beliau.
إِنَّا وَجَدْنَاهُ صَابِرًا ۚ نِّعْمَ الْعَبْدُ ۖ إِنَّهُ أَوَّابٌ
Innâ wajadnâhu shâbirâ, ni’mal-‘abd, innahû awwâb.
Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sungguh, dia sangat taat (kepada Allah). (QS. Shad: 44)
Menurut para ulama tafsir, istri beliau juga setia merawat dan menemaninya selama sakit. Dalam QS. Shad: 44 Allah juga memberi jalan keluar atas sumpah beliau dengan menyuruhnya mengambil seikat rumput dan memukulkannya agar tidak melanggar sumpah. Para ulama menjelaskan bahwa hal ini berkaitan dengan sumpah beliau terhadap istrinya, sebagai rahmat dan keringanan dari Allah.
Teladan sabar para nabi dapat kita lihat pula dalam kisah Nabi Ya’qub AS yang menghadapi kehilangan putranya, dan dalam kisah Nabi Yunus AS yang berdoa dari kegelapan.
Kesimpulan
Kisah Nabi Ayyub AS mengajarkan bahwa sabar yang sebenarnya adalah sabar tanpa berkeluh kesah kepada manusia, tanpa putus asa dari rahmat Allah, dan dengan terus berdoa serta beribadah. Allah menguji hamba yang dicintai-Nya, lalu mengangkat ujian itu dengan rahmat dan menggantinya dengan karunia yang lebih besar. Semoga kita dapat meneladani kesabaran beliau dalam menghadapi ujian hidup.
Baca kisah nabi lainnya di kategori Kisah Para Nabi.
Wallâhu a’lam bish-shawâb.





