Nabi Yusuf AS adalah salah satu nabi yang kisahnya diabadikan dalam satu surah penuh di Al-Quran, yaitu Surah Yusuf (surah ke-12, terdiri atas 111 ayat). Allah menyebut kisah beliau sebagai ahsanal qashash (sebaik-baik kisah). Dari dibuang ke sumur, difitnah, dipenjara, hingga menjadi bendahara Mesir dan memaafkan saudara-saudaranya, kisah Nabi Yusuf penuh dengan pelajaran berharga. Artikel ini merangkum kisah beliau berdasarkan Al-Quran dan hadis sahih, sebagai bagian dari Kisah Para Nabi di Kisah Islamipedia.
Profil Singkat Nabi Yusuf AS
- Nama: Yusuf ‘alaihissalam, putra Nabi Ya’qub AS dan cucu Nabi Ishaq AS. Dalam hadis riwayat Al-Bukhari, Rasulullah ﷺ menyebut beliau sebagai orang mulia, putra orang mulia, cucu orang mulia, dan cicit orang mulia, yaitu Yusuf bin Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim.
- Kedudukan: Nabi dan rasul. Beliau disebut sebagai salah satu nabi dari keturunan Nabi Ibrahim (QS. Al-An’am: 84).
- Keluarga: Ayahnya Nabi Ya’qub AS, serta sebelas saudara. Nama Bunyamin sebagai saudara kandung beliau dikenal melalui riwayat.
- Tempat kisah: Berawal di Kan’an (wilayah Palestina sekarang) dan berlanjut di Mesir.
- Jabatan: Pemegang perbendaharaan negeri Mesir (QS. Yusuf: 55).
- Julukan: Beliau dikenal dengan ketampanannya. Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah ﷺ menyebut bahwa Yusuf diberi separuh dari ketampanan.
- Masa hidup: Al-Quran tidak menyebutkan tahun lahir, tahun wafat, maupun usia beliau secara pasti.
Allah memulai kisah ini dengan menyebutnya sebagai kisah terbaik. Allah berfirman dalam QS. Yusuf ayat 3:
نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ اَحْسَنَ الْقَصَصِ بِمَآ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ هٰذَا الْقُرْاٰنَ وَاِنْ كُنْتَ مِنْ قَبْلِهٖ لَمِنَ الْغٰفِلِيْنَ
Nahnu naqushshu ‘alaika ahsanal-qashashi bimâ auhainâ ilaika hâdzal-qur’âna wa in kunta min qablihî lamenal-ghâfilîn.
Kami menceritakan kepadamu (Muhammad) kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al-Quran ini kepadamu, dan sesungguhnya engkau sebelum itu termasuk orang yang tidak mengetahui.
Keistimewaan Nabi Yusuf AS
- Kisahnya disebut Allah sebagai sebaik-baik kisah (QS. Yusuf: 3).
- Diajari takwil mimpi, yaitu ilmu menafsirkan peristiwa dan mimpi (QS. Yusuf: 6 dan 21).
- Dipelihara Allah dari perbuatan keji, karena termasuk hamba-Nya yang terpilih (QS. Yusuf: 24).
- Dianugerahi hikmah dan ilmu karena ihsan beliau (QS. Yusuf: 22).
- Diberi kedudukan di bumi Mesir sebagai buah kesabaran dan ketakwaan (QS. Yusuf: 56).
Mimpi Nabi Yusuf AS
Sejak kecil, Nabi Yusuf sudah menunjukkan tanda-tanda kenabian, terutama melalui mimpinya yang terkenal: melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan bersujud kepadanya. Allah berfirman dalam QS. Yusuf ayat 4:
اِذْ قَالَ يُوْسُفُ لِاَبِيْهِ يٰٓاَبَتِ اِنِّيْ رَاَيْتُ اَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا وَّالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ رَاَيْتُهُمْ لِيْ سٰجِدِيْنَ
Idz qâla Yûsufu li-abîhi yâ abati innî ra’aitu ahada ‘asyara kaukabaw wasy-syamsa wal-qamara ra’aituhum lî sâjidîn.
