Cerita • Teladan • Hikmah

Islamipedia.id

Nabi Musa

Kisah Nabi Musa AS Lengkap: Dari Sungai Nil hingga Membelah Laut

Kisah Nabi Musa AS Lengkap Dari Sungai Nil hingga Membelah Laut

Nabi Musa AS adalah salah satu nabi yang paling sering disebut dalam Al-Quran, lebih dari seratus kali. Beliau dijuluki Kalimullah, yaitu nabi yang diajak bicara langsung oleh Allah. Kisah beliau dari bayi yang dihanyutkan di Sungai Nil hingga laut yang terbelah penuh dengan mukjizat dan pelajaran berharga. Artikel ini merangkum kisah beliau berdasarkan Al-Quran dan hadis sahih, sebagai bagian dari Kisah Para Nabi di Kisah Islamipedia.

Profil Singkat Nabi Musa AS

  • Nama: Musa ‘alaihissalam, dari kalangan Bani Israil. Silsilah beliau sebagai putra Imran dari keturunan Lawi bin Ya’qub dikenal melalui riwayat.
  • Julukan: Kalimullah (yang diajak bicara langsung oleh Allah, QS. An-Nisa: 164).
  • Kedudukan: Nabi dan rasul, termasuk Ulul ‘Azmi (QS. Al-Ahzab: 7 dan QS. Asy-Syura: 13).
  • Diutus kepada: Firaun dan para pembesarnya, serta Bani Israil.
  • Kitab: Taurat (QS. Al-Ma’idah: 44) dan shuhuf Musa (QS. Al-A’la: 19).
  • Pendamping dakwah: Saudaranya, Nabi Harun AS.
  • Masa hidup: Al-Quran tidak menyebutkan tahun lahir, tahun wafat, maupun usia beliau.

Bani Israil adalah keturunan Nabi Ya’qub AS yang menetap di Mesir sejak masa Nabi Yusuf AS. Allah memuji Nabi Musa dalam QS. Maryam ayat 51:

وَاذْكُرْ فِى الْكِتٰبِ مُوْسٰىٓۖ اِنَّهٗ كَانَ مُخْلَصًا وَّكَانَ رَسُوْلًا نَّبِيًّا

Wadzkur fil-kitâbi Mûsâ, innahû kâna mukhlashaw wa kâna rasûlan nabiyyâ.

Dan ceritakanlah (Muhammad) kisah Musa di dalam Kitab (Al-Quran), dia benar-benar orang yang dipilih, dan seorang rasul dan nabi.

Keistimewaan Nabi Musa AS

  • Dipilih Allah untuk membawa risalah dan diajak bicara langsung (QS. Thaha: 13 dan QS. Al-A’raf: 144).
  • Diasuh di bawah pengawasan Allah sejak bayi (QS. Thaha: 39).
  • Menerima Taurat sebagai petunjuk dan cahaya bagi Bani Israil.
  • Dibantu saudaranya, Nabi Harun AS, atas permohonan beliau (QS. Thaha: 29-36).
  • Berguru kepada seorang hamba Allah yang saleh, yang dalam hadis sahih disebut Khidir (QS. Al-Kahfi: 60-82).

Kelahiran, Masa Kecil, dan Pelarian ke Madyan

Dihanyutkan di Sungai Nil

Nabi Musa lahir pada masa Firaun yang zalim. Firaun menindas Bani Israil dan membunuh bayi laki-laki mereka karena takut kehilangan kekuasaan. Allah berfirman dalam QS. Al-Qashash ayat 4:

اِنَّ فِرْعَوْنَ عَلَا فِى الْاَرْضِ وَجَعَلَ اَهْلَهَا شِيَعًا يَّسْتَضْعِفُ طَاۤىِٕفَةً مِّنْهُمْ يُذَبِّحُ اَبْنَاۤءَهُمْ وَيَسْتَحْيٖ نِسَاۤءَهُمْۗ اِنَّهٗ كَانَ مِنَ الْمُفْسِدِيْنَ

Inna Fir’auna ‘alâ fil-ardhi wa ja’ala ahlahâ syiya’ay yastadh’ifu thâ’ifatam minhum yudzabbihu abnâ’ahum wa yastahyî nisâ’ahum, innahû kâna minal-mufsidîn.

