Sunan Kalijaga atau Raden Said adalah wali yang paling dikenal masyarakat Jawa. Beliau berdakwah dengan bahasa dan budaya masyarakat setempat, terutama lewat wayang kulit dan tembang. Karena kelenturannya bergaul dengan berbagai kalangan, dakwah beliau diterima luas. Beliau adalah salah satu tokoh Wali Songo.
Profil Singkat Sunan Kalijaga
- Nama: Raden Said
- Sebutan: Sunan Kalijaga, Syekh Malaya
- Asal: Menurut tradisi, putra seorang adipati Tuban
- Wilayah dakwah: Kadilangu, Demak, dan berbagai daerah di Jawa
- Wafat: Abad ke-16; tahun pastinya berbeda antarsumber
Masa Muda dan Pertemuan dengan Sunan Bonang
Tradisi menceritakan bahwa Raden Said semasa muda sempat menempuh jalan yang keliru. Beliau dikisahkan mengambil harta orang mampu untuk dibagikan kepada rakyat miskin. Suatu ketika beliau bertemu dengan Sunan Bonang, yang menyadarkannya bahwa niat baik harus ditempuh dengan cara yang halal. Kisah ini hidup dalam cerita rakyat, sehingga detailnya perlu dipahami sebagai tradisi.
Setelah itu beliau menjadi murid Sunan Bonang dan mendalami ilmu agama dengan sungguh-sungguh. Kisah masyhur menyebutkan beliau bertapa menjaga tongkat gurunya di tepi sungai, sehingga dikenal dengan sebutan Kalijaga (penjaga kali). Penafsiran nama ini juga bervariasi di antara sumber.
Perjalanan Dakwah Sunan Kalijaga
Dakwah dengan Bahasa dan Budaya Masyarakat
Beliau menyampaikan Islam dengan bahasa yang dipahami masyarakat. Prinsip ini sejalan dengan firman Allah dalam Al-Quran:
وَمَآ أَرْسَلْنَا مِن رَّسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِۦ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ
Wa mâ arsalnâ mir rasûlin illâ bilisâni qaumihî liyubayyina lahum.
Kami tidak mengutus seorang rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya, agar dia dapat menjelaskan (risalah itu) kepada mereka. (QS. Ibrahim: 4)
Wayang Kulit sebagai Media Dakwah
Beliau memanfaatkan wayang kulit untuk menyampaikan nilai tauhid dan akhlak. Dalam tradisi, lakon-lakon yang beliau sampaikan mengisi cerita dengan makna keislaman. Pusaka Jimat Kalimasada dalam pewayangan dikaitkan dengan kalimat syahadat. Penisbatan ini berasal dari tradisi, tetapi menggambarkan caranya mengisi budaya dengan nilai Islam.
Tembang dan Seni
Beliau dikaitkan dengan tembang Ilir-ilir dan Gundul-gundul Pacul, serta tembang Dandanggula. Penisbatan karya ini berasal dari tradisi dan sebagian sumber mengaitkannya kepada wali lain. Isi tembang tersebut mengajak pendengarnya bersiap beriman dan memimpin dengan amanah.
Peran di Demak
Dalam tradisi, beliau menjadi penasihat Kesultanan Demak dan dikaitkan dengan pembangunan Masjid Agung Demak, termasuk kisah tiang penyangga yang disusun dari serpihan kayu (soko tatal). Beliau juga dikaitkan dengan asal-usul perayaan Maulid dan Sekaten di Jawa.
Peninggalan Sunan Kalijaga
- Makam di Kadilangu, Demak. Salah satu makam wali yang paling ramai diziarahi.
- Masjid Agung Demak. Masjid bersejarah yang dikaitkan dengan peran beliau dan para wali.
- Tembang dan seni dakwah. Warisan budaya yang masih dikenal masyarakat.
- Tradisi Maulid dan Sekaten. Perayaan yang dikaitkan dengan upaya beliau memperkenalkan Islam.
Wafat Sunan Kalijaga
Beliau wafat pada abad ke-16 dan dimakamkan di Kadilangu, Demak. Keturunan beliau menjaga kompleks makam hingga sekarang. Putra beliau, Sunan Muria, melanjutkan dakwah di lereng Gunung Muria.
Pelajaran dari Sunan Kalijaga
- Dakwah efektif ketika disampaikan dengan bahasa dan budaya masyarakat.
- Niat baik harus ditempuh dengan cara yang benar.
- Masa lalu yang salah tidak menutup jalan menjadi orang saleh.
- Kelenturan bergaul membuka hati berbagai kalangan.
Kesimpulan
Sunan Kalijaga adalah teladan dai yang kreatif dan luwes. Beliau memperkenalkan Islam tanpa memaksa dan tanpa menghapus identitas masyarakat, tetapi mengisinya dengan nilai tauhid. Lihat juga kisah Sunan Kudus dan baca kisah Wali Songo lainnya di Islamipedia.
Wallâhu a’lam bish-shawâb.