(Ingatlah) ketika Yusuf berkata kepada ayahnya, “Wahai ayahku! Sungguh, aku (bermimpi) melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.”
Nabi Ya’qub memahami bahwa mimpi itu pertanda kedudukan tinggi bagi putranya, sehingga beliau berpesan agar mimpi tersebut tidak diceritakan kepada saudara-saudaranya. Allah berfirman dalam QS. Yusuf ayat 5:
قَالَ يٰبُنَيَّ لَا تَقْصُصْ رُءْيَاكَ عَلٰٓى اِخْوَتِكَ فَيَكِيْدُوْا لَكَ كَيْدًاۗ اِنَّ الشَّيْطٰنَ لِلْاِنْسَانِ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ
Qâla yâ bunayya lâ taqshush ru’yâka ‘alâ ikhwatika fa yakîdû laka kaidâ, innasy-syaithâna lil-insâni ‘aduwwum mubîn.
Dia (ayahnya) berkata, “Wahai anakku! Janganlah engkau ceritakan mimpimu kepada saudara-saudaramu, mereka akan membuat tipu daya (untuk membinasakan)mu. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagi manusia.”
Ujian Demi Ujian: Sumur, Godaan, dan Penjara
Dibuang ke Sumur dan Dijual ke Mesir
Saudara-saudara Nabi Yusuf cemburu karena ayah mereka lebih mencintai Yusuf dan adiknya. Mereka bersekongkol untuk menyingkirkan Yusuf. Salah seorang dari mereka menyarankan agar Yusuf tidak dibunuh, tetapi dimasukkan ke dasar sumur. Allah berfirman dalam QS. Yusuf ayat 10:
قَالَ قَاۤىِٕلٌ مِّنْهُمْ لَا تَقْتُلُوْا يُوْسُفَ وَاَلْقُوْهُ فِيْ غَيٰبَتِ الْجُبِّ يَلْتَقِطْهُ بَعْضُ السَّيَّارَةِ اِنْ كُنْتُمْ فٰعِلِيْنَ
Qâla qâ’ilum minhum lâ taqtulû Yûsufa wa alqûhu fî ghayâbatil-jubbi yaltaqithhu ba’dhus-sayyârati in kuntum fâ’ilîn.
Seorang di antara mereka berkata, “Janganlah kamu membunuh Yusuf, tetapi masukkan saja dia ke dasar sumur agar dia dipungut oleh sebagian musafir, jika kamu hendak berbuat.”
Setelah itu mereka pulang dan melaporkan kepada ayahnya bahwa Yusuf dimakan serigala, sambil membawa baju Yusuf yang berlumur darah palsu. Nabi Ya’qub tidak mempercayai cerita itu. Beliau menghadapi kehilangan putranya dengan ketabahan, sebagaimana firman Allah dalam QS. Yusuf ayat 18 (potongan ayat):
فَصَبْرٌ جَمِيْلٌۗ وَاللّٰهُ الْمُسْتَعَانُ عَلٰى مَا تَصِفُوْنَ
Fa shabrun jamîl, wallâhul-musta’ânu ‘alâ mâ tashifûn.
Maka hanya bersabar itulah yang terbaik (bagiku). Dan kepada Allah saja memohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.
Nabi Yusuf kemudian ditemukan oleh kafilah yang lewat dan dijual dengan harga murah sebagai budak di Mesir (QS. Yusuf: 19-20). Beliau dibeli oleh seorang pembesar Mesir yang bergelar Al-Aziz, yang berpesan kepada istrinya agar memuliakan Yusuf dengan harapan kelak beliau bermanfaat bagi mereka (QS. Yusuf: 21). Orang tua beliau, Nabi Ya’qub AS, adalah putra Nabi Ishaq dan cucu Nabi Ibrahim AS.