Sungguh, Fir’aun telah berbuat sewenang-wenang di bumi dan menjadikan penduduknya terpecah belah, dia menindas segolongan dari mereka (Bani Israil), dia menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak perempuan mereka. Sungguh, dia termasuk orang yang berbuat kerusakan.

Untuk menyelamatkan bayinya, ibunda Nabi Musa mendapat ilham dari Allah. Allah berfirman dalam QS. Al-Qashash ayat 7:

وَاَوْحَيْنَآ اِلٰٓى اُمِّ مُوْسٰٓى اَنْ اَرْضِعِيْهِۚ فَاِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَاَلْقِيْهِ فِى الْيَمِّ وَلَا تَخَافِيْ وَلَا تَحْزَنِيْۚ اِنَّا رَآدُّوْهُ اِلَيْكِ وَجَاعِلُوْهُ مِنَ الْمُرْسَلِيْنَ

Wa auhainâ ilâ ummi Mûsâ an ardh’îh, fa idzâ khifti ‘alaihi fa alqîhi fil-yammi wa lâ takhâfî wa lâ tahzanî, innâ râddûhu ilaiki wa jâ’ilûhu minal-mursalîn.

Dan Kami ilhamkan kepada ibunya Musa, “Susuilah dia (Musa), dan apabila engkau khawatir terhadapnya, maka hanyutkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah engkau takut dan jangan (pula) bersedih hati, sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya salah seorang dari para rasul.”

Dibesarkan di Istana Firaun

Bayi Musa ditemukan oleh keluarga Firaun. Allah berfirman bahwa mereka memungutnya agar kelak ia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka (QS. Al-Qashash: 8). Istri Firaun jatuh hati kepada bayi itu dan membujuk suaminya. Allah berfirman dalam QS. Al-Qashash ayat 9:

وَقَالَتِ امْرَاَتُ فِرْعَوْنَ قُرَّتُ عَيْنٍ لِّيْ وَلَكَۗ لَا تَقْتُلُوْهُۖ عَسٰىٓ اَنْ يَّنْفَعَنَآ اَوْ نَتَّخِذَهٗ وَلَدًا وَّهُمْ لَا يَشْعُرُوْنَ

Wa qâlatimra’atu Fir’auna qurratu ‘ainil lî wa lak, lâ taqtulûh, ‘asâ ay yanfa’anâ au nattakhidzahû waladaw wa hum lâ yasy’urûn.

Dan istri Fir’aun berkata, “(Dia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan dia bermanfaat bagi kita atau kita ambil dia sebagai anak,” sedang mereka tidak menyadari.

Hati ibu Musa menjadi kosong dan gelisah, tetapi Allah meneguhkan hatinya. Ia menyuruh kakak perempuan Musa mengikuti jejak adiknya. Bayi Musa menolak menyusu kepada perempuan lain, hingga kakaknya menawarkan seorang ibu susu yang dapat mengasuhnya. Dengan cara itu Allah mengembalikan Musa kepada ibunya agar hatinya tenang dan ia tahu bahwa janji Allah benar (QS. Al-Qashash: 10-13). Nabi Musa pun tumbuh di istana Firaun, di bawah penjagaan Allah, tanpa mereka menyadari bahwa bayi itu kelak akan menentang kezaliman Firaun.

Pelarian ke Madyan

Setelah dewasa, Nabi Musa dianugerahi hikmah dan ilmu (QS. Al-Qashash: 14). Suatu hari beliau mendapati seorang laki-laki dari Bani Israil berkelahi dengan seorang Mesir. Beliau membela orang Bani Israil itu dan memukul si Mesir hingga tewas. Para ulama menjelaskan bahwa beliau tidak bermaksud membunuh. Beliau segera menyesal dan memohon ampun (doa ini tercantum pada bagian Doa di bawah), dan Allah mengampuninya.

