Cerita • Teladan • Hikmah

Islamipedia.id

Nabi Isa

Kisah Nabi Isa AS Lengkap: Dari Kelahiran hingga Diangkat ke Langit

Kisah Nabi Isa AS Lengkap Dari Kelahiran hingga Diangkat ke Langit

Nabi Isa AS adalah salah satu nabi dan rasul ulul azmi yang kisahnya paling sering disebut dalam Al-Quran. Beliau lahir tanpa ayah, berbicara sejak masih bayi, dan dianugerahi banyak mukjizat atas izin Allah. Kisah Nabi Isa AS mengajarkan tentang kekuasaan Allah yang tidak terbatas, kesabaran dalam berdakwah, dan kemurnian tauhid. Mari kita telusuri kisahnya berdasarkan Al-Quran dan hadis sahih.

Profil Singkat Nabi Isa AS

Berikut gambaran singkat tentang Nabi Isa AS:

  • Nama: Isa bin Maryam AS. Dalam Al-Quran beliau dinisbatkan kepada ibunya karena lahir tanpa ayah.
  • Gelar: Al-Masih, Kalimatullah (kalimat dari Allah), dan Ruhun minhu (ruh dari Allah).
  • Ibu: Maryam binti Imran, wanita suci yang dipilih Allah.
  • Kaum yang diutus: Bani Israil.
  • Kitab: Injil, yang membenarkan Taurat.
  • Wilayah dakwah: Negeri Syam (wilayah Palestina dan sekitarnya).

Allah mengutus Nabi Isa AS kepada Bani Israil untuk mengajak mereka kembali kepada tauhid, setelah banyak di antara mereka menyimpang dari ajaran para nabi sebelumnya. Beliau juga membenarkan Taurat yang dibawa Nabi Musa AS.

Kelahiran dan Masa Kecil

Kisah kelahiran Nabi Isa AS berawal dari keluarga Imran yang saleh. Ibu Maryam bernazar menyerahkan anaknya untuk berkhidmat di rumah ibadah, dan Allah menerima Maryam dengan penerimaan yang baik. Nabi Zakariya AS menjadi pengasuhnya (QS. Ali Imran: 35-37). Maryam tumbuh sebagai wanita yang tekun beribadah di mihrab.

1. Kabar Gembira dari Malaikat Jibril

Suatu hari Maryam mengasingkan diri ke tempat di sebelah timur. Allah mengutus Malaikat Jibril yang menjelma sebagai manusia sempurna untuk menyampaikan kabar gembira tentang seorang anak yang suci. Maryam terkejut, tetapi menerima kehendak Allah.

Allah berfirman dalam QS. Maryam ayat 20-21:

قَالَتْ اَنّٰى يَكُوْنُ لِيْ غُلٰمٌ وَّلَمْ يَمْسَسْنِيْ بَشَرٌ وَّلَمْ اَكُ بَغِيًّا ۗ قَالَ كَذٰلِكِ قَالَ رَبُّكِ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌ ۗ وَلِنَجْعَلَهٗ اٰيَةً لِّلنَّاسِ وَرَحْمَةً مِّنَّا ۚ وَكَانَ اَمْرًا مَّقْضِيًّا

Qâlat annâ yakûnu lî ghulâmuw wa lam yamsasnî basyaruw wa lam aku baghiyyâ, qâla kadzâliki qâla rabbuki huwa ‘alayya hayyin, wa linaj’alahû âyatal lin-nâsi wa rahmatam minnâ, wa kâna amram maqdhiyyâ.

Dia (Maryam) berkata, “Bagaimana mungkin aku mempunyai anak laki-laki, padahal tidak pernah ada orang (laki-laki) yang menyentuhku dan aku bukan seorang pezina!” Dia (Jibril) berkata, “Demikianlah.” Tuhanmu berfirman, “Hal itu mudah bagi-Ku, dan agar Kami menjadikannya suatu tanda (kebesaran Allah) bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu urusan yang (sudah) diputuskan.”