Godaan dan Fitnah
Ketika Nabi Yusuf tumbuh dewasa dan tinggal di rumah pembesar itu, istri sang pembesar tertarik kepada beliau dan menggodanya. Dengan menutup pintu-pintu, ia mengajak Yusuf berbuat keji. Yusuf menolak dengan tegas. Allah berfirman dalam QS. Yusuf ayat 23:
وَرَاوَدَتْهُ الَّتِيْ هُوَ فِيْ بَيْتِهَا عَنْ نَّفْسِهٖ وَغَلَّقَتِ الْاَبْوَابَ وَقَالَتْ هَيْتَ لَكَۗ قَالَ مَعَاذَ اللّٰهِ اِنَّهٗ رَبِّيْٓ اَحْسَنَ مَثْوَايَۗ اِنَّهٗ لَا يُفْلِحُ الظّٰلِمُوْنَ
Wa râwadat-hullatî huwa fî baitihâ ‘an nafsihî wa ghallaqatil-abwâba wa qâlat haita lak, qâla ma’âdzallâhi innahû rabbî ahsana matsawâ, innahû lâ yuflihuzh-zhâlimûn.
Dan perempuan yang dia (Yusuf) tinggal di rumahnya menggoda dirinya. Dan dia menutup pintu-pintu, lalu berkata, “Marilah mendekat kepadaku.” Yusuf berkata, “Aku berlindung kepada Allah, sungguh, tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.” Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak akan beruntung.
Yusuf berlari menuju pintu dan perempuan itu menarik bajunya dari belakang hingga robek. Keduanya mendapati suami perempuan itu di depan pintu, lalu perempuan itu menuduh Yusuf. Salah seorang dari keluarganya memberi petunjuk: jika baju robek di depan, maka Yusuf bersalah; jika robek di belakang, maka perempuan itulah yang berdusta. Baju itu ternyata robek dari belakang, sehingga kebenaran Yusuf terbukti (QS. Yusuf: 25-28).
Meski demikian, kabar itu tersebar di kalangan wanita kota. Ketika perempuan itu mengundang mereka dan memperlihatkan Yusuf, mereka terpesona dan mengakui bahwa Yusuf bukan manusia biasa (QS. Yusuf: 30-32).
Dipenjara dan Berdakwah
Setelah melihat tanda-tanda kebenaran Yusuf, para pembesar tetap memutuskan memenjarakan beliau untuk waktu tertentu (QS. Yusuf: 35). Sikap beliau menghadapi godaan itu menjadi teladan. Dalam hadis riwayat Al-Bukhari dan Muslim, termasuk tujuh golongan yang dinaungi Allah pada hari Kiamat adalah seorang yang diajak berbuat keji oleh wanita bangsawan dan cantik, lalu ia berkata, “Aku takut kepada Allah.”
Di penjara, Nabi Yusuf tidak berhenti berdakwah. Dua orang tahanan datang kepadanya dan meminta tafsir mimpi mereka. Sebelum menjawab, beliau mengajak keduanya kepada tauhid. Allah berfirman dalam QS. Yusuf ayat 39:
يٰصَاحِبَيِ السِّجْنِ ءَاَرْبَابٌ مُّتَفَرِّقُوْنَ خَيْرٌ اَمِ اللّٰهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ
Yâ shâhibayis-sijni a-arbâbum mutafarriqûna khairun amillâhul-wâhidul-qahhâr.
Wahai kedua penghuni penjara! Manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa, Mahaperkasa?
Setelah itu beliau menafsirkan mimpi keduanya. Seorang akan bebas dan kembali melayani raja, sedangkan yang lain akan disalib. Kepada tahanan yang akan bebas, beliau berpesan agar menyebut namanya kepada tuannya, tetapi ia lupa sehingga Yusuf tinggal di penjara beberapa tahun lagi (QS. Yusuf: 36-42).
Menafsirkan Mimpi Raja dan Menjadi Bendahara Mesir
Mimpi Raja Mesir
Pada suatu hari, Raja Mesir bermimpi melihat tujuh ekor sapi gemuk dimakan tujuh ekor sapi kurus, dan tujuh tangkai gandum hijau bersama tujuh tangkai gandum kering. Para pembesar tidak mampu menafsirkannya. Tahanan yang dulu bebas teringat kepada Yusuf, lalu meminta izin menemui beliau di penjara (QS. Yusuf: 43-46).