Esoknya, ketika urusan itu diketahui, seorang laki-laki datang dari ujung kota memperingatkan bahwa para pembesar sedang bermusyawarah untuk membunuhnya. Nabi Musa keluar dari kota dalam keadaan takut sambil berdoa agar diselamatkan dari kaum yang zalim (QS. Al-Qashash: 20-21).

Beliau menuju Madyan. Di sana beliau menolong dua perempuan yang menunggu giliran memberi minum ternak. Dalam keadaan lapar dan letih, beliau berdoa memohon kebaikan dari Allah. Salah satu dari kedua perempuan itu kemudian datang mengundang beliau bertemu ayah mereka, seorang yang sudah tua. Sang ayah menawarkan putrinya untuk dinikahkan dengan Musa dengan syarat Musa bekerja untuknya delapan tahun, dan jika menggenapkan sepuluh tahun maka itu kebaikan dari Musa (QS. Al-Qashash: 22-28). Dalam riwayat Al-Bukhari dari Ibnu Abbas, Nabi Musa menunaikan masa yang terpanjang, yaitu sepuluh tahun.

Wahyu, Mukjizat, dan Dakwah kepada Firaun

Wahyu di Lembah Thuwa

Setelah menunaikan masa kerjanya, Nabi Musa berangkat membawa keluarganya. Di sisi gunung Thursina, beliau melihat api dan mendekatinya untuk membawa sedikit bara atau petunjuk jalan (QS. Thaha: 9-10). Di sanalah beliau menerima wahyu pertama. Allah berfirman dalam QS. Thaha ayat 11-14:

فَلَمَّآ اَتٰىهَا نُوْدِيَ يٰمُوْسٰىۙ اِنِّيْٓ اَنَا۠ رَبُّكَ فَاخْلَعْ نَعْلَيْكَۚ اِنَّكَ بِالْوَادِ الْمُقَدَّسِ طُوًىۗ وَاَنَا اخْتَرْتُكَ فَاسْتَمِعْ لِمَا يُوْحٰى اِنَّنِيْٓ اَنَا اللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنَا۠ فَاعْبُدْنِيْۙ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ لِذِكْرِيْ

Fa lammâ atâhâ nûdiya yâ Mûsâ, innî ana rabbuka fakhla’ na’laika innaka bil-wâdil-muqaddasi Thuwa, wa ana-khtartuka fastami’ limâ yûhâ, innanî anallâhu lâ ilâha illâ ana fa’budnî wa aqimish-shalâta lidzikrî.

Maka ketika dia (Musa) datang kepadanya (api) itu, dia dipanggil, “Wahai Musa! Sesungguhnya Aku adalah Tuhanmu, maka lepaskanlah kedua sandalmu, karena sesungguhnya engkau (berada) di lembah suci, yaitu Thuwa. Dan Aku telah memilihmu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu). Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah shalat untuk mengingat-Ku.”

Allah memerintahkan beliau pergi kepada Firaun yang telah melampaui batas. Sebelum berangkat, Nabi Musa memohon kelapangan dada, kemudahan urusan, dan agar saudaranya, Harun, dijadikan pembantunya (QS. Thaha: 25-36). Doa beliau tercantum pada bagian Doa di bawah.

Mukjizat Nabi Musa AS

Allah membekali Nabi Musa dengan berbagai mukjizat sebagai bukti kebenaran risalahnya. Di antaranya:

  • Tongkat yang menjadi ular: tongkat beliau berubah menjadi ular besar atas izin Allah (QS. Thaha: 17-21).
  • Tangan yang bercahaya putih: tangan beliau keluar putih bercahaya tanpa cacat (QS. Thaha: 22).
  • Sembilan tanda yang nyata: mukjizat-mukjizat yang diperlihatkan kepada Firaun dan kaumnya (QS. Al-Isra’: 101).
  • Laut yang terbelah: jalan kering di tengah laut bagi Bani Israil (QS. Asy-Syu’ara: 63).
  • Air memancar dari batu: dua belas mata air bagi dua belas suku Bani Israil (QS. Al-Baqarah: 60).
  • Awan yang menaungi dan makanan dari langit: Allah menurunkan manna dan salwa (QS. Al-Baqarah: 57).