2. Melahirkan dan Tuduhan dari Kaumnya

Maryam mengandung dengan kuasa Allah, lalu menyingkir ke tempat yang jauh. Saat tiba waktu melahirkan, ia bersandar pada pangkal pohon kurma, dan Allah menenangkannya dengan menyediakan air dan buah kurma (QS. Maryam: 22-26). Al-Quran tidak menyebut nama kota tempat kelahiran Nabi Isa AS. Sebagian riwayat menyebutnya Betlehem, tetapi rincian itu bukan keterangan pasti dari Al-Quran atau hadis sahih.

Ketika Maryam kembali kepada kaumnya sambil menggendong bayinya, mereka menuduhnya berbuat zina dan berkata, “Wahai saudara perempuan Harun, ayahmu bukan orang yang jahat dan ibumu bukan pezina” (QS. Maryam: 27-28). Maryam hanya menunjuk kepada bayinya, sesuai perintah Allah untuk bernazar diam.

3. Berbicara Sejak Bayi

Saat itulah bayi Isa berbicara untuk membela ibunya dan menjelaskan siapa dirinya. Allah berfirman dalam QS. Maryam ayat 30-33:

قَالَ اِنِّيْ عَبْدُ اللّٰهِ ۗ اٰتٰنِيَ الْكِتٰبَ وَجَعَلَنِيْ نَبِيًّا ۙ وَّجَعَلَنِيْ مُبٰرَكًا اَيْنَ مَا كُنْتُۖ وَاَوْصٰنِيْ بِالصَّلٰوةِ وَالزَّكٰوةِ مَا دُمْتُ حَيًّا ۖ وَّبَرًّا بِوَالِدَتِيْ وَلَمْ يَجْعَلْنِيْ جَبَّارًا شَقِيًّا ۚ وَالسَّلٰمُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُّ وَيَوْمَ اَمُوْتُ وَيَوْمَ اُبْعَثُ حَيًّا

Qâla innî ‘abdullâh, âtâniyal-kitâba wa ja’alanî nabiyyâ, wa ja’alanî mubârakan aina mâ kuntu wa aushânî bish-shalâti waz-zakâti mâ dumtu hayyâ, wa barram biwâlidatî wa lam yaj’alnî jabbâran syaqiyyâ, was-salâmu ‘alayya yauma wulidtu wa yauma amûtu wa yauma ub’atsu hayyâ.

Dia (Isa) berkata, “Sesungguhnya aku hamba Allah. Dia memberiku Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi. Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkahi di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (melaksanakan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup; dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.”

Perhatikan bahwa kalimat pertama yang diucapkan bayi Isa adalah pengakuan bahwa ia hamba Allah. Ini menjadi dasar tauhid yang kelak beliau dakwahkan.

Perjalanan Dakwah

Setelah dewasa, Nabi Isa AS diangkat sebagai nabi dan rasul bagi Bani Israil. Beliau membawa Injil sebagai petunjuk dan cahaya, membenarkan Taurat, serta menghalalkan sebagian hal yang sebelumnya diharamkan atas mereka (QS. Ali Imran: 50; QS. Al-Maidah: 46).

1. Pokok Dakwah: Tauhid

Inti dakwah Nabi Isa AS sama dengan para nabi sebelumnya, yaitu menyembah Allah semata. Al-Quran menegaskan bahwa Isa hanyalah hamba dan rasul, bukan Tuhan dan bukan anak Tuhan. Dalam QS. Al-Maidah: 116-117, Allah menggambarkan Isa yang berlepas diri dari anggapan bahwa ia memerintahkan manusia menyembahnya.

2. Para Hawariyyun, Pengikut Setia

Sebagian Bani Israil beriman dan menjadi pengikut setia beliau yang disebut Hawariyyun. Ketika Nabi Isa AS merasakan keingkaran kaumnya, beliau bertanya siapa yang mau menjadi penolongnya di jalan Allah.

قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنصَارُ اللَّهِ آمَنَّا بِاللَّهِ وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

Qâlal-hawâriyyûna nahnu anshârullâh, âmannâ billâh, wasy-had bi’annâ muslimûn.

Para Hawariyyun (sahabat setia) menjawab, “Kamilah penolong-penolong agama Allah. Kami beriman kepada Allah, dan saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang muslim.” (QS. Ali Imran: 52)

3. Kabar Gembira tentang Nabi Terakhir

Nabi Isa AS juga menyampaikan kabar gembira tentang datangnya seorang rasul setelahnya, yaitu Ahmad, salah satu nama Nabi Muhammad ﷺ.

وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِن بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ

Wa mubasysyiram birasûliy ya’tî mim ba’dismuhû Ahmad.

Dan memberi kabar gembira tentang seorang rasul yang akan datang setelahku, namanya Ahmad. (QS. Ash-Shaff: 6)

Mukjizat Nabi Isa AS

Allah membekali Nabi Isa AS dengan berbagai mukjizat yang sesuai dengan zamannya, ketika ilmu pengobatan sangat dihargai. Semuanya terjadi atas izin Allah, di antaranya:

  • Berbicara sejak bayi untuk membela ibunya.
  • Menyembuhkan orang yang buta sejak lahir.
  • Menyembuhkan orang yang berpenyakit kusta atau sopak.
  • Menghidupkan orang mati dengan izin Allah.
  • Membuat bentuk burung dari tanah, lalu meniupnya hingga menjadi burung hidup.
  • Mengabarkan apa yang dimakan dan disimpan orang di rumah mereka.
  • Turunnya hidangan dari langit atas doa beliau (QS. Al-Maidah: 112-115).

Allah berfirman dalam QS. Ali Imran ayat 49:

وَرَسُوْلًا اِلٰى بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ ۚ اِنِّيْ قَدْ جِئْتُكُمْ بِاٰيَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ ۖ اَنِّيْٓ اَخْلُقُ لَكُمْ مِّنَ الطِّيْنِ كَهَيْـَٔةِ الطَّيْرِ فَاَنْفُخُ فِيْهِ فَيَكُوْنُ طَيْرًا بِاِذْنِ اللّٰهِ ۚ وَاُبْرِئُ الْاَكْمَهَ وَالْاَبْرَصَ وَاُحْيِ الْمَوْتٰى بِاِذْنِ اللّٰهِ ۚ وَاُنَبِّئُكُمْ بِمَا تَأْكُلُوْنَ وَمَا تَدَّخِرُوْنَ فِيْ بُيُوْتِكُمْ ۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيَةً لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ

Wa rasûlan ilâ Banî Isrâ’îl, innî qad ji’tukum bi’âyatim mir rabbikum, annî akhluqu lakum minath-thîni kahai’atith-thairi fa anfukhu fîhi fa yakûnu thairan bi-idznillâh, wa ubri’ul-akmaha wal-abrasha wa uhyil-mautâ bi-idznillâh, wa unabbi’ukum bimâ ta’kulûna wa mâ taddakhirûna fî buyûtikum, inna fî dzâlika la’âyatal lakum in kuntum mu’minîn.

Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israil, “Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan sesuatu (tanda) dari Tuhanmu, yaitu aku membuat untuk kamu (burung) dari tanah, kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan izin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari kecil dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan izin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman.”

Doa-doa Nabi Isa AS dalam Al-Quran

1. Doa Memohon Hidangan dari Langit

Para Hawariyyun meminta bukti agar hati mereka tenteram. Nabi Isa AS kemudian berdoa kepada Allah:

اللَّهُمَّ رَبَّنَا أَنزِلْ عَلَيْنَا مَائِدَةً مِّنَ السَّمَاءِ تَكُونُ لَنَا عِيدًا لِّأَوَّلِنَا وَآخِرِنَا وَآيَةً مِّنكَ ۖ وَارْزُقْنَا وَأَنتَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

Allâhumma rabbanâ anzil ‘alainâ mâ’idatam minas-samâ’i takûnu lanâ ‘îdal li’awwalinâ wa âkhirinâ wa âyatam minka, warzuqnâ wa anta khairur-râziqîn.

Ya Allah, Tuhan kami, turunkanlah kepada kami hidangan dari langit (yang hari turunnya) menjadi hari raya bagi kami, yaitu bagi orang-orang yang bersama kami dan yang datang setelah kami, serta menjadi tanda dari-Mu. Berilah kami rezeki, dan Engkaulah pemberi rezeki yang terbaik. (QS. Al-Maidah: 114)

2. Pengakuan Isa tentang Kaumnya

Pada hari kiamat, Allah akan menanyai Nabi Isa AS tentang orang-orang yang menyembahnya. Beliau berlepas diri dari perbuatan itu dan menyerahkan urusan mereka kepada Allah:

إِن تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ ۖ وَإِن تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

In tu’adzdzibhum fa innahum ‘ibâduka, wa in taghfir lahum fa innaka antal-‘azîzul-hakîm.

Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu; dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana. (QS. Al-Maidah: 118)

Penolakan Bani Israil dan Diangkatnya Nabi Isa AS ke Langit

Meski telah menunjukkan banyak mukjizat, sebagian Bani Israil tetap menolak dakwah Nabi Isa AS. Mereka merencanakan makar untuk membunuh beliau, tetapi Allah menggagalkan rencana itu dan menyelamatkan Nabi-Nya (QS. Ali Imran: 54-55).

Allah berfirman dalam QS. An-Nisa ayat 157-158:

وَمَا قَتَلُوْهُ وَمَا صَلَبُوْهُ وَلٰكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ ۗ وَاِنَّ الَّذِيْنَ اخْتَلَفُوْا فِيْهِ لَفِيْ شَكٍّ مِّنْهُ ۗ مَا لَهُمْ بِهٖ مِنْ عِلْمٍ اِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ ۚ وَمَا قَتَلُوْهُ يَقِيْنًا ۙ بَلْ رَّفَعَهُ اللّٰهُ اِلَيْهِ ۗ وَكَانَ اللّٰهُ عَزِيْزًا حَكِيْمًا

Wa mâ qatalûhu wa mâ shalabûhu wa lâkin syubbiha lahum, wa innalladzînakh-talafû fîhi lafî syakkim minh, mâ lahum bihî min ‘ilmin illat-tibâ’azh-zhann, wa mâ qatalûhu yaqînâ, bar rafa’ahullâhu ilaih, wa kânallâhu ‘azîzan hakîmâ.

Dan mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh) adalah orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keraguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka. Mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.

Mayoritas ulama tafsir memahami bahwa Nabi Isa AS diangkat Allah ke langit dalam keadaan hidup. Para ulama berbeda riwayat tentang siapa yang diserupakan dengan beliau, dan tidak ada keterangan sahih yang menyebut identitasnya secara pasti. Karena itu, kita cukup beriman pada apa yang Allah kabarkan.

Turunnya Kembali Nabi Isa AS di Akhir Zaman

Dalam hadis sahih riwayat Al-Bukhari dan Muslim, Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa Nabi Isa AS akan turun kembali menjelang kiamat sebagai hakim yang adil. Beliau akan menegakkan syariat Nabi Muhammad ﷺ, memecahkan salib, membunuh babi, serta membinasakan Dajjal. Banyak ulama tafsir juga memahami bahwa turunnya beliau menjadi pertanda dekatnya hari kiamat, sebagaimana disinggung dalam firman Allah:

وَإِنَّهُ لَعِلْمٌ لِّلسَّاعَةِ فَلَا تَمْتَرُنَّ بِهَا وَاتَّبِعُونِ ۚ هَٰذَا صِرَاطٌ مُّسْتَقِيمٌ

Wa innahû la’ilmul lis-sâ’ati falâ tamtarunna bihâ wattabi’ûn, hâdzâ shirâthum mustaqîm.

Dan sesungguhnya dia (Isa) benar-benar menjadi pertanda akan datangnya hari Kiamat. Karena itu janganlah kamu meragukannya dan ikutilah Aku. Inilah jalan yang lurus. (QS. Az-Zukhruf: 61)

Kesimpulan

Kisah Nabi Isa AS adalah bukti kekuasaan Allah yang tidak terbatas, mulai dari kelahiran tanpa ayah, berbicara sejak bayi, hingga diangkat ke langit. Dari beliau kita belajar tentang kemurnian tauhid, kesabaran dalam berdakwah, dan bakti kepada ibu. Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari kisah beliau dan memperkuat iman kita.

Untuk memperdalam, baca juga Kisah Nabi Ibrahim AS, jelajahi kategori Kisah Para Nabi, atau baca kumpulan doa dan dzikir di Islamipedia.

Wallâhu a’lam bish-shawâb.

Rujukan

QS. Maryam: 16-34

QS. Ali Imran: 35-37, 45-55

QS. Al-Maidah: 110-118

QS. An-Nisa: 157-158

Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim (hadis turunnya Isa bin Maryam di akhir zaman)

Baca juga