Nabi Yusuf menafsirkan bahwa akan datang tujuh tahun kemakmuran, lalu tujuh tahun paceklik, kemudian satu tahun yang penuh kesejahteraan. Beliau memberi solusi yang cerdas. Allah berfirman dalam QS. Yusuf ayat 47:
قَالَ تَزْرَعُوْنَ سَبْعَ سِنِيْنَ دَاَبًاۚ فَمَا حَصَدْتُّمْ فَذَرُوْهُ فِيْ سُنْۢبُلِهٖٓ اِلَّا قَلِيْلًا مِّمَّا تَأْكُلُوْنَ
Qâla tazra’ûna sab’a sinîna da’abâ, fa mâ hashadtum fa dzarûhu fî sumbulihî illâ qalîlam mimmâ ta’kulûn.
Dia (Yusuf) berkata, “Agar kamu bercocok tanam tujuh tahun (berturut-turut) sebagaimana biasa; kemudian apa yang kamu tuai, biarkanlah di tangkainya kecuali sedikit untuk kamu makan.”
Dibebaskan dan Dibersihkan Namanya
Raja kagum dan memanggil Yusuf. Namun Yusuf tidak langsung keluar dari penjara. Beliau meminta agar kasus para wanita yang dahulu memotong tangan mereka diselidiki terlebih dahulu, demi membersihkan namanya. Setelah diselidiki, istri Al-Aziz mengakui bahwa dirinyalah yang menggoda dan Yusuf adalah orang yang jujur (QS. Yusuf: 50-52). Raja pun memuliakan Yusuf dan menjadikannya orang kepercayaan (QS. Yusuf: 54).
Menjadi Bendahara Mesir
Nabi Yusuf meminta jabatan untuk mengelola perbendaharaan negeri, karena beliau merasa mampu menjaga dan berilmu. Allah berfirman dalam QS. Yusuf ayat 55:
قَالَ اجْعَلْنِيْ عَلٰى خَزَاۤىِٕنِ الْاَرْضِۚ اِنِّيْ حَفِيْظٌ عَلِيْمٌ
Qâlaj’alnî ‘alâ khazâ’inil-ardh, innî hafîzhun ‘alîm.
Dia (Yusuf) berkata, “Jadikanlah aku bendaharawan negeri (Mesir); karena sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, dan berpengetahuan.”
Dengan pengelolaan yang adil dan bijaksana, Nabi Yusuf menyimpan hasil panen pada masa makmur. Ketika paceklik datang, Mesir selamat dari kelaparan. Orang-orang dari negeri sekitar pun datang untuk membeli makanan, termasuk saudara-saudara Yusuf dari Kan’an.
Pertemuan dengan Keluarga
Saudara-saudara Datang ke Mesir
Saudara-saudara Nabi Yusuf datang untuk membeli makanan. Yusuf mengenali mereka, tetapi mereka tidak mengenali Yusuf (QS. Yusuf: 58). Yusuf menyuruh mereka membawa saudara mereka, Bunyamin, pada kunjungan berikutnya. Ketika mereka kembali bersama Bunyamin, Yusuf mengungkapkan jati dirinya kepada Bunyamin secara rahasia (QS. Yusuf: 69). Atas kehendak Allah, Bunyamin tetap tinggal bersama Yusuf melalui peristiwa piala raja yang disiasatkan, sebagaimana disebut Allah, “Demikianlah Kami atur untuk (mencapai maksud) Yusuf” (QS. Yusuf: 70-76).
Peristiwa ini membuat Nabi Ya’qub kembali dirundung duka. Matanya memutih karena kesedihan, tetapi beliau tetap bersabar dan berharap kepada Allah (QS. Yusuf: 84-87).