Mukjizat tongkat dan tangan diperlihatkan kepada Firaun. Allah berfirman dalam QS. Al-A’raf ayat 107-108:

فَاَلْقٰى عَصَاهُ فَاِذَا هِيَ ثُعْبَانٌ مُّبِيْنٌۖ وَنَزَعَ يَدَهٗ فَاِذَا هِيَ بَيْضَاۤءُ لِلنّٰظِرِيْنَ

Fa alqâ ‘ashâhu fa idzâ hiya tsu’bânum mubîn, wa naza’a yadahû fa idzâ hiya baidhâ’u lin-nâzhirîn.

Lalu (Musa) melemparkan tongkatnya, maka tiba-tiba tongkat itu menjadi ular besar yang sebenarnya. Dan dia mengeluarkan tangannya (dari dalam bajunya), maka seketika itu juga menjadi putih (bercahaya) bagi orang-orang yang melihatnya.

Menghadapi Firaun dan Para Pesihir

Nabi Musa dan Nabi Harun diperintahkan berbicara dengan lemah lembut kepada Firaun. Allah berfirman dalam QS. Thaha ayat 43-44:

اِذْهَبَآ اِلٰى فِرْعَوْنَ اِنَّهٗ طَغٰىۚ فَقُوْلَا لَهٗ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهٗ يَتَذَكَّرُ اَوْ يَخْشٰى

Idzhabâ ilâ Fir’auna innahû thaghâ, faqûlâ lahû qaulal layyinal la’allahû yatadzakkaru au yakhsyâ.

Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir’aun) dengan perkataan yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut.

Firaun menolak dakwah itu dengan sombong. Ia bahkan mengaku sebagai tuhan. Allah berfirman dalam QS. An-Nazi’at ayat 24:

فَقَالَ اَنَا رَبُّكُمُ الْاَعْلٰىۖ

Fa qâla anâ rabbukumul-a’lâ.

Dia berkata, “Akulah tuhanmu yang paling tinggi.”

Firaun menuduh mukjizat Nabi Musa sebagai sihir dan mengumpulkan para pesihir terbaik untuk menandinginya pada hari yang ditentukan. Nabi Musa menerima tantangan itu. Allah menguatkan beliau dalam QS. Thaha ayat 69:

وَاَلْقِ مَا فِيْ يَمِيْنِكَ تَلْقَفْ مَا صَنَعُوْاۗ اِنَّمَا صَنَعُوْا كَيْدُ سٰحِرٍۗ وَلَا يُفْلِحُ السَّاحِرُ حَيْثُ اَتٰى

Wa alqi mâ fî yamînika talqaf mâ shana’û, innamâ shana’û kaidu sâhir, wa lâ yuflihus-sâhiru haitsu atâ.

Dan lemparkanlah apa yang ada di tangan kananmu, niscaya ia akan menelan apa yang mereka buat. Apa yang mereka buat itu hanyalah tipu daya pesihir (belaka). Dan tidak akan menang pesihir itu, dari mana pun ia datang.

Tongkat Nabi Musa menelan semua yang mereka buat. Para pesihir langsung menyadari bahwa itu bukan sihir. Allah berfirman dalam QS. Thaha ayat 70:

فَاُلْقِيَ السَّحَرَةُ سُجَّدًا قَالُوْٓا اٰمَنَّا بِرَبِّ هٰرُوْنَ وَمُوْسٰى

Fa ulqiyas-saharatu sujjadan qâlû âmannâ birabbi Hârûna wa Mûsâ.