Yusuf Mengungkap Jati Diri dan Memaafkan
Ketika saudara-saudara Yusuf kembali dengan keadaan susah, Nabi Yusuf akhirnya mengungkapkan jati dirinya. Allah berfirman dalam QS. Yusuf ayat 90:
قَالُوْٓا ءَاِنَّكَ لَاَنْتَ يُوْسُفُۗ قَالَ اَنَا۠ يُوْسُفُ وَهٰذَآ اَخِيْۗ قَدْ مَنَّ اللّٰهُ عَلَيْنَاۗ اِنَّهٗ مَنْ يَّتَّقِ وَيَصْبِرْ فَاِنَّ اللّٰهَ لَا يُضِيْعُ اَجْرَ الْمُحْسِنِيْنَ
Qâlû a-innaka la-anta Yûsuf, qâla ana Yûsufu wa hâdzâ akhî, qad mannallâhu ‘alainâ, innahû may yattaqi wa yashbir fa innallâha lâ yudhî’u ajral-muhsinîn.
Mereka berkata, “Apakah engkau benar-benar Yusuf?” Yusuf menjawab, “Akulah Yusuf dan ini saudaraku. Sungguh, Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada kami. Sesungguhnya barang siapa bertakwa dan bersabar, maka sungguh, Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat kebaikan.”
Saudara-saudaranya mengakui kesalahan mereka. Nabi Yusuf tidak membalas, melainkan memaafkan. Allah berfirman dalam QS. Yusuf ayat 92:
قَالَ لَا تَثْرِيْبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَۗ يَغْفِرُ اللّٰهُ لَكُمْۖ وَهُوَ اَرْحَمُ الرّٰحِمِيْنَ
Qâla lâ tatsrîba ‘alaikumul-yaum, yaghfirullâhu lakum, wa huwa arhamur-râhimîn.
Dia (Yusuf) berkata, “Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni kamu. Dan Dia Maha Penyayang dari segala penyayang.”
Berkumpul Kembali dan Mimpi yang Terwujud
Nabi Yusuf mengutus saudara-saudaranya membawa bajunya kepada sang ayah. Baju itu diusapkan ke wajah Nabi Ya’qub, dan penglihatan beliau pulih kembali (QS. Yusuf: 93-96). Seluruh keluarga kemudian datang ke Mesir. Di sanalah mimpi masa kecil Nabi Yusuf terwujud. Allah berfirman dalam QS. Yusuf ayat 100 (potongan ayat):
وَرَفَعَ اَبَوَيْهِ عَلَى الْعَرْشِ وَخَرُّوْا لَهٗ سُجَّدًاۚ وَقَالَ يٰٓاَبَتِ هٰذَا تَأْوِيْلُ رُءْيَايَ مِنْ قَبْلُۖ قَدْ جَعَلَهَا رَبِّيْ حَقًّاۗ
Wa rafa’a abawaihi ‘alal-‘arsyi wa kharrû lahû sujjadâ, wa qâla yâ abati hâdzâ ta’wîlu ru’yâya min qablu qad ja’alahâ rabbî haqqâ.
Dan dia menaikkan kedua orang tuanya ke atas singgasana. Dan mereka (semuanya) tunduk bersujud kepadanya (Yusuf). Dan dia (Yusuf) berkata, “Wahai ayahku! Inilah takwil mimpiku yang dahulu itu. Sungguh, Tuhanku telah menjadikannya kenyataan.”
Sujud di sini adalah bentuk penghormatan yang dibolehkan dalam syariat umat terdahulu. Dalam syariat Islam, sujud hanya untuk Allah.
Doa-doa Nabi Yusuf AS dalam Al-Quran
1. Doa Memohon Perlindungan dari Tipu Daya
Ketika para wanita terus merayu beliau, Nabi Yusuf berlindung kepada Allah dan lebih memilih penjara. Doa ini tercantum dalam QS. Yusuf ayat 33:
قَالَ رَبِّ السِّجْنُ اَحَبُّ اِلَيَّ مِمَّا يَدْعُوْنَنِيْٓ اِلَيْهِۚ وَاِلَّا تَصْرِفْ عَنِّيْ كَيْدَهُنَّ اَصْبُ اِلَيْهِنَّ وَاَكُنْ مِّنَ الْجٰهِلِيْنَ
Qâla rabbis-sijnu ahabbu ilayya mimmâ yad’ûnanî ilaih, wa illâ tashrif ‘annî kaidahunna ashbu ilaihinna wa akum minal-jâhilîn.
Dia (Yusuf) berkata, “Wahai Tuhanku! Penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka. Jika aku tidak Engkau hindarkan dari tipu daya mereka, niscaya aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentu aku termasuk orang yang bodoh.”
2. Doa Memohon Wafat dalam Keadaan Islam
Setelah semua nikmat dan kedudukan diraih, Nabi Yusuf tidak lupa kepada Allah. Beliau menutup hidupnya dengan doa. Doa ini tercantum dalam QS. Yusuf ayat 101:
رَبِّ قَدْ اٰتَيْتَنِيْ مِنَ الْمُلْكِ وَعَلَّمْتَنِيْ مِنْ تَأْوِيْلِ الْاَحَادِيْثِۚ فَاطِرَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ اَنْتَ وَلِيّٖ فِى الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِۚ تَوَفَّنِيْ مُسْلِمًا وَّاَلْحِقْنِيْ بِالصّٰلِحِيْنَ
Rabbi qad âtaitanî minal-mulki wa ‘allamtanî min ta’wîlil-ahâdîts, fâthiras-samâwâti wal-ardh, anta waliyyî fid-dun-yâ wal-âkhirah, tawaffanî muslimaw wa alhiqnî bish-shâlihîn.
Ya Tuhanku, sungguh, Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kekuasaan dan telah mengajarkan kepadaku sebagian takwil mimpi. (Wahai Tuhan) pencipta langit dan bumi! Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan muslim dan gabungkanlah aku dengan orang-orang saleh.
Hal yang Tidak Dirinci dalam Al-Quran
Agar kisah ini tetap bersandar pada sumber yang kuat, perlu dipahami bahwa Al-Quran dan hadis sahih tidak merinci beberapa hal berikut:
- Nama istri Al-Aziz. Nama “Zulaikha” yang beredar berasal dari riwayat, bukan dari Al-Quran, yang hanya menyebutnya “istri Al-Aziz”.
- Nama Al-Aziz dan identitas raja yang memerintah. Al-Quran menyebut penguasa pada masa Yusuf dengan “malik” (raja), bukan “Fir’aun”.
- Usia Nabi Yusuf saat dibuang ke sumur, lokasi sumur, dan lama beliau berada di penjara. Al-Quran hanya menyebut “beberapa tahun” (QS. Yusuf: 42).
- Nama kesebelas saudara Yusuf. Nama Bunyamin dan lainnya berasal dari riwayat.
- Wujud “burhan Rabb” (bukti dari Tuhan) yang diperlihatkan kepada Yusuf (QS. Yusuf: 24). Para ulama menjelaskan dengan berbagai pendapat.
- Tahun wafat dan lokasi makam Nabi Yusuf.
Rincian lain yang beredar di buku atau media, seperti kisah cinta Zulaikha kepada Yusuf atau perubahan kehidupannya setelah itu, umumnya berasal dari riwayat Israiliyat yang tidak bisa dipastikan kebenarannya. Karena itu, Kisah Islamipedia hanya menegaskan apa yang disebut Al-Quran dan hadis yang sahih.
Kesimpulan
Kisah Nabi Yusuf AS mengajarkan kita tentang kesabaran, kejujuran, menjaga kehormatan diri, dan kemuliaan memaafkan. Meski melewati banyak ujian, yaitu dibuang, difitnah, dan dipenjara, Nabi Yusuf tetap sabar dan tawakal kepada Allah. Pada akhirnya, Allah mengangkat derajatnya dan mempertemukannya kembali dengan keluarga. Allah menutup Surah Yusuf dengan pesan dalam QS. Yusuf ayat 111 (potongan ayat):
لَقَدْ كَانَ فِيْ قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۗ
Laqad kâna fî qashashihim ‘ibratul li-ulil-albâb.
Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang yang mempunyai akal.
Semoga kita dapat meneladani kesabaran dan keteguhan beliau dalam menghadapi setiap ujian hidup.
Wallâhu a’lam bish-shawâb.





1 komentar