Maka para pesihir itu merebahkan diri dengan bersujud, seraya berkata, “Kami telah beriman kepada Tuhannya Harun dan Musa.”

Firaun murka dan mengancam akan memotong tangan dan kaki mereka secara silang serta menyalib mereka. Para pesihir tetap teguh pada iman mereka (QS. Thaha: 71-73). Meski demikian, Firaun dan para pembesarnya tetap ingkar. Allah mengirimkan serangkaian azab kepada mereka, yaitu musim paceklik, banjir, belalang, kutu, katak, dan darah, tetapi setiap kali azab dihilangkan mereka kembali melanggar janji (QS. Al-A’raf: 130-135). Di tengah keluarga Firaun sendiri ada orang beriman yang menyembunyikan imannya (QS. Ghafir: 28), dan istri Firaun juga beriman serta memohon rumah di surga (QS. At-Tahrim: 11).

Membelah Laut dan Tenggelamnya Firaun

Pengejaran dan Terbelahnya Laut

Allah memerintahkan Nabi Musa membawa Bani Israil keluar pada malam hari. Firaun mengetahuinya dan mengerahkan pasukan mengejar mereka (QS. Asy-Syu’ara: 52-60). Ketika sampai di tepi laut, kedua pasukan saling melihat. Para pengikut Musa panik, tetapi beliau tetap yakin. Allah berfirman dalam QS. Asy-Syu’ara ayat 61-62:

فَلَمَّا تَرَاۤءَا الْجَمْعٰنِ قَالَ اَصْحٰبُ مُوْسٰىٓ اِنَّا لَمُدْرَكُوْنَۚ قَالَ كَلَّاۚ اِنَّ مَعِيَ رَبِّيْ سَيَهْدِيْنِ

Fa lammâ tarâ’al-jam’âni qâla ash-hâbu Mûsâ innâ lamudrakûn, qâla kallâ inna ma’iya rabbî sayahdîn.

Maka ketika kedua golongan itu saling melihat, berkatalah para pengikut Musa, “Kita pasti akan tersusul.” Dia (Musa) menjawab, “Sekali-kali tidak (akan tersusul)! Sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.”

Lalu Allah memerintahkan beliau memukul laut dengan tongkatnya. Allah berfirman dalam QS. Asy-Syu’ara ayat 63:

فَاَوْحَيْنَآ اِلٰى مُوْسٰٓى اَنِ اضْرِبْ بِّعَصَاكَ الْبَحْرَۗ فَانْفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيْمِ

Fa auhainâ ilâ Mûsâ anidhrib bi’ashâkal-bahra fanfalaqa fa kâna kullu firqin kath-thaudil-‘azhîm.

Lalu Kami wahyukan kepada Musa, “Pukullah laut itu dengan tongkatmu.” Maka terbelahlah laut itu, dan tiap-tiap belahan seperti gunung yang besar.

Bani Israil menyeberang dengan selamat melalui jalan kering di tengah laut (QS. Thaha: 77).

Tenggelamnya Firaun

Firaun dan pasukannya ikut masuk ke jalan itu. Setelah Bani Israil selamat, laut kembali menutup dan menenggelamkan mereka semua (QS. Asy-Syu’ara: 64-66). Ketika Firaun hampir tenggelam, ia berkata bahwa dirinya beriman kepada Tuhan yang dipercayai Bani Israil (QS. Yunus: 90). Namun pengakuan itu datang setelah azab tiba, sehingga tidak diterima. Allah berfirman dalam QS. Yunus ayat 92:

فَالْيَوْمَ نُنَجِّيْكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُوْنَ لِمَنْ خَلْفَكَ اٰيَةًۗ وَاِنَّ كَثِيْرًا مِّنَ النَّاسِ عَنْ اٰيٰتِنَا لَغٰفِلُوْنَ

Fal-yauma nunajjîka bibadanika litakûna liman khalfaka âyah, wa inna katsîram minan-nâsi ‘an âyâtinâ laghâfilûn.

Maka pada hari ini Kami selamatkan jasadmu agar engkau menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang setelahmu, dan sungguh, kebanyakan manusia lengah dari tanda-tanda (kekuasaan) Kami.

Dalam hadis riwayat Al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas, ketika Rasulullah ﷺ tiba di Madinah, beliau mendapati orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura karena itulah hari Allah menyelamatkan Musa dan Bani Israil dari Firaun. Beliau bersabda bahwa kaum muslimin lebih berhak atas Musa, lalu beliau berpuasa dan memerintahkan umatnya berpuasa pada hari itu.

Setelah Selamat: Taurat dan Ujian Bani Israil

Setelah menyeberangi laut, Bani Israil melihat suatu kaum yang menyembah berhala dan meminta Nabi Musa membuatkan sesembahan serupa. Nabi Musa menegur mereka dengan keras (QS. Al-A’raf: 138-140). Kemudian Allah memanggil beliau ke Gunung Thursina selama empat puluh malam untuk menerima Taurat (QS. Al-A’raf: 142). Allah berfirman dalam QS. Al-A’raf ayat 144:

قَالَ يٰمُوْسٰىٓ اِنِّى اصْطَفَيْتُكَ عَلَى النَّاسِ بِرِسٰلٰتِيْ وَبِكَلَامِيْۖ فَخُذْ مَآ اٰتَيْتُكَ وَكُنْ مِّنَ الشّٰكِرِيْنَ

Qâla yâ Mûsâ innish-thafaituka ‘alan-nâsi birisâlâtî wa bikalâmî fa khudz mâ âtaituka wa kum minasy-syâkirîn.

(Allah) berfirman, “Wahai Musa! Sesungguhnya Aku melebihkan engkau dari manusia yang lain (pada masamu) dengan risalah-Ku dan dengan firman-Ku, sebab itu berpegangteguhlah pada apa yang Aku berikan kepadamu dan bersyukurlah.”

Selama Nabi Musa pergi, sebagian Bani Israil dibujuk oleh seorang bernama As-Samiri hingga menyembah patung anak sapi. Nabi Musa kembali dengan marah dan menegur mereka, sementara Nabi Harun telah memperingatkan mereka sebelumnya (QS. Thaha: 83-98). Perjalanan Bani Israil setelah itu penuh dengan nikmat sekaligus ujian, mulai dari makanan dari langit hingga keengganan sebagian mereka menaati perintah berjihad (QS. Al-Ma’idah: 20-26).

Doa-doa Nabi Musa AS dalam Al-Quran

1. Doa Memohon Ampun

Setelah peristiwa terbunuhnya orang Mesir, Nabi Musa segera bertobat. Doa ini tercantum dalam QS. Al-Qashash ayat 16:

قَالَ رَبِّ اِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَغَفَرَ لَهٗۗ اِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Qâla rabbi innî zhalamtu nafsî faghfir lî fa ghafara lah, innahû huwal-ghafûrur-rahîm.

Dia (Musa) berdoa, “Ya Tuhanku, sungguh, aku telah menzalimi diriku sendiri, maka ampunilah aku.” Maka Dia mengampuninya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.

2. Doa Memohon Kebaikan

Di Madyan, dalam keadaan lapar, letih, dan jauh dari kampung halaman, Nabi Musa berdoa kepada Allah. Doa ini tercantum dalam QS. Al-Qashash ayat 24 (bagian akhir):

رَبِّ اِنِّيْ لِمَآ اَنْزَلْتَ اِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيْرٌ

Rabbi innî limâ anzalta ilayya min khairin faqîr.

Ya Tuhanku, sungguh, aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.

3. Doa Memohon Kelapangan Dada dan Kemudahan Urusan

Sebelum menghadap Firaun, Nabi Musa memohon pertolongan Allah untuk tugas yang berat. Doa ini tercantum dalam QS. Thaha ayat 25-28:

قَالَ رَبِّ اشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْۙ وَيَسِّرْ لِيْٓ اَمْرِيْۙ وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّنْ لِّسَانِيْۙ يَفْقَهُوْا قَوْلِيْ

Qâla rabbisy-rah lî shadrî, wa yassir lî amrî, wahlul ‘uqdatam mil lisânî, yafqahû qaulî.

Dia (Musa) berkata, “Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, agar mereka mengerti perkataanku.”

Hal yang Tidak Dirinci dalam Al-Quran

Agar kisah ini tetap bersandar pada sumber yang kuat, perlu dipahami bahwa Al-Quran dan hadis sahih tidak merinci beberapa hal berikut:

  • Nama Firaun yang berkuasa pada masa Nabi Musa dan identitas historisnya. Al-Quran hanya menyebut gelar “Fir’aun”.
  • Nama ibu, kakak perempuan, dan istri Nabi Musa, serta nama istri Firaun. Nama-nama yang beredar dikenal melalui riwayat.
  • Identitas ayah dua perempuan di Madyan. Al-Quran hanya menyebutnya “orang tua yang lanjut usia” (QS. Al-Qashash: 23) dan tidak menyebut namanya. Sebagian ulama menyebut Nabi Syu’aib AS, sebagian lain tidak menguatkannya.
  • Nama laki-laki Mesir yang terbunuh dan rincian kejadiannya.
  • Lokasi tepatnya laut yang terbelah. Al-Quran menyebut “al-bahr” dan “al-yamm”, sedangkan penyebutan Laut Merah berasal dari keterangan para ahli tafsir dan sejarah.
  • Jumlah Bani Israil yang keluar bersama Nabi Musa dan jumlah pesihir Firaun.
  • Jasad Firaun. Al-Quran hanya menyebut jasadnya diselamatkan sebagai pelajaran, tanpa menyebut lokasi atau identitasnya.
  • Tahun wafat dan lokasi makam Nabi Musa.

Rincian lain yang beredar di buku atau media, seperti ukuran tongkat, bentuk-bentuk sihir para pesihir, atau percakapan panjang di istana Firaun, umumnya berasal dari riwayat Israiliyat yang tidak bisa dipastikan kebenarannya. Karena itu, Kisah Islamipedia hanya menegaskan apa yang disebut Al-Quran dan hadis yang sahih.

Kesimpulan

Kisah Nabi Musa AS mengajarkan kita tentang kekuasaan Allah, keberanian menghadapi kezaliman, dan kesabaran dalam berdakwah. Allah menyelamatkan hamba-Nya yang bertakwa dan menghancurkan kezaliman, bahkan di tempat yang paling berkuasa sekalipun. Allah berfirman dalam QS. Al-A’raf ayat 128:

قَالَ مُوْسٰى لِقَوْمِهِ اسْتَعِيْنُوْا بِاللّٰهِ وَاصْبِرُوْاۚ اِنَّ الْاَرْضَ لِلّٰهِ ۗيُوْرِثُهَا مَنْ يَّشَاۤءُ مِنْ عِبَادِهٖۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ

Qâla Mûsâ liqaumihis-ta’înû billâhi washbirû, innal-ardha lillâh, yûritsuhâ may yasyâ’u min ‘ibâdih, wal-‘âqibatu lil-muttaqîn.

Musa berkata kepada kaumnya, “Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah; sesungguhnya bumi (ini) milik Allah; diwariskan-Nya kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan (yang baik) adalah bagi orang-orang yang bertakwa.”

Shuhuf Musa dan Nabi Ibrahim AS disebut bersama dalam Al-Quran sebagai lembaran-lembaran wahyu terdahulu (QS. Al-A’la: 18-19). Semoga kita dapat meneladani keberanian dan kesabaran Nabi Musa AS.

Wallâhu a’lam bish-shawâb.

Rujukan

QS. Al-Qashash: 1-43

QS. Thaha: 9-98

QS. Asy-Syu'ara: 10-68

QS. Yunus: 90-92

Qishashul Anbiya, Ibnu Katsir

Baca juga